Topbar widget area empty.
Khasiat Sawo Mbah Durip Pohon Sawo Tampilan penuh

Khasiat Sawo Mbah Durip

Cerpen Muhamad Pauji

 

 

Kalau Anda ingin bertemu Mbah Durip, datang saja di pertigaan Desa Jombang, Kota Cilegon, pada sore hari sekitar jam empat hingga jam enam magrib. Di sana ada warung kopi milik Pak Salim Kumis langganannya, yang tetap buka hingga larut malam. Bila Anda menemukan lelaki tua dengan jenggot putih, mengenakan sarung dan kaos oblong, dengan kopiah hitam yang sudah lusuh, tidak salah lagi dialah Mbah Durip.

 

Tidak terlalu penting untuk diperdebatkan apakah ‘Mbah Durip’ itu yang dimaksud dalam salah satu tokoh novel Perasaan Orang Banten. Yang jelas dari gestur dan gerak-gerik tubuhnya sepertinya mirip atau hampir sama. Tapi orang-orang yang berlangganan di warung kopi itu sering memanggilnya Mbah Sawo, dikarenakan dialah pemilik pohon sawo ajaib yang konon tak pernah mempan ditebang untuk pelebaran jalan menuju komplek perumahan mewah di daerah Lingkar Selatan. Konon, dua buah beko pernah nyungsep di sekitar itu, dan yang satu masih dibiarkan berkarat bagaikan onggokan besi tua yang tak terawat.

 

Kalau ada orang bertanya mengenai umurnya, semua orang akan geleng kepala. Ada yang mengatakan sembilanpuluh, seratus, atau lebih dari seratus tahun. Tapi kalau Anda bertanya langsung kepada beliau, jawabannya justru makin membingungkan, “Saya pernah ikut perang di jaman Belanda, bahkan sewaktu tempur melawan Jepang saya diposisikan di baris depan.”

 

Sore itu, ketika saya coba mencari tahu keberadaannya, rupanya ia masih hidup dan sehat walafiat. Hingga menjelang magrib, mulutnya komat-kamit tak henti-henti menceritakan berbagai warna-warni sejarah Indonesia, mulai dari kedatangan Sultan Hasanudin di pantai utara Banten, perlawanan para kiai dan jawara melawan Belanda, hingga ke soal jimat-jimat ajaib untuk mengusir pendudukan Belanda dari bumi Indonesia. Ia menunjukkan peta lokasi di Banten Selatan yang konon tempat bertapa atau munajatnya para wali. Juga bercerita panjang-lebar tentang perlawanan Kiai Wasid dan para santrinya melawan Belanda.

 

Sambil mengepulkan asap rokoknya, dan sesekali menghirup kopi pahit dari atas meja, ia bicara cukup fasih tentang seluk-beluk perpolitikan Indonesia. Penciumannya cukup tajam ketika mengendus partai X yang bersengketa dengan partai Y, kemudian dimanfaatkan oleh partai Z. Ia masih juga mengomentari berita yang cukup aktual mengenai ketua partai Z yang sungkem dan minta doa pada kiai, tapi keesokannya kepergok oleh para wartawan saat mendatangi kediaman Mbah Dukun di kaki Gunung Karang. Selain itu, Mbah Durip dikenal sebagai penikmat kopi yang peka dan jeli. Ia bisa menjabarkan secara rinci tentang rasa kopi, baik kopi Arab, Toraja, hingga kopi Bali. Tapi menurut dia, kopi di warung kopi Pak Salim Kumis tidak kalah nikmatnya. Di samping ditanam di daerah Rangkasbitung, kopi Pak Salim juga memiliki aroma yang khas pribumi, hampir mendekati cita rasa khas Bali.

 

Jika saya bandingkan dengan kenyataan sejarah yang saya pelajari, sebagian dari cerita-cerita Mbah Durip ada benarnya, meskipun ia tidak suka mengutip dalil, baik dari kitab suci maupun hadis-hadis nabi. Kalau ditanya perihal itu, jawabnya enteng saja, “Saya kan bukan penjual kitab kuning yang suka keliling ke mana-mana.”

 

Tapi secara pribadi, saya juga tidak asal percaya begitu saja ketika ia menyatakan bahwa Sultan Hasanudin-lah yang konon menanam pohon sawo ajaib di depan rumahnya. Ia merasa gusar dengan raut wajahnya yang memerah, ketika saya hubungkan semasa hidup Sultan Hasanudin antara tahun 1631 hingga 1670, yang berarti usia pohon sawo itu kisaran 350 tahun. Apakah ada jenis flora seperti pohon sawo yang mencapai usia sepanjang itu. Kalau tidak batang-batangnya yang keropos atau akar-akarnya yang habis digerogoti rayap hingga tumbang karena terlampau tua.

***

 

Lalu, apa yang membuat orang-orang mengagumi kesaktian Mbah Durip? Begini salah satu kisahnya. Suatu ketika, ada seorang pemuda petugas marbot yang tubuhnya tiba-tiba menghitam dengan borok-borok di sekitar punggung dan tengkuknya. Mulutnya menganga dan menyon seperti terjepit benda keras di sekitar rahangnya. Matanya melotot seperti menatap malaikat maut di hadapannya.

 

Ada orang mengira bahwa Tohir, nama petugas marbot itu, secara tiba-tiba terserang wabah virus Corona pada saat membersihkan masjid. Tetapi, kondisi tubuhnya jauh lebih parah dari sekadar terserang Corona, flu burung maupun SARS. Sudah sembilan jam ia mengerang kesakitan, hingga sebagian orang berbisik-bisik bahwa ia terkena semacam guna-guna, teluh maupun santet.

 

Setelah dipanggil oleh Pak RT setempat, Mbah Durip muncul. Ia menatap penuh kelembutan pada pemuda yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencekam membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan bau amis terasa makin menyengat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Mbah Durip mengeluarkan satu buah sawo dari tas kecilnya kemudian perlahan-lahan menyuapkan ke mulut si sakit. Para saksi mata menceritakan sesaat setelah cairan sawo tertelan. Tubuh Tohir tiba-tiba tersentak-sentak seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Lalu, cairan dahak mengental keluar dari mulutnya, bercampur dengan cacing dan belatung. Dua ekor lintah ditarik pelan-pelan dari duburnya, menyusul beberapa paku berhasil dikeluarkan, silet dan jarum hingga beberapa biji gotri dan peniti yang masih kelihatan baru dan mengkilat.

 

Sesaat Tohir menghela nafas dan merasa lega, bercucuran keringat seperti seorang ibu yang baru melahirkan. Mbah Durip menatap orang-orang yang menyaksikan dengan dahi mengkerut, kemudian menenangkan mereka dengan senyumnya yang khas. Setelah itu, keesokannya Tohir kembali segar bugar seperti sedia kala.

 

Kisah tentang Tohir bukanlah satu-satunya yang pernah disaksikan langsung oleh mata kepala Sodik. Keajaiban buah sawo dari pohon milik Mbah Durip sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jombang. Konon Mbah Durip juga pernah dimintakan bantuannya untuk mengangkat kapal yang hampir karam di pelabuhan Merak. Setelah memakan tiga buah sawo dia pun mengerahkan segenap tenaganya, membentangkan tangannya dari jarak jauh, sampai kemudian kapal itu oleng dan membalik seketika seperti sedia kala.

 

Sodik menceritakan kisah dramatik itu dengan penuh semangat. Adapun kisah mengenai ibu hamil yang bayinya tak mau keluar hingga 13 bulan, kemudian setelah dimakankan sawo tiba-tiba si jabang bayi menyembul keluar, itu mah sudah tak asing lagi bagi warga Jombang. “Pohon sawo itu ditanam langsung oleh Sultan Hasanudin. Setelah benihnya ditancapkan, pohon itu kemudian dirawat dan disirami setiap waktu oleh Nabi Khidir.”

 

Saking seringnya menyaksikan adegan-adegan yang dipertontonkan Mbah Durip, bahkan kisah mengenai Nabi Khidir itu pun ikut dipercayainya juga. Konon tiap selesai solat magrib, Mbah Durip sering didatangi Nabi Khidir untuk meminta izin merawat dan menyiram pohon sawo yang ditanam oleh sang Sultan tersebut.

***

 

Desas-desus mengenai kesaktian Mbah Durip lama kelamaan terendus juga oleh Pak Aryadi, pimpinan perusahaan tempat Sodik bekerja sebagai sopir pribadi. Sudah bertahun-tahun malang-melintang di dunia usaha, Pak Aryadi merasa bosan dan jengah juga. Kali ini, ia mencoba mencari peruntungan di dunia politik, ingin mencalonkan diri sebagai walikota, dan Sodik pun diperintahkan menjadi salah satu kroni atau  kaki-tangannya.

 

“Sodik, besok pagi kamu jangan sampai bangun kesiangan. Pokoknya pagi-pagi jam enam harus segera berangkat ke rumah Mbah Durip. Bawa mobil Bapak yang kuning itu!”

“Mau ngapain, Pak?”

 

Wajah Pak Aryadi tak bisa menyembunyikan kepanikannya, hingga membuat Sodik menjadi bingung. Kabarnya, Jumat pagi itu Mbah Durip berjanji akan memberikan tiga buah sawo, yang serta-merta harus dimakan Pak Aryadi sebelum waktu pencoblosan tiba. Hari itu Pak Aryadi harus segera meluncur untuk mengadakan rapat konsolidasi bersama pimpinan partai pendukung. Ia diantar oleh sopir lainnya, sementara Sodik diperintahkan untuk segera mengambil sawo itu ke rumah Mbah Durip.

 

Sodik paham betul bahwa tiga buah sawo itu adalah perkara yang teramat penting bagi Pak Aryadi. Namun yang jadi masalah, sejak majikannya itu terjun ke dunia politik dan mencalonkan walikota, suasana perusahaan menjadi teramat tegang. Sudah bertahun-tahun menyopiri majikannya, Sodik merasakan betul perubahan yang tidak mengenakkan itu. Secara pribadi ia sangat keberatan majikannya terjun ke kancah politik. Banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Kadang kejengkelan itu terlontar langsung dari mulutnya, meski majikannya berusaha bersikap demokratis pada keluhan anak buahnya.

 

”Sodik, kamu harus paham dong, kalau mau cari keuntungan, di negeri ini tidak cukup menjadi pengusaha. Karena itu, kamu harus maklum kalau Bapak ajak wara-wiri ke sana kemari. Bagaimanapun, Bapak harus dekat dengan partai, supaya nantinya ikut kebagian juga. Orang-orang politik itu sudah melebihi pengusaha cara berpikirnya. Mereka juga jeli dalam soal keuntungan, dan harus dapat bagian dari setiap proyek yang dianggarkan. Sebelum proyek berjalan, uang muka harus tersedia di depan mata. Sedangkan keuntungan pengusaha yang cuma sedikit, juga harus dialokasikan untuk setor ke partai. Kalau tidak begitu, bagaimana mau menang tender dan hellips?

 

Sodik manggut-manggut, meski hanya sedikit ia mampu menangkap omongan majikannya yang ngalor-ngidul itu. Masih kurang puas melihat rautmuka Sodik, Pak Aryadi makin mempertegas ucapannya, “Tak usah khawatir, Sodik, bagaimanapun Bapak ini hanya menjalankan amanat, hanya menjalankan tugas. Bapak kan hanya dicalonkan oleh partai-partai itu. Jadi, kalau nanti Bapak menang, pada dasarnya itu anugerah buat semuanya… termasuk kamu sendiri yang bisa Bapak posisikan sebagai kader partai nomer satu….”

 

Tambah bingung saja Sodik menangkap omongannya itu. Kader partai nomer satu? Apa yang dia maksud? Sementara, membayangkan banyaknya kader partai yang bermasalah, saling tengkar bahkan adu jotos berebut posisi dan kedudukan, sudah membuatnya ogah berurusan dengan dunia politik.

***

 

Setelah penghitungan suara resmi diumumkan, semua keluarga besar, para kroni dan tim sukses pendukung Pak Aryadi bersorak-sorai gembira ria. Istri Pak Aryadi didampingi ratusan ibu-ibu jamaah pengajian, ikut menari-nari kegirangan, kemudian beristighfar dan sujud syukur bersama-sama.

 

Tinggal Sodik yang kebingungan sendiri, duduk-duduk di pojokan dengan rautmuka hambar tanpa ekspresi. Para tim sukses tiba-tiba meneriakkan yel-yel, “Pak Aryadi Walikota! Pak Aryadi Walikota! Hidup Pak Aryadi!!” Dan semuanya ikut bersorak-sorai menyambut teriakan itu, kecuali Sodik tetap diam mematung.

 

Semua orang menyalami Walikota Aryadi dan Ibu Walikota sambil menyatakan selamat, meski kemudian Pak Walikota bertanya-tanya perihal sopirnya yang setia, Sodik, di manakah beliau?

 

“He! Kenapa kamu bengong begitu?” Walikota Aryadi menepuk pundaknya keras-keras, “Kamu tidak suka Bapak menang pemilu, ya?”

 

Sodik sedapat mungkin tersenyum. Persoalannya, ia bukannya tidak suka majikannya menang. Ia hanya heran, kenapa majikannya itu bisa menang?

”Nanti sore kamu antar Bapak ke rumah Mbah Durip, karena Bapak akan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas pemberian sawo itu. Selain itu, tentu saja Bapak sudah mempersiapkan amplop khusus sebagai tanda terimakasih, paham kan?”

“Iya, Pak.”

 

Sodik mengangguk dengan lesu. Tatapan matanya masih terbengong-bengong. Ia masih teringat beberapa hari lalu, ketika menyantap tiga buah sawo pemberian Mbah Durip sambil menyetir mobil. Sementara, sawo yang dimakan Pak Aryadi beberapa jam sebelum masa pencoblosan, telah dibelinya dari pasar lama di daerah Jombang Wetan.

 

Muhamad Pauji. Cerpenis dan kritikus sastra, juga pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa

 

Photo by Lukas Hartmann from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*