Topbar widget area empty.
Kopi Pekat Lanang kopi pekat lanang Tampilan penuh

Kopi Pekat Lanang

Cerpen Sasti Gotama

 

 

 

Lanang.

 

Di antara tiga belas dokter di ruangan itu, ada satu yang telah membunuh ayahku. Sebelum menerobos masuk, kukatakan pada  dokter lelaki bertelinga lebar yang menahanku saat masuk ruang pertemuan, aku telah membubuhkan racun di makanan dan minuman mereka. Akan kukatakan, di mana telah kutaburkan, asalkan mereka mengizinkanku bicara.

 

Di ruang yang terlalu terang ini,  semua—orang-orang, dinding-dinding, lampu-lampu–terlihat putih menyilaukan.  Kakiku gemetaran dan  air seniku protes minta dikeluarkan.  Seharusnya aku tak perlu takut berdiri di depan mereka. Bukankah kami sama-sama manusia?  Perkara otak, kupikir aku tak kalah. Jika aku punya uang, tentu enam tahun ke depan, aku akan mengenakan jas putih yang sama. Tapi saat ini, paling tidak, aku berada di tempat yang menjadi impianku, walaupun berbeda seragam. Seragamku tak putih, tetapi biru, dan senjataku bukan suntik tapi pel dan sapu.

 

Kutarik napas panjang. “Saya Lanang.  Ayah saya meninggal tadi malam.”   Sebelas orang menatapku lekat-lekat, sedangkan dua sisanya terkantuk-kantuk di kursi belakang, seolah perihal racun tak sepenting jatah tidur yang bisa dicuri pagi ini.

 

“Ayah saya masuk UGD dua malam lalu. Sudah dua hari sesak. Awalnya, seminggu lalu ia meriang, lalu demamnya semakin parah, ia batuk tak henti-henti. Lalu yang saya takutkan terjadi. Napas ayah tersengal-sengal, seperti mujair yang terlempar keluar dari empang.” Dokter gemuk berambut botak menggeliat di ujung ruangan. Tangannya terentang ke atas. Dokter kurus berambut perak malah sudah tertidur sambil bersedekap di kursi belakang.

 

“Rumah sakit ini, yang selalu saya sikat lantainya, bukanlah rumah sakit pertama. Saya terlalu takut membawanya ke sini. Saya tahu, biaya di sini mahal. Saya bawa ke rumah sakit di dekat pasar. Namun, ayah saya ditolak, tak ada alat kata mereka. Saya bawa ke rumah sakit di dekat kantor pos pusat. Sama saja, ayah saya ditolak, dan disarankan memeriksakan diri ke puskesmas. Jika nanti ternyata ayah layak diperiksa, akan dijadwalkan pemeriksaan oleh dinas kesehatan. Ayah saya serupa kompor mbleduk yang dilempar ke sana kemari. Padahal ayah sudah pucat dan napasnya cepat. Jadi, saya nekat membawa ayah ke sini.” Kebelet pipisku mendadak lenyap. Aku seperti disusupi arwah Gajah Mada yang hendak mengucap sumpah palapa.

 

“Seorang perawat yang mengenal saya segera menyambut ayah. Ayah segera mendapat perawatan dan saya sedikit bernapas lega. Tetapi, salah seorang dari Anda menyakiti hati ayah, juga saya. Iya, itu Anda, dokter Syahira.”

 

Kudengar suara derit kursi bergeser. Yaitu kursi yang diduduki dokter Syahira, di sayap sebelah kiri ruangan. Ponselnya jatuh dan ia membungkuk mengambilnya, hingga aku tak bisa melihat matanya. Kupikir, ia sengaja agar tak perlu menatap mataku.

 

“Walaupun Anda berada di balik baju hazmat, saya sangat mengenali mata Anda yang sewarna badam. Saya sering mengaguminya diam-diam saat Anda memeriksa pasien gawat darurat. Apakah Anda ingat, Anda menanyakan apakah ayah saya tetap nekat keluar rumah di musim pagebluk ini. Apakah ayah saya begitu egois, tak memikirkan diri sendiri, keluarga, atau tetangga. Dengan tidak berada di rumah, ayah saya tidak hanya bisa tertular, tapi menularkan ke orang-orang di sekitar. Dokter, kadang, di balik perbuatan yang egois, ada alasan-alasan yang sama sekali tak egois. Ayah saya berdagang roti bakar di alun-alun kota. Pagebluk ini tak hanya mengancam kehidupan, tapi juga penghidupan. Penghidupan kami mati bahkan sebelum kehidupan kami padam. Gaji saya hanya cukup membayar kontrakan, dan ayah saya yang mengais rejeki untuk makan.”

 

Sekarang, ia menoleh ke arahku. Dokter cantik bermata badam itu tak bisa lagi menyamarkan kegugupan dengan menjatuhkan barang.  Aku mendekat ke tempat ia duduk. Baru kali ini aku berani menatap wajahnya lekat-lekat.

 

“Saya, atau ayah saya, sepenuhnya paham pertanyaan Anda. Tapi saya rasa, Anda yang perutnya selalu penuh terisi makanan,  tak akan mampu memahami kami yang sering terpaksa berpuasa. Bagaimanapun, saya berterima kasih, berkat Anda, ayah saya bisa dimasukkan ke bangsal isolasi. Saya tak bisa mendampingi ayah yang berjuang sekuat tenaga. Dokter Hanafi telah menjelaskan pada saya, bagian bawah paru-paru ayah sekusam pantat gelas.”

 

Kualihkan pandangan ke dokter botak gemuk di bagian depan. Keringat sebesar biji jeruk bermunculan di dahinya, dan ia usap berulang-ulang dengan saputangan. Bukan berarti ia sedang gugup, tapi memang sehari-hari seperti itu. Aku mengenali penghuni rumah sakit ini seperti aku mengenali ujung sikuku sendiri. Kupandangi ia segarang pandangan macan kelaparan.

 

“Tapi Dokter Hanafi, yang membunuh ayah saya bukan lidah dokter Syahira, melainkan keputusan Anda. Saya mendengar dengan jelas, apa yang Anda  perdebatkan dengan dokter Tohari di ruang triase: hanya tersisa satu ventilator, sedangkan ada dua pasien sesak yang membutuhkan: satu ayah saya, satu pasien yang baru datang. Saya tidak bodoh. Dua tahun di rumah sakit ini cukup membuat saya tahu apa fungsi alat itu.  Pasien yang baru itu memang tak semuda saya tapi tak setua ayah saya. Tubuhnya kekar dan ia tampak terpelajar.”

 

Kudekati tempat duduk dokter Hanafi. Dari posisiku, bisa kulihat puncak kepalanya yang tandus. “Dokter Hanafi, saya tahu pasien ini orang penting dan punya banyak uang. Tetapi ayah saya datang lebih dahulu. Ayah saya hanya ada satu-satunya. Ayah saya segalanya bagi saya. Tapi Anda dokter Hanafi, memilih Ayah saya untuk mati. Anda putuskan, ventilator akan dipasang bagi pasien yang baru datang.  Ayah saya memang sudah tiada. Semalam ia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal, dan tanpa sempat saya ucapkan selamat jalan. Malam itu, saya mendengar kesunyian yang bingar. Pastinya ayah saya kesepian, dan saya tak ingin ia kesepian. Saya harap Anda menemani ayah saya di akhirat. Apakah Anda tak merasa ada yang aneh dengan kopi Anda?”

 

Aku menikmati perubahan wajah dokter Hanafi yang lambat laun menjadi sepucat mayat. Mungkin jantungnya berdentam-dentam, mungkin kandung kemihnya bocor, dan air seni mengucur menodai sepatunya yang selalu mengkilat. Mungkin ia akan menyesali keputusannya malam itu.

 

Pikiranku yang bingar sedari tadi, dengan ucapan-ucapan yang tak mungkin berani kuucapkan, hening tiba-tiba. Di depan pintu, kakiku terpatri pada lantai. Pertemuan laporan pagi sudah usai. Dokter-dokter berjas putih itu keluar satu persatu melewatiku yang masih menggenggam sapu. Dokter Syahira, dengan matanya yang cokelat badam, lewat tanpa memandangku. Dokter Hanafi masih duduk terkantuk-kantuk. Kantung matanya bahkan memiliki kantung mata. Ia lebih terlihat seperti kuskus, kecuali puncak kepalanya yang semengkilat pantat bayi. Ia mendongak dan memandangku dari balik jendela. Dan aku masih terdiam di depan pintu, masih tetap menggenggam sapu.

***

 

 

Hanafi

 

Pemuda itu, entah kenapa mematung di depan pintu. Pandangannya kosong seperti penderita demensia. Mm, kalau tak salah namanya Lanang. Bukankah ayahnya baru saja meninggal tadi malam? Harusnya ia tak masuk dan memulai isolasi diri. Atau jangan-jangan saya salah orang?

 

Malam tadi benar-benar jahanam. Saya lebih mirip burung hantu dari pada spesialis paru. Atau mungkin seorang jagal.  Harus memilih sesuatu di saat tak ingin memilih itu benar-benar kondisi sialan.

 

Akhir-akhir ini seperti tsunami, pasien datang tak henti-henti. Ventilator hanya ada sebelas. Tadi malam hanya tersisa satu sedangkan ada dua pasien gawat. Yang satu, masih muda tanpa faktor komorbid, sedangkan ayah Lanang, sudah tua dan menderita diabetes. Ini benar-benar kondisi menyebalkan. Seperti saat simulasi korban tsunami tahun lalu. Dalam waktu singkat, harus memilah mana yang pasien hijau, kuning, atau merah. Yang gawat, yang golongan merah, harus dipilih mana yang mempunyai kesempatan hidup lebih besar. Ini nyawa manusia, tapi dianalisa seperti mencit laborat.

 

Saya harap, ayah Lanang  bisa bertahan, paling tidak sampai ada ventilator baru tersedia. Jika ventilator saya gunakan untuk ayah Lanang, saya bisa kehilangan kedua-duanya. Kondisi ayah Lanang terlalu berat. Harusnya ini sudah konsekuensi pilihan, tetapi saya merasa seperti malaikat pencabut nyawa. Mungkin bukan malaikat, tapi setan. Saya paling benci menangis, tapi tadi malam, saya membuat perkecualian. Saya berduka untuk kematian hati nurani saya. Saya tak ingin hati saya mati, tapi kondisi mungkin membuat ini tak terelakkan lagi. Saya tak bisa tidur sama sekali. Bukan hantu ayah Lanang yang menggentayangi, tapi perasaan bersalah yang menghujat tanpa henti. Jika begini terus, saya bisa mati.

 

Tanpa perasaan bersalah itu pun, kami sudah perlahan mati di sini. Tanpa persediaan APD yang cukup, hidup kami serupa lotere. Mau sakit ringan, sedang, atau mati sekalian? Dadu sedang berputar liar.

 

Entah karena terlalu memikirkan, atau mungkin saya terserang ansietas,  badan saya meriang dan dada terasa sesak. Mungkin hanya kecemasan saja. Saya butuh kopi. Apakah lelaki di depan pintu itu benar-benar Lanang? Kopi buatannya pas, selalu enak. Mungkin bisa kuminta ia membuat secangkir kopi pekat. Kopi yang teramat pekat.

 

Sasti Gotama adalah seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Beberapa cerpennya dimuat di  media massa, cetak maupun on line. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity.

 

Foto TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*