Topbar widget area empty.
Sore Itu, Kami Kedatangan Tamu cover tamu dari masa lalu Tampilan penuh

Sore Itu, Kami Kedatangan Tamu

Cerpen Anec Fadia

 

 

 

Sore itu seperti biasanya, setelah memandikan Tania, anak semata wayangku yang pipinya lucu, aku mengajaknya bermain di halaman rumah yang cukup luas bagi anak kecil yang suka berlari-lari. Sambil lalu memetik bunga, dan bahkan dedaunan, dari kejauhan dia memanggil “Mama… Mama… Ini bunga apa?” atau “Mama…Mama…ada cacing.” Hampir selang dua menit, Tania selalu memanggilku dari kejauhan dengan kekhasan anak-anak. Aku menanggapinya dari tempatku atau langsung menghampirinya. Ketika dia minta kugendong, seorang wanita mengucap salam. Wanita itu terlihat asing, tetapi sekilas aku seperti pernah melihat wajahnya.

 

“Pak Andi ada?” tanyanya.

“Sebentar lagi datang. Kalau tidak terburu-buru, tunggulah.”

 

Dia tersenyum dan kupersilakan dia menunggu di ruang tamu. Tania bermain di kamarnya sementara aku menyiapkan minuman bagi wanita itu. Menuju ruang tamu, aku menerka-nerka siapakah wanita yang asing, tetapi seperti pernah kulihat wajahnya itu?

 

“Kolega suami saya, ya?” aku menanyakannya. Dia hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaanku. Aku merasa tidak nyaman sebab kemudian aku tidak tahu apa yang hendak dibicarakan. Untunglah Andi, suamiku, datang menyelamatkan keadaan. Aku menyalaminya di pintu.

“Ada tamu untukmu, wanita yang cukup cantik tapi aneh.” bisikku di telinganya. Ia mengarahkan pandangannya ke belakang punggungku dan aku merasakan keterkejutannya.

“Maria?”

 

Kali ini aku yang seperti tersetrum. Maria adalah wanita di masa lalunya. Andi menatapku, aku yakin dia melihat mataku yang nyaris berlinang.

“Aku ke kamar. Layani tamumu dengan baik.” ucapku lalu berlalu.

….

 

Tania memanggil “Mama… Mama…” saat aku masuk kamar, tapi tak kuacuhkan. Dia juga tidak peduli dan kembali asyik dengan dunianya yang penuh kesenangan. Aku berbaring di kasur, serta merta, air mataku meleleh.

 

Banyak kemungkinan yang aku pikirkan. Apakah mereka sedang memanjakan kenangan di ruang tamu keluarga kami? Mungkinkah rasa hangat masih menjalari dada mereka saat saling bersitatap? Apakah Andi masih bergetar hatinya saat melihat Maria?

 

Ada yang lelaki tidak tahu, ketika perempuan cemburu, mereka seperti kehilangan arti dirinya. Kehilangan arti diri berarti kehilangan arti hidup. Itu artinya, kehilangan segala hal.

 

Di tengah ribut-ribut dalam kepalaku, Andi masuk kamar dan mengatakan bahwa seorang tamu ingin menemuiku. Menyembunyikan mataku yang basah, aku bertanya “Siapa?”

“Deny.” ucapnya ketus.

 

Aku menyusulnya ke ruang tamu. Aku mengambil posisi di sebelahnya. Di hadapan kami, Maria dan Deny duduk bersisian. Kami berdua tengah berhadap-hadapan dengan masa lalu. Aku tidak tahu apa yang hendak diminta mereka dalam kehidupan kami saat ini. Tania yang semenjak tadi bermain di kamar, menerobos duduk di antara kami dan memanggil “Mama…Papa..” dengan keriangannya. Dia bercerita apa saja yang telah dimainkannya dari tadi, mengisi keheningan ruangan ini dengan keceriaannya. Aku mengelus rambut Tania yang terurai.

 

Ada kesadaran yang menghentakku. Di luar jendela, senja mulai muram. Di dalam sini, masa lalu telah layu. Bunga-bunga waktu terus tumbuh dan berganti. Memetik bunga yang layu sama halnya dengan menyemai kesia-siaan.

 

Selepas kepulangan mereka, Andi nyaris tidak berbicara apa-apa. Selebihnya mukanya terlihat masam sepanjang malam.

 

Aku tidak tahu, menjelma apakah cemburu dalam diri laki-laki?

 

 

Annuqayah, 07-08 Januari 2020

 

Anec Fadia. Nama maya dari Nur Fadiah Anisah. Saat ini bergiat di Forum Literasi Santri (Frasa) PP. Annuqayah Lubangsa Putri.

 

Photo by Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: