Topbar widget area empty.
Topeng cover topeng Tampilan penuh

Topeng

Cerpen Andika Widaswara

 

 

Mungkin memang beralasan jika orang di kantor memanggilnya Badut. Selain karena nama aslinya memang Baduti, semua orang sudah tahu pun terlalu hapal bahwa Badut adalah seseorang yang selalu memakai topeng. Begitu datang di kantor hingga waktu pulang ia selalu memakai topeng. Orang-orang tak kaget lagi karena hal itu sudah ada sejak lama. Kalau ada yang mencarinya, orang-orang kantor pasti sudah langsung paham. Topeng sudah menyatu dengan dirinya. Sangat membekas di ingatan orang-orang kantor. Demikianlah, ia dikenal sebagai lelaki bertopeng. Kapan saja selalu bertopeng. Itu menurut orang-orang kantornya. Meskipun ia sendiri tak pernah sadar bahwa julukan seperti itu disematkan pada dirinya.

 

Yang setiap hari dilakukan Baduti memang adalah memakai topeng. Pagi, datang ke kantor sebelum menyapa orang-orang, ia langsung sibuk mencari-cari topeng yang tepat untuk mukanya. Ia menggeledah tasnya, terkadang membawa topeng baru. Beberapa ditinggalkan di laci kantor, bawah meja, almari, rak-rak terserak pula. Mencari topeng yang pas dan selalu memakainya, tak pernah lupa. Bahkan beberapa orang tak menahu wajah aslinya. Entahlah, mungkin ia tak percaya diri dengan wajahnya. Mungkin pula ada kerusakan wajah yang memaksanya selalu menutupi dengan topeng. Yang jelas ia selalu bertopeng, dan setiap kali topengnya tak sesuai ia langsung berganti topeng. Mungkin pula ia merasa wajahnya penuh kotoran, sehingga perlu ditutup topeng. Kadang baru memasang topeng sebentar, duduk sebentar, lalu sudah berdiri lagi, menuju toilet dan mengganti topengnya. Senyum-senyum di muka cermin.

 

“Mungkin ia memang kolektor topeng.” Tholib mencoba menerka-nerka saat berbicara dengan orang kantor.

“Atau barangkali ia merasa ingin selalu dipandang menarik.”

“Begitu?”

“Ya, mukanya mungkin berlepotan, makanya ia selalu memakai topeng. Yang penting khan tampang.”

“Ya, ya betul. Yang tampang yang selalu tampak.”

 

Begitulah orang-orang di kantornya selalu menggunjingkan Baduti karena selalu berganti topeng di berbagai kesempatan. Mencari gambar topeng yang cocok untuk ditunjukkan di hadapan atasannya. Ia pintar mencari wajah topeng yang sesuai dengan permintaan atasannya. Ia selalu becermin begitu selesai memasang topeng di wajahnya. Demi wajah yang tepat disajikan untuk atasannya. Wajah yang selalu ingin tampak menarik, meski demi keselamatan dan kehormatan wajah di hadapan atasan itu pula ia harus selalu memakai topeng.

 

Jika ditelusuri lebih dalam lagi, orang-orang kantor sudah lupa sejak kapan Badut memakai topeng. Banyak orang yang mengira itu adalah kebiasaan sejak lahir. Mungkin pula sejak ia bekerja di kantor ini. Entahlah, tak ada yang tahu pasti. Tetapi dalam pandangannya wajah yang dihadapkan atasannya memang harus berubah-ubah. Sesuai keinginan atasannya. Ia selalu mencari-cari topeng muka yang pas dengan keinginan atasan. Apapun itu selalu demi atasan. Bahkan suatu kali ia rela mengecat wajahnya hitam pekat, hanya demi menuruti keinginan atasan. Orang kantor dibuat keheranan, namun pada akhirnya tak memedulikannya lagi. Tak jarang pula ia memakai topeng dengan wajah temannya kantor. Persis dengan muka temannya. Ia pakai saat menghadap atasan, ia baik-baikkan dirinya, ia sanjung-sanjung setinggi langit. Atasannya tersenyum penuh makna, mengangguk-angguk puas. Lalu dengan menggunakan topeng lain ia beraksi lagi. Manis nian mulutnya. Lincah pula gaya bicaranya. Di hadapan atasan ia jelek-jelekkan temannya, ia habisi dengan segala cara. Atasan marah, kariernya pun segera terangkat.

 

Saking seringnya berganti topeng, ia sendiri meragukan wajah aslinya. Ia sudah lupa, bahkan tak mau tahu, yang penting adalah wajah yang sesuai keinginan atasannya. Persetan dengan pandangan dan gunjingan teman sekantor. Bahwa ia selalu ingin selamat. Selamat dari murka atasan, selamat untuk kariernya, dan selamat demi kesuksesannya. Terpenting untuk mendapatkan simpati dan pujian dari atasannya. Semua jerih payah temannya diakui sebagai kesuksesannya. Ia unggah di status, di grup whatsapp kantor, tak pernah terlewat. Ia tampilkan segalanya tampak sempurna. Setiap kehebatan adalah miliknya. Ia bangga dengan memamerkan pada dunia. Ia bangga dan selalu mendapat ucapan selamat dari atasannya.

 

Lain lagi dengan kegagalan, program yang tak berhasil. Tak sesuai dengan rencana atau pun yang tak berjalan dengan target yang dibebankan padanya. Ia lantas memakai topeng lain, mematut-matut diri di muka cermin, menghadap atasan dengan segera. Dielapnya sepatu atasan, dijilatnya hingga bersih. Ia hadirkan narasi dan segala bukti, lengkap. Kata-katanya penuh gula. Tenang pada mulanya, lalu dengan menggebu ia tunjuk-tunjuk muka temannya. Begitulah, maka segeralah temannya mendapat panggilan dari atasan. Diperingatkan, dimaki-maki, terkadang malah dilakukan di muka umum. Maka teman kantor yang menanggung semua, sedangkan ia sendiri aman dari amarah atasan. Lalu dengan menggunakan topeng lain ia dekati temannya itu, ia ajak berbincang, menjelek jelekkan atasannya. Ia pandai mereka-reka cerita, pintar membual. Ia biasa merangkul teman untuk membinasakan.  Sayang hal itu belum dipahami sepenuhnya oleh orang-orang kantor. Padahal semua hanya tipu dayanya. Begitu seterusnya hingga kedudukannya selalu naik. Ia menenempati jabatan penting di kantor. Ia telah membawahi beberapa orang, memiliki wewenang untuk selalu menyuruh dan mendikte teman. Semua karena hal itu, begitu lihainya ia memakai topeng.

 

“Ini sudah tak bisa diterima lagi. Kita hanya diperalat!” Tholib, berseru pada temannya kala berbincang di kantin kantor waktu istirahat siang.

“Betul, kita apakan orang ini?” seorang lagi menimpali.

“Tak ada gunanya, kita tetap akan kalah. Sudahlah, biarlah ia dengan dunianya sendiri. Dunia kepalsuan yang disembunyikan di balik topengnya.”

“Tidak bisa. Ini harus dilawan?” Tholib semakin berapi-api.

“Percuma, kita kalah posisi. Hanya akan menambah sakit hati. Belum lagi amarah atasan kita. Selesai nasib kita.” Sejenak diam. Orang-orang sibuk mencari akal.

“Saya akan mencuri dan memakai topengnya.”

“Hah… Serius?”

“Ya. Kita tak bisa hanya diam dan menerima nasib!”

 

Sesuai dengan rencana Tholib sengaja pulang terlambat sore itu. Menunggu kantor sepi dan tak berpenghuni. Segera dilakukan aksinya. Dicarinya tumpukan topeng di rak maupun almari Badut. Dalam samar dan karena tergesa-gesa Tholib tak sempat memilih wajah topeng yang paling tampan. Sore itu juga Tholib mengejar Ir Baduti. Senyampang belum menjauh dari kantor. Dicarilah hingga ketemu. Dipakailah topeng yang biasa ditempelkan pada muka Ir. Baduti. Begitu ketemu, diamuklah Ir. Baduti. Beberapa tinju mendarat telak di muka. Bogem mentah pun berhamburan. Tholib berusaha membuat luka di wajah Ir Baduti. Biar tak bisa lagi ditempeli topeng. Biar kelihatan segala keburukan dari wajahnya yang asli. Diamuknya dengan penuh amarah. Semakin Ir Baduti menderita, semakin bersemangat Tholib menghajarnya. Tholib melakukannya dengan kesadaran penuh. Tholib sadar bahwa dengan memakai topeng yang biasa dipakai Ir Baduti, orang tak akan mengenalinya. Termasuk Ir Baduti yang kini dihajarnya hingga babak belur.

 

Esoknya kantor ramai. Beberapa orang sibuk, seperti tergesa-gesa menyelesaikan tugas. Sebagian menata panggung di aula. Seperti ada hal penting dan besar terjadi di kantor. Benar demikian, atasan memanggil seluruh pegawai. Dikumpulkan semua di aula. Pengumuman penting disampaikan. Orang-orang kaget begitu atasan berbicara. Ternyata acara pemberian penghargaan, bahwa perusahaan ini merasa beruntung memiliki Ir Baduti. Dia orang yang sangat berjasa dan layak diberikan penghargaan. Ir Baduti telah menyelamatkan perusahaan dari pegawai yang berusaha melakukan tindakan makar. Ir. Baduti segera mengambil tempat, tak terlihat lagi mukanya yang lebam. Ir Baduti tersenyum puas menerima kalungan medali dari atasan. Pidato berapi-api disampaikan di mimbar. Orang-orang saling berpandangan, beberapa sibuk mencari-cari wajah Tholib.

 

“Kemana Tholib? Bukankah ia kemarin memakai topeng saat kejadian itu?”

“Betul, bagaimana ia bisa ketahuan?”

“Iya, benar Tholib memakai topeng. Tapi dia lupa bahwa topeng yang dipakainya adalah topeng dengan mukanya sendiri. Topeng berwajah Tholib yang sering dipakai Baduti saat di kantor.”

“Hah…” Orang-orang kaget dan terbelalak.*

 

Ponorogo, 24 Maret 2020

 

Andika Widaswara,Penulis sehimpun cerpen Penempuh Sunyi,dan Air Mata Mengering di Tanah Basah. Tinggal di Perumahan Griya Kencana Mangkujayan No. 41. Ponorogo, Jawa Timur. Menyukai travelling dan fotografi. Kontak WA: 0812 4567 6030. Bisa ditemui via FB: Andika Widaswara dan IG : @andika_widaswara.

 

Photo by Ashutosh Sonwani from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: