Topbar widget area empty.
Membaca (Setungkul Benang) Serupa Pulang ke Kampung Halaman Setungkul Benang 2 Tampilan penuh

Membaca (Setungkul Benang) Serupa Pulang ke Kampung Halaman

Resensi Fajar Andika

 

 

Judul                           : Setungkul Benang  (Kumpulan Puisi)

Penulis                         : Ubai Dillah Al Ansori

Penerbit                       : Obelia Publisher

Tahun Terbit               : Maret 2018

Tebal                           : ix+79 hlm

ISBN                           : 978-602-50947-9-8

 

 

Antologi puisi yang ditulis oleh salah satu penyair muda Sumatra Utara yaitu Ubai Dillah Al Ansori ia adalah salah satu penyair muda Sumatra Utara yang sangat berprestasi dan pernah meraih berbagai penghargaan seperti juara III Resensi Ketika Mas Gagah Pergi (2016), Penulis naskah drama terbaik (2016), dan pernah menjadi 10 penulis puisi terbaik yang diadakan oleh pujangga Tasikmalaya. Masih banyak lagi prestasi yang diraih oleh penyair berdarah batak ini.

 

Ketika membaca puisi-puisi Ubai pertama sekali yang saya rasakan adalah kalau penyair ini selalu menuangkan sebuah kerinduan dalam puisi-puisinya dan penyair juga mampu merangkul hingga menarik para pembacanya secara lembut ataupun perlahan-lahan agar mampu memaknai puisi-puisinya yang tidak hanya dalam sekali baca. Namun penyair tersebut mampu menuangkan segala yang ia rasakan ke dalam tiap-tiap bait puisinya agar para pembaca terus menikmati dan terus mengulang-ulang untuk dapat memahami puisi-puisinya agar mendapatkan makna yang eksotis dan luar biasa yang terdapat di dalam larik maupun pada tiap-tiap baitnya.

 

Dalam penciptaan puisi-puisinya penyair begitu sering menggunakan pengungkapan perasaan atau suasana hati yang begitu kerap beliau gunakan dalam proses penciptaannya. Ketika saya membaca puisi-puisi Ubai seolah Ubai mampu menarik perasaan saya dan terus mengajak saya untuk hanyut dalam kenangan masa lalunya, seperti dalam puisi Sudah Lama Aku Menuju Halaman:

 

Sudah lama aku menuju halaman, belajar mengarungi sekitaran tanpa pernah bertengkar dengan pepohonan yang daunnya selalu gugur, sehabis membersihkan aku menuju belakang rumah. ada kolam yang menampung beratus kenangan tentang aku dan sisa air mata yang lekang, menjelang petang, kubayangkan ada yang pulang, melenggang dengan tenang tapi, yang tinggal hanya bayang-bayang.

 

Dalam puisi tersebut Ubai telah berhasil memaksa kepala dan perasaan saya atau mungkin indra perasa para pembacanya untuk bisa memaknai puisinya tersebut. Dengan membacanya berkali-kali, dan dalam puisi tersebut Ubai telah berhasil menceritakan sebuah kerinduan tentang kampung halaman yang begitu enak dan legit dengan gaya tutur yang begitu renyah ketika diresapi dan nikmati.

 

Puisi-puisi yang ditulis oleh Ubai membuat para pembacanya berusaha untuk terus ingin membaca dan mengingat setiap kejadian dan premis-premis yang ia ciptakan di dalam puisi-puisinya. Ketika membaca puisi Ubai kita tidak cukup dalam sekali baca atau sekali tafsir kemudian menemukan maknanya, tetapi di sana penyair seolah menyuruh kepala kita untuk bekerja keras dan harus berkali-kali memahaminya barulah kita dapat menemukan maknanya. Begitulah cara kerja seorang penyair untuk menyihir para pembacanya, maka secara tidak sadar Ubai telah mengajak para pembacanya untuk terus menikmati puisi-puisinya tanpa henti.

 

Dalam puisi-puisinya penyair tersebut tak hanya menuliskan tentang sebuah kerinduan, tapi ia juga menyuguhkan sebuah perpisahan. Seperti dalam puisi Sebelum Perpisahan: 

Pada siapa perpisahan ini kutitipkan, sedang matahari tegak tali, orang-orang menyempatkan diri berjemur di antara kenangan yang mulai gugur, sebelum sampai perpisahan, ceritakan sekilas tentang penat yang membumbung dalam ingatan atau yang berkeliaran dalam dada, ya, anak-anak putus sekolah, ibu mengurus luka dan ayah telah berduka. Barangkali sebelum berpisah, itulah sekilas tentang penat yang bersarang dalam ingatan.

 

Begitulah Ubai menceritakan sebuah kerinduan dan perpisahan pada puisi-puisinya. Dalam ke 70 puisinya Ubai tidak hanya menuliskan tetang kerinduan saja tapi banyak hal yang ia ungkapkan dengan cara tutur, pemahaman, hingga gaya bercerita yang begitu lembut. Seperti perpisahan, pengharapan, atau bahkan pengalamanya semasa kanak-kanak di kampung halaman. Dalam puisi-puisinya yang paling dominan ia tuangkan dan ia ungkapkan adalah sebuah kerinduan yang begitu banyak saya rasakan mungkin sekitar dua puluh hingga tiga puluh persen. Walaupun dalam pusi-puisinya bukan hanya tentang kerinduan. Tapi penyair muda tersebut mampu mengemas segala yang ia rasakan sehingga menjadi sebuah kerinduan yang mendalam, bahkan kerinduan yang tak kunjung usai.

 

Penyair tersebut telah mengemasnya dalam sebuah buku yang berjudul Setungkul Benang. Dalam bukunya ini penyair muda ini justru ingin menghidangkan puisi-puisi yang dia tulis untuk terus dinikmati oleh para pembacanya, sebab dalam membaca puisi-puisi Ubai pembaca tidak hanya sekali baca kemudian menemukan maknanya, tapi harus berkali kali barulah pembaca dapat menemukan makna sebenarnya. Maka dari itu penyair tersebut telah berhasil membuat para pembacanya tetap menikmati setiap puisi-puisi yang ia hidangkan.

 

Inilah ke 70 puisi-puisi karya Ubai Dillah Al Ansori, menjadi hidangan yang hangat bagi para pembacanya, dengan beberapa kelebihan dan kekurangannya dan segala rasa ia tumpahkan dalam bukunya yang berjudul Setungkul Benang. Penyair ini berhasil menjadikan puisi-puisinya untuk selalu dinikmati oleh para pembacanya.

 

Tembung, 2019

 

 

Fajar Andika lahir di Tembung 1996. Ia tercatat sebagai Alumni Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Tulisan-tulisannya dapat dijumpai di media-media masa cetak maupun online berupa puisi, cerpen, maupun resensi, ia juga tergabung dalam komunitas menulis FOKUS UMSU. Saat ini ia adalah seorang pengajar di SMP PUSAKA di kota tempatnya lahir, selain menjadi seorang pengajar ia juga aktif dalam bidang olahraga dan saat ini ia menjadi seorang pelatih beladiri pencak silat di sekolah tempatnya mengajar. Dikesibukannya yang lumayan padat ia selalu menyempatkan waktu untuk tetap bisa menulis dan ia ingin terus belajar dan tetap menulis hingga akhir hayatnya.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*