Topbar widget area empty.
Upaya Menafakuri Kesunyian cover Tempat Sunyi untuk Mengembara Seorang Diri Tampilan penuh

Upaya Menafakuri Kesunyian

Resensi Hendy Pratama

 

 

Judul : Tempat Sunyi untuk Mengembara Seorang Diri

Penulis : Fuaddin Asrori

Penerbit : Kuncup (Pelangi Sastra)

Edisi : Pertama, 2020

ISBN : 978-623-7283-49-2

Tebal : 195 hlm.

 

 

SAYA kenal Fuaddin Asrori sejak dulu, ketika kami hanya sebatas penyukai puisi—sebelum pada akhirnya menjadi penyair. Ada banyak hal yang menarik darinya, salah satunya, dia gemar nge-sunyi; dia hanya keluar rumah jikalau ada agenda tertentu—seperti kajian sastra yang diadakan oleh komunitas kami—selebihnya, dia memilih larut dalam kesunyian.

 

Bagi kebanyakan orang, memuja kesunyian ialah hal yang aneh; apa yang menarik dari berdiam diri di dalam rumah dan enggan bertemu dengan banyak orang? Namun, bagi saya dan Fuaddin Asrori, serta sejumlah penyair lainnya, kesunyian merupakan nikmat yang tak terdefinisikan oleh kata-kata, selain oleh medium sakral bernama “puisi”.

 

Puisi sendiri memanglah identik dengan kesunyian. Lebih lanjut, Joko Pinurbo (dalam esainya yang mengulas buku puisi ‘Alarm Sunyi’) memaparkan bahwa sunyi adalah cermin paling bening yang menampakkan apa yang terpendam dan bergejolak di pedalaman diri manusia. Hal tersebut lekat hubungannya dengan “perenungan”. Seseorang yang melakukan kontemplasi melalui sunyi, dapat dengan jernih memahami diri dan lingkungan tempat dia dilahirkan.

 

Sebelum mengulik lebih jauh tentang buku ini, ada baiknya saya menjelma seorang pengembara; menjelajahi rimba kesunyian dalam kepala Fuaddin Asrori. Dan sebagaimana umumnya pengembara, langkah saya tertambat pada gerbang bernama ‘Tempat Sunyi untuk Mengembara Seorang Diri’. Rupanya, penulis memaktubkan dua komponen sunyi dalam judul buku puisinya: “tempat sunyi” dan “seorang diri”. Selain mencari tempat sunyi, saya pun sebenarnya sudahlah sunyi sejak lahir. Lantas, bagaimanakah saya yang telah sunyi ini (“seorang diri”) mencari sesuatu yang sunyi pula (“tempat sunyi”)?

 

Seperti apa yang sudah saya duga, “sunyi” di mata kawan saya tersebut merupakan sebuah jalan melintang tanpa ujung yang telah dia jalani selama empat tahun (2015-2019), selama proses kreatifnya dalam menelurkan puisi-puisi. Pengembaraan mencari apa yang hilang dan apa yang (sejatinya) tak pernah ditemukan. Hal ini tertera dalam “Mukadimah”.

 

Bagi saya, menulis puisi tak ubahnya tarekat (jalan) dari upaya yang saya lakukan untuk berdamai dengan diri sendiri. Puisi seperti mengantarkan saya pada hening, menuju ruang yang jauh dari bising. Ruang sakral dan kudus untuk meletakkan segala kecemasan dan kegelisahan yang sering kali datang bertubi-tubi. (hlm. 3).

 

Segala macam kecemasan dan kegelisahan tersebut lebih dulu dipaparkan oleh Fuaddin Asrori pada awal-awal puisi, yang sekaligus sebagai penanda bahwa pada dasarnya, puisi-puisi dalam buku ini berkutat pada sejibun hal-hal yang tidak baik-baik saja. Untungnya, penulis memberi sinyal berupa hal baik yang barangkali dapat menunda jatuhnya air mata. Sinyal ini termaktub dalam puisi bertajuk ‘Kehidupan Terus Berlanjut’ dengan larik-larik sebagai berikut: Kupejamkan mata/ menarik napas/ lalu mengembuskannya (hlm. 46).

 

Dan agaknya, “sinyal lain” (mengenai segala yang tidak baik-baik saja) dimunculkan pada puisi berjudul ‘Cinta Hujan pada Tanah’—yang sekaligus mampu membikin air mata saya jatuh secara perlahan hingga menjelma jadi sebuah terusan: Kau hujan,/ aku tanah// Jatuhmu sementara,/ basahku selamanya (hlm. 164).

 

Dari beberapa puisi (dan “sinyal”) di atas, saya menyadari bahwa kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh dua hal yang kontradiktif: hal baik dan hal yang tidak baik. Fuaddin Asrori berusaha menggali apa yang baik baginya dan menimbun, atau meleburkan sesuatu yang tidak baik (sesuatu yang tidak baik itu telah dijelaskan pada bab Mukadimah, berupa kecemasan dan kegelisahan). Dan, kendatipun “hal tidak baik” itu kerap kali membuntuti, setidaknya kehidupan harus terus berlanjut sampai kapan pun.

 

Selebihnya, puisi-puisi dalam ‘Tempat Sunyi untuk Mengembara Seorang Diri’ lebih memaparkan “belantara kepala” Fuaddin Asrori beserta ekosistem empirisnya. Langkah saya menapaki lembah sunyi, tebing sunyi, rimba alam, kehidupan manusia, hingga yang sukar dijelaskan: cinta. Iya, segala hal tak pernah luput dari cinta; cinta manusia kepada manusia, cinta manusia kepada alam, hingga cinta manusia kepada Tuhannya.

 

Bahasa cinta esensinya ialah bahasa sunyi. Coba kita tilik pengembaraan saya pada puisi bertajuk “Menjadi Hening Masing-masing’ dengan larik-larik sebagai berikut: Urusan pemerintahan,/ mesti dipegang oleh yang merasa patut dan penting// Urusan perempuan,/ biarlah jadi keheningan masing-masing (hlm. 170). Dan, betapa cinta memanglah menjadi sesuatu yang sukar ditafsirkan, apalagi dijelaskan. Maka, biarkanlah sunyi yang bekerja.

 

Pengembaraan saya di “alam sunyi” terhadap upaya mencari cinta atau kekasih, pada pertengahan jalan pun, terhambat oleh larik-larik nihil atau nonsens. Dalam arti lain, tiada apa pun yang berhasil saya temukan, selain (lagi-lagi) sunyi itu sendiri. Mari kita mencelat ke sebuah puisi berjudul “Kekasihku Kesunyian”, berikut larik-lariknya:

 

Aku sedang berkelana/ mencari malam yang berbeda// Sebab perempuan yang tinggal di kepalaku/ menari-nari dikendangi rindu// Namun, di sini, tetap saja orang-orang bermulut seribu/ bersuara tanpa memakai telingaku// Lalu aku berdesah:/ Gaduh datang, kekasihku hilang (hlm. 47).

 

Jejak pengembaraan saya berikutnya terhenti pada peristiwa-peristiwa personal yang dialami oleh penulis; bagaimana dia patah hati pada seseorang—yang kemudian membaiat dirinya sebagai penyair (dalam “Moksa”), puisi berbalas yang dia tujukan kepada Emi Suy (“Penafkah Sepi”), peristiwa mengesankan di daerah Jurangsempu (“Memoar Jurangsempu”), perayaan kasih sayang (berupa ulang tahun), serta hal-hal emosional lainnya.

 

Kemudian, saya menjumpai suatu titik di mana “sunyi” yang menjadi jalan hidupnya pun nyatanya masih kabur dan memiliki makna berlapis: Bahkan sunyi pun/ kusuruh diam! (hlm. 64). Lantas, sunyi seperti apakah yang dimaksud oleh Fuaddin Asrori?

 

“Sunyi”, biar bagaimanapun, merupakan sebuah jalan untuk bertafakur; menjauhi ingar bingar dan lebih mendekatkan diri pada esensi. Esensi perihal kehidupan yang penuh dengan lika-liku, kecemasan, dan kegelisahan. Manusia pada dasarnya diciptakan seorang diri, dan akan kembali pada “tempatnya” (alam baka) juga sendirian. Maka, jalan mana lagi yang mesti ditempuh selain jalan kesunyian?

 

Dan, sebagaimana umumnya pengembaraan, kaki-kaki saya menjumpai ujung rimba kesunyian dalam buku ini—kendati pengembaraan yang saya jalani tak pernah sepenuhnya berakhir. Dalam puisi “Ziarah”, saya seakan-akan menemukan pintu keluar sekaligus pintu awal menuju kesejatian pengembaran: Tuan dan Nona, bila berkenan/ ketika tulisan ini telah sampai kepadamu/ ceritakanlah kepada siapa pun/ yang senasib/ denganku (hlm. 181). Maka, apakah kalian senasib dengannya? Ceritakanlah pada saya.

 

Kedai Lembayung, 02 April 2020

 

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Pegiat komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo. Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen terbarunya.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: