Topbar widget area empty.
Di Jaring Laba Laba jaring laba laba Tampilan penuh

Di Jaring Laba Laba

Puisi Diego Alpadani

 

 

Di Jaring Laba-laba

Oleh: Diego Alpadani

 

Jemput aku di bawah ketiak laba-laba yang merajut jaring

di langit-langit kamarmu, jangan tunggu nanti. Jangan juga kau

matikan lampu kamar yang telah menemani wajahmu

agar aku tak berucap pasrah pada ikatan jaring lembab kuat ini.

 

Akhiri pembaringan panjang yang tak lekang itu

pada langit-langit kamarmu aku masih tertawan

tak sekalipun bisa turun ke ranjangmu.

 

Pondokan Tek Nian, 2020

 

 

 

 

Supaya Nanti

Oleh: Diego Alpadani

 

Nanti adalah kuah-kuah anyang daging gosong

karena berulang kali dipanaskan di atas tungku

dengan bara ranting seikat penuh.

Sekarang

sudilah kau santap dengan cara mana suka

jungkir balik

berjalan menutup satu mata atau apa saja

tapi jangan lupa, anyang daging sapi, terkusus

jantung sapi itu, kau kunyah dengan cara yang sama.

Sama seperti kita mengunyah rasa entah-berentah

sampai menjadi tinja cinta.

 

Kini minumlah susu tanpa kopi sengaja kuracik untukmu

supaya nanti tak terucap, ke toilet buang air rindu.

Ah, anyang di tungku sudah menjadi abu

sila berlalu tanpa harus memelukku.

 

Pondokan Lamo, 2020

 

 

 

 

Aku Telah Memelukmu

Oleh: Diego Alpadani

 

Kenapa aku harus memelukmu setiap hari,

tanyamu itu bagai guruh di siang benderang

Asalkan kau tahu sayang, Hitler tak pernah sempat

memeluk kekasihnya pada detik terakhir masanya

atau Napoleon yang gagah itupun tak memiliki

keberanian untuk memeluk tubuh molek kekasihnya.

Berhenti bertanya padaku, tentang aku yang selalu memelukmu

hanya ada dua diantara yang tiga sesudah pelukanku

lepas dari tubuh gitarmu, kekasih. yang satu kau tanam

dalam ingatanmu, yang dua ku bawa jauh ingatan itu.

 

Padang, 2020

 

 

 

 

Pada Lingkar Matamu

Oleh: Diego Alpadani

 

Pada lingkar matamu aku ingin mengadu

Ihwal gamang panjang yang selalu datang

di saat ada dan tiadanya dewi malam

pada waktu berat lenguh sapi terhenti

dan gigil rumput pematang menari di ruminya nadi

atau tak kala mujair lupa megap-megap di tebat

benar di bidang bahumu aku hendak bersandar

mengucap gamang panjang pengganggu pikiran

 

: tentang legam tak berkesudahan berpeluh kumuh

detak jantung yang menggebu dan tungkai

yang enggan menjulur, kasih

bertumpuk-tumpuk semua itu

tak memberi pagi yang kita nanti.

 

Lepau Wo Wat, 2019

 

Diego Alpadani lahir di Bandung. Saat ini ia tengah menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Indonesia Unand. Saat ini ia menjabat sebagai ketua UKM Labor Penulisan Kreatif (LPK).

 

Photo by Brett Sayles from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: