Topbar widget area empty.
Sandiwara Di Musim Gugur sandiwara cinta Tampilan penuh

Sandiwara Di Musim Gugur

Cerpen J. Akid Lampacak

 

 

Kau mencintaiku tepat ketika musim gugur tiba. Melusuhkan gambar bunga di tangan kananmu, sedang aroma pernikahanmu masih terdengar di awal musim hujan, berderai di setiap lamunan yang terkadang menjelma awan, petir, bahkan banjir.

 

Tapi, tak mengapa, sebab cinta tak pernah disiplin kedatangannya, maka kumaklumi kau mencintaiku di waktu yang terlambat. Kira-kira begitulah sebagai lelaki yang terluka nasibnya, kesakitan merupakan pekerjaan biasa yang diulang-ulang, tak pernah merintih kendati pedih begitu setia dalam perih.

 

Namun, perlu kau ingat, disaat pagi menanti, kau menyuruhku pergi dengan alasan segala pesona sudah ada yang menaungi. Kala itu matahari masih kugenggam separuh cahayanya, agar kekecewaanmu merunduk seperti padi-padi menjelang panen dan aku pun pergi tanpa menoleh manir yang telah kau masak di tungku berdebu.

 

Oleh karena itu, kupasrahkan seluruh jantungku pada gerimis pagi, membasahi sendiwara di kebun ilalang, setelah kau pandang sedikit bulir embun, menangis di ujung daun sebab cinta yang sebentar, telah melahirkan banyak akar. Kemudian kau bertanya, “Lebih penting mana aku dan dunia?.” Barangkali kau mengirimkan pertanyaan itu lewat aliran sungai di belakang rumahmu, sementara rumahku jauh dari sungai. Untung saja aku menemukannya di laut, saat gelombang lebih suka menghantam pasir, sejak itu pula aku menafsir pertanyaanmu dengan bau anyir.

 

Lalu dari kejauhan kau datang, selepas kuteriakkan segala jawaban, mungkin saja angin yang telah memberimu tahu, bahwa cinta hanya datang satu kali di masa lalu, dan selebihnya akan datang dalam rindu. “Kenapa kau kesini, bukankah kau lebih senang di tempat lain?” lantas langkahmu berhenti sebelum kau jawab pertanyaanku yang menjadi tanda di antara salah satu jejakmu. “Untung saja kau cepat berhenti” sambi kuluruskan pandanganku ke depan, menikmati betapa indah kubayangkan kau dalam pejam.

 

Sejak pertemuan itu terjadi. kukira tak ada pertemuan lagi, maka kujumpai kau di tangan anak-anak sekolah saat mencatat pelajaran sejarah, itulah cara terindah untuk menebus segala resah, ketimbang menemukan kau di bangku taman dengan bunga-bunga berguguran, saat pandangan curang menulis ketidakmampuan.

 

Seharusnya kau tak pernah datang di musim gugur ini, karena musim gugur ini merupakan musim yang ditakuti para pencinta untuk menjatuhkan pandangan dalam rasa. Tapi kau malah berpaling dengan mitos itu, kau malah lebih percaya kepadaku, ketimbang sajak-sajakku yang biasa memberimu tahu. Namun, tak pernah kudengar kau sibuk dalam percintaan ini, mungkin kau sudah terlajur percaya bahwa cinta memang santai perjalanannya.

 

Tapi yang perlu kau ketahui, luka-luka di tubuhku akankah menjadi bagian dalam pandanganmu, menjadi sebuah ingatan ketika kau sedang berbahagia dengan suamimu, atau  barangkai kau telah pura-pura lupa agar raut mukamu tidak begitu nampak di sisinya. Nyatanya tak perlu kupirkan itu, semua tergantung pada sandiwaramu, lagi pula aku tak pernah memaksamu untuk mencintaiku, hanya saja aku tak melarangmu, supaya perjalanan cintamu tak selalu sedih ujungnya.

 

Kurang apa lelaki sepertiku dengan sengaja ikhlas dicintai oleh perempuan yang telah bersuami, nyatanya aku tak mau jadi orang ketiga, takut pun ada dalam diriku. Bahkan sangat nampak ketakutan itu kujalani. Apalagi ketika kau bertemu denganku, saat itu masih kuingat, di persimpangan jalan antara pulang dan datang, kau digandeng suami sambil melirik tajam tatapanku, saat itu pula telah kutemukan dua ketakutan.

 

Ketakutan pertama terletak pada lirikanmu yang seakan-akan sudah tak mau lagi kepadaku, karena ketajaman matamu seperti memberi tanda dalam hati. “Kau telah resmi memutilasiku dengan kejam tanpa menggunakan senjata tajam.” Tiada perkataan lain selain kalimat ini, tapi kau balas dengan satu kata “tunggu” itulah yang selalu membuatku sabar dan berjalan terus hingga lupa ke jalan pulang.

 

Ketakutan kedua, seumpama kau tarik dari gandengan suami, sumamimu mesti menghajarku, aku jelas-jelas salah tak ada orang yang dapat menolongku jika kulakukan itu, maka kuikhlaskan saja dengan membuka harapan, agar suatu saat kau menemukan titik kesadaran dan bisa kugenggam.

 

Seharusnya di waktu yang lain kau datang dengan membawa sekertas penjelasan, supaya kekecewaan macam itu sering kali menjadi perihal biasa dalam diriku. Asal kamu tahu kekecewaan bukan dilahirkan untuk dikenang melainkan untuk mencari jalan yang lebih nyaman. Demikian perlu kau pahami perjalanan dan peta harus sama-sama dimengerti.

 

J. Akid Lampacak, dikenal dengan Nama Panggilan B.J. Akid. Lahir di Sumenep Madura, Jawa Timur. Menulis cerpen dan puisi, masih tercatat sebagai Santri Pondok Pesantren Annuqayah. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media cetak, online, dan antologi puisi bersama. Menjadi ketua komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara dan pengamat litrasi di sanggar Becak Sumenep.

Photo by fotografierende from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: