Topbar widget area empty.
Terapi Menulis untuk Kesehatan Mental cover terapi menulis Tampilan penuh

Terapi Menulis untuk Kesehatan Mental

Masa pembatasan sosial untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 membuat kita banyak di rumah atau di lingkungan terbatas. Hal ini tidak mudah, terlebih bagi mereka yang terbiasa bekerja di luar rumah dan lingkungan yang luas bahkan melintasi batas negara. Salah satu dampak yang muncul adalah stress, mulai dari gejala hingga gangguan emosional serius.

 

Menulis adalah salah satu cara untuk mengurasi stress yang mungkin kamu alami. Lantas seperti apa menulis yang dianjurkan?

 

 

Menulis Pengalaman Emosional

 

Siswanto, mahasiswa S2 Psikologi UGM, dalam studinya menyebut bahwa menuliskan pengalaman emosional memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental. Salah satu pengaruhnya adalah menurunkan simtom atau gejala depresi. “Penelitian yang sama yang dilakukan di Barat menunjukkan adanya pengaruh menulis pengalaman emosional terhadap kesehatan individu, termasuk di dalamnya dengan menurunkan simtom-simtom depresi,” tulis Siswanto dalam tesisnya.

 

Dalam tesisnya yang berjudul Pengaruh Menulis Pengalaman Emosional terhadap Simtom-simtom Depresi pada Mahasiswa tahun 2014, Siswanto menyatakan bahwa menulis pengalaman emosional dapat dipilih sebagai tritmen. Pasalnya, terapi ini dipandang menjanjikan karena berbeda dengan terapi lainnya.

 

Menulis pengalaman emosional bisa dilakukan secara massal, tidak membutuhkan pelatihan khusus bagi fasilitatornya, sehingga dengan sendirinya menjadi lebih efisien dan ekonomis. Ia juga menyebut bahwa berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, menulis pengalaman emosional diketahui dapat meningkatkan imunitas tubuh, kesehatan mental dan dalam tingkat tertentu perubahan perilaku.

 

Namun hal itu tidak serta merta selalu berhasil. Menurut Siswanto dalam proses terapi menulis juga dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti durasi menulis, instruksi yang diberikan, dan sebagainya. “Analisis kualitatif terhadap subjek yang mendapatkan manfaat dari menulis pengalaman emosional dibandingkan dengan subjek yang tidak mendapatkan manfaat, mensyaratkan adanya perubahan-perubahan baik dalam pemberian instruksi dan lama waktu yang digunakan untuk menulis,” tulis Siswanto.

 

 

Menulis Naratif dengan Teknik Menjaraki Diri

 

Depresi sebetulnya dapat teratasi, salah satunya dengan terapi menulis naratif. Inilah yang menjadi inspirasi disertasi Doktor Setiawati Intan Savitri. “Menulis naratif seperti menulis diary, hanya saja ditambahkan dengan teknik tertentu,” katanya saat ditemui setelah Sidang Terbuka Promosi Doktor di ruang auditorium fakultas Psikologi UI, Rabu (11/12/2019).  Teknik yang ditambahkan dosen Mercubuana ini adalah teknik menjaraki diri. “Menjaraki diri maksudnya berjarak secara mental dari peristiwa negatif yang diingat kembali,” katanya.

 

Intan menjelaskan bahwa jika dalam menulis fiksi, seorang pengarang biasanya menuliskan nama tokoh, maka nama tersebut dimaksudkan sebagai orang lain (bukan si pengarang). Berbeda dengan teknik yang dilakukan Intan dalam Disertasinya yang berjudul Pengaruh Jarak Psikologis dalam Menulis Naratif terhadap Refleksi Diri Adaptif. Dengan teknik ini, mereka yang mengalami depresi menulis peristiwa negatif yang pernah terjadi.  “Nah, kali ini tokohnya diri sendiri. Jadi teknik menulisnya, saya melihat diri saya sedang bersedih. Teknik akan mendorong seseorang bisa melihat dirinya sendiri dan jadi objektif,” katanya.

 

Menurutnya, dengan cara seperti ini, mereka yang depresi akan mengalami penurunan emosi yang signifikan. “Dia tidak akan terlarut dengan perasaannya karena dia akan berjarak dengan dirinya sendiri. Jadi dia akan memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan ketika dia melihat dirinya sendiri,” tambahnya.  Hanya saja, kata Intan, menulis naratif seperti ini tidak dianjurkan jika ditulis di media sosial.  “Karena di sosial media, semua orang akan membaca dan berkomentar terkait apa yang kita alami. Bila tidak kuat, akan menambah depresi,” kata perempuan yang merupakan salah satu tokoh sastra di Indonesia ini.

 

 

Tips menulis sebagai terapi Debra Yatim

 

Jika ingin mencoba mendapatkan manfaat dari menulis sebagai terapi, Debra pun membagikan beberapa tips.

Pertama, ia mengatakan menulis wajib diiringi dengan jadwal. Itu berarti, Anda harus memiliki waktu khusus untuk meluapkan isi hati. Contohnya, apabila sibuk bekerja dari Senin sampai Jumat, mungkin Sabtu adalah waktu yang tepat untuk menulis. “Jadwalkan juga jamnya. Misalnya jam 2 hari Sabtu. Latihan ini memberikan manfaat menulis sebagai terapi yang lebih maksimal,” ungkapnya.

 

Kedua, gunakan metode suka-suka alias tulisan bisa dengan bebas dimulai dan diakhiri kapan saja. Debra juga mengatakan bahwa ini tak perlu terstruktur layaknya menulis novel dengan alur cerita. “Karena tujuannya untuk terapi, tidak perlu harus dimengerti. Tulis saja sebebasnya. Apa yang membuat Anda marah atau terkesan,” jelasnya.

 

Ketiga, menggunakan musik sebagai teman untuk menulis juga disarankan oleh Debra. Ia mengatakan bahwa musik bisa membantu menenangkan pikiran sehingga tulisan yang dihasilkan lebih baik lagi. “Pilihan musiknya tentu bukan bebas, namun yang buat rileks seperti di toko buku begitu,” tegasnya.

 

Keempat, menulis dengan jarak pun sangat diimbau. Menurut Debra, banyak orang meluapkan kekesalan di saat yang bersamaan dengan menulis. Alih-alih lega, hal ini justru bisa membuat seseorang terjebak dalam masalah yang sedang dihadapi. “Harus diberi jarak. Tenangkan pikirkan, baru menulis. Jadi menulisnya saat kilas balik sambil memaafkan.”

 

Sumber:  Kagama.co (18 Juni 2019),  Bekasimedia.com (12 Desember 2019) dan Tempo.co (7 Desember 2019).

 

Photo by Tim Gouw from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: