Topbar widget area empty.
Seputar Pembatalan Ujian Nasional di Masa Darurat Covid-19 Cover Pembatalan UN 2 Tampilan penuh

Seputar Pembatalan Ujian Nasional di Masa Darurat Covid-19

Opini I Made Kridalaksana

 

 

Pada acara peluncuran program “Merdeka Belajar” di Jakarta pada tanggal 11 Desember 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan bahwa Ujian Nasional (UN) tahun ini merupakan penyelenggaraan untuk terakhir kalinya. Sebagai penggantinya, Mendikbud sudah menyiapkan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter (SK) untuk tahun depan. Untuk menindaklanjutinya, UN untuk jenjang SMK/sederajat bahkan sudah diselenggarakan tanggal 16 sampai 19 Maret 2020. Namun, semakin meluasnya ancaman virus Corona (Covid-19) di tanah air maka UN untuk jenjang SMA/sederajat yang sedianya diselenggarakan tanggal 30 Maret sampai 2 April 2020 akhirnya tidak jadi diselenggarakan.  Melalui Surat Edaran (SE) No. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang dikeluarkan tanggal 24 Maret 2020, Mendikbud secara resmi membatalkan UN tahun ini. Mengapa UN perlu dibatalkan?

 

Pertama, kita sedang menghadapi ancaman Covid-19. Pembatalan UN di tengah situasi darurat seperti ini tentu disambut positif oleh dunia pendidikan, khususnya oleh siswa (termasuk orangtuanya) serta pihak sekolah selaku pelaksanan ujian tersebut. Bagi siswa, pembatalan ini membuat mereka tidak pergi ke sekolah sehingga bisa mengisolasi diri di rumah. Dengan berdiam diri di dalam rumah mereka sekaligus dapat melakukan physical distancing, menjaga jarak fisik yang aman, sebagaimana anjuran Organisasi Kesehatan Dunia tersebut. Dengan demikian, selain menjaga keselamatan diri dari kemungkinan tertular Covid-19 yang membahayakan tersebut secara tidak langsung mereka juga sudah turut berpartisipasi dalam memutus rantai penyebarannya. Selain itu, pembatalan ini juga meringankan tugas para orangtua siswa. Mereka tidak perlu repot mengantar ke sekolah maupun menjemput putera-puteri mereka, terutama yang anak-anaknya belum boleh naik sepeda motor atau mobil. Bagaimana dengan pihak sekolah? Tentu saja pekerjaan pihak sekolah yang semestinya menjadi pelaksana UN di tingkat satuan pendidikan akan menjadi semakin ringan. Bagi pihak sekolah yang rencananya melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tidak dihinggapi kekhawatiran gangguan listrik,  peranti komputer yang tiba-tiba rusak, sinyal internet yang kurang bagus, dan sebagainya.  Demikian pula sekolah yang menyelenggarakan Ujian Nasional Kertas dan Pensil (UNKP). Mereka tidak sibuk mengambil naskah soal ujian dari tempat penyimpanan. Selanjutnya, mereka juga tidak perlu menghabiskan energi untuk mengirim lembar jawaban tersebut setiap hari ke kantor dinas pendidikan atau tempat lain yang ditentukan.

 

Kedua, UN itu tumpang tindih dengan Ujian Sekolah (US). Pasal 10 (ayat 1) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 43 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ujian yang diselenggarakan Satuan Pendidikan (baca: Ujian Sekolah) dan Ujian Nasional menyebutkan bahwa UN merupakan penilaian hasil belajar oleh pemerintah pusat yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada beberapa mata pelajaran. Yang dimaksud dengan beberapa mata pelajaran pada ketentuan pasal ini adalah setidaknya mencakup empat mata pelajaran yakni: Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA untuk  jenjang SMP/sederajat serta satu mata pelajaran pilihan sesuai jurusan untuk jenjang SMA/sederajat. Ironisnya, dilihat dari mata pelajaran yang dujikan, ketentuan pasal ini agak kontradiktif dengan ketentuan pasal lainnya dari Permendikbud tersebut. Beberapa mata pelajaran yang diujikan pada UN tersebut juga diujikan lagi melalui ujian pada satuan pendidikan atau Ujian Sekolah (US). Sebagaimana termaktub pada pasal 2 ayat 1 Permendikbud ini, ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan (baca:Ujian Sekolah/US) merupakan penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran. Adapun frasa ‘untuk semua mata pelajaran’ pada US ini mencakup semua mata pelajaran yang dipelajari sehari-hari oleh siswa di kelas, termasuk keempat mata pelajaran yang diujikan pada UN tersebut. Oleh karena itu, mengujikan keempat mata pelajaran tersebut pada kedua moda ujian ini terkesan kurang efisien. Oleh karena itu, kebijakan Mendikbud membatalkan UN memang sudah seyogianya dilakukan.

 

Ketiga, UN bukan syarat kelulusan. Kelulusan para siswa dari masing-masing jenjang pendidikan tidak ditentukan nilai tinggi-rendahnya nilai UN mereka. Kelulusan tahun ini malah mempergunakan akumulasi nilai rapor siswa pada lima semester terakhir. Sebagaimana dinyatakan pada ketentuan 1 huruf b SE Mendikbud No. 4 tahun 2020, dengan  dibatalkannya UN tahun 2020 maka keikutsertaan UN tidak menjadi syarat kelulusan atau seleksi ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, nilai yang dipakai untuk menentukan kelulusan adalah nilai kelas 7, 8, dan 9 semester gasal untuk SMP/sederajat dan nilai kelas 10, 11,dan 12 semester gasal untuk SMA/sederajat. Meskipun demikian, bagi sekolah yang yang sudah melaksanakan US (bukan UN) diperbolehkan menggunakan nilai US tersebut sebagai syarat kelulusan. Jadi, daripada membuat para siswa sibuk mengikuti UN yang tidak menentukan kelulusan, ada baiknya UN ini dibatalkan sehingga para siswa memiliki waktu yang lebih banyak untuk mempersiapkan diri agar bisa melaju ke jenjang pendidikan selanjutnya.

 

Keempat, UN bukan syarat seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, berapa pun tingginya nilai UN tidak akan membantu meluluskan para siswa untuk melanjutkan studi ke sekolah atau kampus yang mereka inginkan. Berdasarkan Permendikbud No. 44 tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2020/2021, penerimaan peserta didik untuk jenjang SMP/SMA atau yang sederajat tahun 2020 ini dilakukan melalui empat jalur, yakni: zonasi, afirmasi, perpindahan tugas orangtua/wali, serta jalur prestasi. Sebelumnya, berdasarkan ketentuan pasal 4 (ayat 1 dan 2) Permendikbud ini khusus untuk jalur presatsi ini memang menyebutkan bahwa seleksiny ditentukan dengan nilai UN dan/atau US maupun penghargaan akademik maupun non-akademik pada tingkat internasional, nasional, provinsi dan/atau tingkat kabupaten/kota. Namun belakangan setelah UN dinyatakan dibatalkan, Mendikbud melalui Surat Edaran No. 4 tahun 2020 (5 b poin 1) menyatakan bahwa PPDB yang melalui jalur prestasi bisa dilakukan dengan menggunakan akumulasi nilai rapor lima semester terakhir. Demikian pula untuk ke perguruan tinggi. Nilai UN tidak dipakai untuk memeringkat calon mahasiswa yang akan diterima di perguruan tinggi negeri. Sebagaimana dirilis pada laman Lembaga Test Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), penerimaan mahasiswa baru pada tahun 2020 dilakukan melalui tiga jalur seleksi. Adapun ketiga jalur tersebut adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan Jalur Seleksi Mandiri. SNMPTN dilakukan berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dan/atau portofolio calon mahasiswa. Sementara itu, SBMPTN dilakukan berdasarkan ujian tulis yang disebut Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Selanjutnya, untuk jalur mandiri dilakukan sesuai persyaratan tertentu yang berbeda di masing-masing perguruan tinggi. Jika memang demikian, daripada mengikuti ujian yang tidak mampu melapangkan jalan para siswa ke jenjang pendidikan selanjutnya, bukankah lebih baik waktu yang masih ada tersebut dipergunakan untuk melakukan persiapan yang lebih matang untuk belajar AKM atau materi yang terkait untuk ujian ke perguruan tinggi, misalnya?

 

Berangkat dari keempat alasan di atas, kebijakan Mendikbud yang membatalkan UN tahun ini serta akan meniadakannya di tahun-tahun mendatang sudah merupakan langkah yang tepat. Dengan demikian para siswa akan memiliki lebih banyak waktu untuk belajar serta mengalami hal-hal lain yang juga tidak kalah pentingnya. Ingat, masa depan mereka masih panjang. “Life is not just the passing of time. So, don’t waste it!” Demikian pesan Jim Rohn, seorang motivator dari Amerika.

 

I Made Kridalaksana. Guru Bahasa Inggris di SMA Negeri Mengwi

 

Foto TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: