Topbar widget area empty.
Amak Harus Haji Amak Harus Naik Haji Tampilan penuh

Amak Harus Haji

Cerpen Rahmi Padilla

 

 

 

Hijah ingin sekali membahagiakan Amak, bagaimanapun caranya, Hijah ingin Amak tersenyum

 

 

Kamar itu gelap sekali. Dipandangnya lampu minyak yang tergantung di sudut bilik bambunya yang reot.  Alat penerang sederhana itu mulai redup, minyaknya tinggal sedikit.  Pelan bola matanya mengitari langit-langit gubuk yang dipenuhi sarang laba-laba lalu menerawang ke ruangan yang sempit dan pengap.  Perabotan sederhana, lantai tanah dan kain pintu yang sudah compang-camping.  Diamatinya satu persatu benda-benda di sekitarnya itu dengan kelap-kelip sinar yang ada. Gadis remaja itu menghela nafas panjang. Ada rasa perih muncul di hatinya. Hijah berkali-kali mengusap dadanya. Seketika matanya berkaca-kaca, perasaannya gundah.

 

“Blap…blap…blap.”

 

Detak-detak senandung lampu yang berkelap-kelip membuat Hijah resah. Seketika ia kembali ke alam sadarnya. Ia  tak boleh bersedih.  Ia harus semangat, harus bekerja keras. Ia harus bisa membahagiakan Emak satu-satunya orangtuanya yang ia punya. Pelan wajah Amak berganti dengan wajah almarhum Abak.  Ia tersenyum dan tiba-tiba saja menghilang seketika.

 

“Mungkin minyaknya sudah habis, apalagi ini masih dini untuk bangun, lagi pula ayam belum ada yang bernyanyi Jah, kamu tidak tidur Nak?” tutur Amak kepada Hijah, seketika gadis itu sadar kalau Amaknya tahu ia sedang belajar.

 

“Eh, Amak terganggu ya dengan Hijah?,Hijah cuma ingin belajar Mak, besok ada ulangan harian di sekolah,” balas Hijah.

 

Amak turun dari ranjang lalu beranjak menghampiri Hijah.  Wanita paruh baya itu meraba-raba wajah pucat anaknya. Ini mungkin karena Hijah belum makan dari tadi malam dan ia juga kedinginan oleh angin malam yang masuk melalui lubang-lubang kecil di dinding kayu gubuknya yang sudah reot.

 

“Tidak Nak, Amak tak terganggu cuma Amak kuatir nanti kamu malah sakit jika kurang istirahat”

“Amak nggak usah kuatir. Hijah harus kuat Mak. Hijah harus semangat belajar biar Hijah bisa meraih cita-cita kelak.  Nanti kalau Hijah berhasil Amak dan almarhum Abak2 pasti akan senang.  Kita tidak akan tinggal di gubuk reot seperti ini. Hijah akan buatkan Amak  rumah yang bagus” balas Hijah.

“Oh ya satu lagi, Hijah akan berangkatkan Amak ke Tanah Suci, Amak maukan naik haji?” Hijah memegang tangan Amaknya. Hati Amak bergemetar mendengar perkataan anaknya.  Matanya berkaca-kaca, perasaannya gundah tak menentu.  Seperti ada yang hendak disampaikannya kepada Hijah tetapi ada keraguan yang tersirat.

“Pokoknya Hijah ingin Amak naik haji” ujar Hijah sekali lagi.

“Jah..Jah..lebih baik kamu kembali ke ranjang Nak!, untuk sementara ini kamu tidak usah belajar dulu karena …..”ujar Mak gugup.

“Karena apa Mak?” jawab Hijah agak deras memotong pembicaraan Amaknya itu. Hijah penasaran sekali dengan perkataan emaknya. Keningnya berkerut, matanya nanar menatap wajah perempuan paruh baya yang ada di depannya itu.  Amak tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia menundukkan badannya hendak mendekap Hijah.

“Amak kenapa menangis?” tanya Hijah.

“Coba saja Abakmu masih hidup Nak, dan kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin kita tidak akan seperti ini,”

“Sudahlah Mak, tak perlu disesali.  Toh Abak sudah tenang di alam sana.  Amak masih punya Hijah, Rozak dan Rosmini kok anak-anak Mak,” Hijah berusaha  menghibur Amaknya.

“Sebenarnya apa yang membuat Amak sedih?  Biasanya Amak yang selalu mengajarkan kami untuk tidak bersedih.  Kok sekarang Amak yang menangis?,”

“Kemaren  Mak berpapasan dengan Ibu Reni gurumu di sekolah,” Amak berhenti sejenak.  Matanya  menatap wajah polos di di depannya.

“Lalu apa kata Ibu Reni pada Amak?” balas Hijah penasaran.

“Beliau menitipkan surat tunggakan uang sekolahmu Nak.  Kata kepala sekolah kalau Amak sudah bisa melunasinya maka kamu baru bisa masuk sekolah lagi. Amak tak tahu lagi cara bagaimana mencarikan uang untuk melunasinya.  Apalagi penjualan dagangan kita beberapa waktu terakhir ini terus menurun” tutur Amak.

 

Mata perempuan itu berkaca-kaca. Ia sadar ia sebenarnya  ia tidak boleh menceritakan ini kepada Hijah.  Baginya Hijah harus tetap bersekolah.  Hijah tidak boleh ikut merasakan kesedihan dan penderitaan hidupnya.   Biarlah permasalahan itu ia pikul sendiri, anaknya tidak boleh tahu.  Ia masih terlalu pagi untuk menerima pahit getirnya hidup ini.  Tapi apa mau dikata, ia tanpa sengaja telah menceritakannya.  Ia dekap anak sulungnya itu erat-erat. Air mata ibu tua itu kembali jatuh berderai.

*****

 

Sang surya telah menampakkan wujudnya yang terang dari ufuk timur sana. Burung pipit yang hinggap di dahan Kapuk bernyanyi riang menyambut pagi berseri.  Hari itu Hijah tak lagi berangkat ke sekolah seperti biasa.  Ia melipat baju seragamnya menyimpannya dalam lemari. Meski hatinya pilu, tetapi ia harus tegar, hidup harus terus dijalaninya.  Setelah itu ia beranjak membersihkan pekarangan rumah mungilnya sambil menunggu Amaknya selesai memasak bakwan, pisang goreng dan tahu isi.  Setelah itu ia akan segera berkeliling menjajakan dagangan Amaknya, ke pasar atau mungkin bisa saja ke depan sekolahnya.

 

Tubuh Hijah telah nampak menyapu halaman yang tak begitu kotor. Helai demi helai daun Kapuk tua yang berguguran itu di sapunya.  Keringat mulai membasahi dahinya.  Sesekali tangannya menyeka keringat  yang mengalir itu.

 

“Hai…. Jah kamu tidak sekolah hari ini?” sapa Rani seketika membuat Hijah kaget. Hijah diam.  Tatapannya nanar.  Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya itu.

“Jah Hello sobat kamu dengar kami tidak?” kejut temannya Siti.

“Eh……iya, ada apa ya?” jawab Hijah tersentak.

“Kamu nggak sekolah Jah?” tanya Rani lagi.

“Eh, Mn. Mungkin enggak,” jawab Hijah sekedarnya.  Ia bingung.

“Oh….. kalau begitu bagus deh saingan aku nggak ada lagi tuh,” ujar Arif semangat mendengar kalimat samar dari bibir Hijah.  Wajah Arif berseri-seri ia tahu betul Hijah termasuk anak yang pintar di sekolah.  Keberadaan Hijah menurutnya merupakan saingan terberatnya.  Sudah semenjak SD Hijah selalu juara kelas dan Arif sama sekali belum dapat mengalahkannya.

“Kamu sakit? Kenapa kamu tidak sekolah Jah,” tanya Rani.

“Aku harus bantu Mak berjualan Ran, lagi pula  Amak sudah tidak sanggup lagi membayar uang sekolah, Ya mau bagaimana lagi,” pernyataan Hijah membuat Hiba hati sahabatnya, akan tetapi tidak halnya dengan Arif.  Ia seperti senang dengan keadaan Hijah.

“Habiskan nyapunya tuh, lihat masih banyak sampahnya dan jangan sekolah lagi ya!” tutur Arif semangat.

“Eh kamu tuh punya hati nggak sih Rif, teman kesusahan, kamu malah ledekin,” teriak Rani.

“Hahaha…hahah.. asyik semester depan aku pasti juara kelas,” tutur Arif tak peduli sambil berlari-lari kecil meninggalkan Hijah, Rani dan Siti.

Nggak usah didengerin ya Jah! Arif memang begitu orangnya”

Nggak papa kok, kalian berangkat saja ke sekolah nanti terlambat lho, sebentar lagi aku juga akan berjualan,” ujar Hijah.  Rani dan Siti sangat kasihan sekali melihat kondisi sahabatnya itu, tapi mau bagaimana lagi mereka belum dapat cara untuk membantu.

 

Kedua sahabat itu berlalu  meninggalkan Hijah sendiri.  Gadis remaja itu, larut dengan perasaannya,  matanya kembali berkaca-kaca.  Ia hendak menangis.  Apa salahnya, kenapa Tuhan begitu banyak memberinya cobaan.  Kenapa ia tidak seperti Arif saja dilahirkan menjadi anak orang kaya.  Kenapa ia harus menjadi anak Yatim.

 

“Nak…dagangannya sudah siap!,” seketika Hijah sadar.  Teriakkan Amak melerai rasa sedihnya.

“Iya Mak sebentar,” bergegas Hijah meletakkan sapu lalu berlalu ke dapur.

“Mak Hijah berangkat dulu ya, mohon doa Mak, semoga hari ini dagangan kita  habis terjual,” ujar Hijah sambil membawa dagangan dan tak lupa ia mencium tangan Maknya itu. Hijah berlalu meninggalkan Mak.  Perempuan itu memandang wajah anak gadisnya dengan perasaan yang tak menentu.  Lagi-lagi matanya berkaca-kaca.

“Ya Allah berilah kebahagiaan kepada anak hamba ya Allah,” doa Mak dalam hati.

*****

 

Prakk…Prakk… tiba-tiba saja tubuh Hijah tersungkur.  Dagangannya berserakan kemana-mana.   Sebahagian ada yang masuk ke dalam selokan.

“Haha…rasakan makanya jadi anak jangan belagu,”ujar Arif yang sepertinya sengaja mendorong tubuh Hijah.  Dasar anak jahil dan nakal.  Ia sama sekali tidak menaruh rasa kasihan kepada Hijah.

“Besok kalau mau jualan matanya dipakai, jangan bengong, ha…ha,…!”

“Duh kasihan sekali, udah jatuh malah ketimpa tahu goreng, bakwan isi, makan tuh sekalian sambalnya pakai pasir atau tanah kan enak, heh..eh..he,” Arif kembali menyahut sambil mengayuh sepedanya.  Dalam hatinya Arif merasa puas karena telah dapat menbuat jatuh Hijah, rasa sakit hatinya selama ini telah  terlampiaskan sudah.

“Aduh sakit, huk..huk… apa salahku Rif,” teriak Hijah sambil meringis kesakitan.  Sayang teriakan itu sama sekali tidak didegar Arif.  Anak nakal itu sudah mengayuh sepedanya dengan cepat. Pelan Hijah bangkit dan  mengemasi dagangannya yang berserakan.

“Waduh bagaimana ini, apa yang harus aku sampaikan kepada Amak.  Amak pasti kecewa kalau seandainya ia tahu dagangannya berserakan,”

“Apalagi bakwan-bakwan ini pasti tidak bisa lagi dijual, Amak pasti sedih,” Hijah makin kuatir dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.  Ia tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya Amak kalau seandainya ia tahu bahwa dagangan Hijah terjatuh semua.

“Hijah..Hijah kamu kenapa?” tiba-tiba saja Rani dan Siti datang sambil terkejut melihat kondisi Hijah yang berantakan.

“Arif Ran, tadi aku sedang berjualan, tiba-tiba saja ia dengan sengaja mendorongku hingga aku jatuh tersungkur,” ujar Hijah.

“Apa Arif,  benar-benar keterlaluan,  ini memang tidak bisa dibiarkan.  Kali ini Arif perlu kita kasih pelajaran, kita laporkan saja ke Bu Guru,” balas Siti Geram.

“Sudah, sudahlah,  nggak usah diperpanjang, lagi pula aku juga nggak apa-apa kok,” ujar Hijah dengan raut sedih.

“Bagaimana kalau kita minta ganti rugi sama Arif saja, kamu kan tahu kalau ia anak orang kaya kita samperin aja rumahnya dan kita laporkan saja sama Papa dan Mamanya, biar mereka tahu bagaimana kelakuan anaknya yang sebenarnya,” ujar Siti.

“Ah nggak usah Ran, nggak papa kok,”

“Ya udah kalau begitu kami antar  kamu pulang ya Jah,” balas Siti.

“Eh sebentar, coba kamu hitung berapa  Bakwan dan tahu yang rusak, sekarang aku yang beli semua,” ujar Rani.

“Maksud kamu Ran?, buat apa kamu beli tahu yang sudah berserakan di tanah seperti ini?”

“Sudah aku yang beli, ini cukup kan?” balas Rani sambil memberikan tiga lembar uang kepada Hijah.

“Ini kebanyakan Ran,  ka..kamu dapat uang dari mana?”

“Kalau berlebih buat kamu aja, sekalian mungkin bisa nambah biaya sekolah kamu yang menunggak itu, nah besok kamu bisa masuk sekolah lagi, sepi Jah kalau di sekolah nggak ada kamu”

“Tapi kamu dapat uang dari mana? nggak bisa Ran, aku nggak bisa terima sebanyak ini,” balas Hijah.  Ia tidak menyangka Rani akan bisa memberinya uang sebanyak itu.

Udah  kalau kamu memang tidak bisa menerimanya, bagaimana kalau kamu berhutang dulu sama aku, nanti kalau kamu sudah punya duit kamu boleh ganti lagi sebahagian uang ini,” ujar Rani sambil tersenyum.

“Baiknya kamu terima saja Jah, lagian Rani niatnya baik untuk menolong, apalagi kita sudah bersahabat semenjak  dulu,” ujar Siti.

Ngomong-ngomong kamu mau tau nggak bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?,”

“Mau..mau bagaimana caranya Ran,?”

“Masih ingat pelajaran menulis cerpen dengan Pak Hadi dulu? nah uang yang tadi merupakan honor cerpen aku yang dimuat di majalah.  He..he.. apalagi kamu Jah punya bakat menulis kenapa tidak menulis cerpen aja? trus kirim ke majalah nah kalau dimuat dapat honor deh,”

“Ya ampun, kok aku baru sadar sekarang ya?,”

“Benar Jah, kalau tidak salah dulu cerpen-cerpen kamu yang paling bagus di kelas kita ingat tidak kata Pak Hadi kamu punya bakat menulis?” sahut Siti.

 

Ketiganya bergegas meninggalkan tempat itu.  Siang semakin terik.  Seorang pedagang Es Kelapa terlihat kian bersemangat melayani pembeli yang terlihat kehausan.  Musim kemarau membawa berkah kepada para penjual es.

*****

 

Hijah mendapatkan sesuatu yang berharga dari peristiwa kemaren.  Kata-kata Rani sahabatnya itu membuatnya bersemangat untuk menulis cerita.  Seperti biasa selain membantu Amak menjajakan dagangannya, membersihkan rumah dan mengantarankan adik-adiknya ke sekolah maka mengisi waktu kosong Hijah mulai menulis cerita.  Selesai berjualan ia akan selalu singgah di kantor pos untuk mengirimkan cerpen-cerpennya ke koran dan majalah. Hitungan beberapa waktu karya-karya Hijah mulai dimuat diberbagai media.

 

“Alhamdulillah Mak, hasil kerja keras Hijah tidak sia-sia mak. Ini uang  honor tulisan Hijah di koran, sebaiknya Mak Simpan untuk keperluan dapur, walaupun belum seberapa tetapi Mak bisa gunakan untuk membayar hutang-hutang beras kita ke  warung Pok Inam Mak,”

“Harusnya Mak yang memikirkan semua ini Nak, harusnya engkau tetap bersekolah nak, maafkan mak ya Ijah!” Mata Mak berkaca-kaca.  Ia peluk Hijah erat-erat.

“Mak ndak usah begitu, sudah kewajiban setiap anak untuk membantu kesusahan orang tuanya,” kedua ibu dan anak itu berengkulan.

“Assalamualaikum, Jah” ujar Rani dan Siti, suara itu mengejutkan Amak dan Hijah. Secepat itu juga Hijah menyahut “Walaikum Salam” Hijah membuka pintu gubuknya.  Seketika ia melihat Rani dan Siti sudah berada di depan rumahnya.

“Jah apa kamu sudah tahu?, Arif tadi pagi tidak masuk sekolah lho, kabarnya ia mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.  Nggak papa biar dia juga tau rasa, ini buah dari sikap jahilnya selama ini sama kamu Jah” ujar Siti.

“Hus, nggak boleh gitu Ti!, bagaimanapun juga Aris tetap teman kita. Wah bagaimana ya keadaannya, sebaiknya kita melihatnya ke rumah sakit ya!”

“Sungguh mulia hatimu Jah, orang yang sering nyakitin kamu, tetapi kamu tidak pernah menaruh dendam sedikitpun” balas Rani.

*****

 

“Terima kasih ya Nak Hijah atas semua pertolongannya. Arif kamu harus berterima kasihk kepada Hijah.  Berkat bantuannya kamu bisa selamat,” ujar Papa Arif.

“Mak..maksudnya Pa?” Aris penasaran.  Anak lelaki itu masih tergolek di atas tempa tidur, hampir sebahagian tubuhnya tertutup perban.   Sudah tiga hari ia selesai menjalani Operasi.  Kecelakaan yang dialaminya mengharuskan Arif banyak kehilangan darah.  Karena stok darah di rumah sakit tidak mencukupi beruntung darah Hijah cocok dengan Arif dan Hijahpun bersedia mendodorkannya untuk Arif.

“Huk..Huk..Hijah.. Arif malu Jah. Arif menyesal Jah, maafkan Arif ya Jah, selama ini sudah sering jahil dan jahat sama kamu,” tutur Arif.

“Sudalah Rif, ndak apa-apa, yang penting kamu bisa cepat sembuh lagi pula aku sudah duluan kok memaafkan kamu,” balas Hijah.

“Nah kamu harus banyak belajar sama Hijah Rif, sosok anak yang sederhana, pekerja keras dan kreatif. Kamu tahu tidak, cerpennya sudah dimuat di berbagai media.  Sebentar lagi perusahaan Papa akan menerbitkan novelnya yang perdana, Esok ia sudah bisa kembali lagi bersekolah, Papa akan menanggung biaya sekolahnya termasuk adik-adiknya,” tutur Papa Arif.  Hijah tertegun mendengar apa yang disampaikan Papa Arif.  Dari hatinya yang paling dalam ia bersyukur dan paham bahwa setiap kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan akan tetapi harus dibalas dengan kebaikan.  Percayalah Allah punya rencana dan anugerah tiada pernah terkira oleh umatnya jika ia selalu menebar benih kebaikan kepada siapa saja.

*****

 

Mata Amak berkaca-kaca, ada tangis bahagia tergurat dari wajahnya.  Amak telah bersiap-siap, sebentar lagi bus yang akan membawa rombongan haji akan berangkat menuju Bandara.  Hijah, Rozak dan Rosmini tersenyum kepada Amak.



“Tenang saja Jah Ibu pasti akan menjaga Amak dengan baik,” Ujar Bu Sastri mamanya Arif.

“Iya Jah,  kamu jaga adik-adikmu ya,” tutur Pak Anwar papa Arif. Kedua suami istri orang kaya yang dermawan itu juga ikut bersama rombongan Amak menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci.

Ada kebahagiaan yang tak terkira dirasakan oleh Hijah melihat Amak menaiki Bus menuju bandara dan terbang ke Tanah Suci.  Cita-citanya terkabul sudah.  Penghasilan dari penjualan novelnya telah mengubah nasib Hijah.  Novel dengan judul “Hijah Ingin Amak Naik Haji” menjadi salah satu novel terlaris tahun ini.  Perjuangan Hijah selama ini ternyata sudah dapat mengubah nasib keluarganya.  Gubuknya yang dulu reot kini sudah berubah menjadi rumah sederhana yang layak huni.  Adik-adiknya pun sudah dapat belajar di sekolah yang layak.

“Selamat jalan ya Mak, semoga dapat menjadi Haji yang Mabrur” ucap Hijah dalam hati.  Pelan gadis itu mengajak adik-adiknya pulang.  Rani, Siti dan Arif pun menyusul di belakangnya.  Mereka sangat bangga dengan Hijah seorang anak remaja yang tiada pernah lelah berjuang membahagiakan orang-orang di sekitarnya.

 

Kuamang, 07 Agustus 2015

 

Kupersembahkan buat amak (bahasa Minang yang artinya ibu) dan Abak berarti ayah, atas semua kasih sayang yang kalian curahkan kepadaku.

 

 

Rahmi Padilla, Siswi di SMAN 3 Sumatra Barat jalan by pass Tanjung Beringin Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

 

Photo by Haydan As-soendawy from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*