Topbar widget area empty.
Dan Wanita Tua Itu Pun Pergi Perempuan Tua Itu Tampilan penuh

Dan Wanita Tua Itu Pun Pergi

Cerpen Sujarno

 

 

 

Wanita tua itu masih saja sibuk bekerja. Sesekali punggung tangan kanannya yang kotor, menyeka keringat yang mengalir membasahi wajahnya yang sudah keriput. Peluh yang dirasakannya seakan sangat berat. Kadang-kadang ia mendengus untuk mengurangi sedikit lelah yang menderanya. Jari-jari tangannya menjadi semakin kotor saat ia mencoba membersihkan penggorengan dan dapur.

 

Aku masih saja sibuk mengamati wanita tua itu dari balik jendela kamarku. Memang harus jujur kuakui kalau setiap pagi aku hanya duduk bermalas-malasan di atas kursi yang selalu teronggok di samping jendela kamarku. Aku memang selalu melakukan kegiatan ini karena memang setiap pagi aku tidak memiliki kegiatan lain kecuali mengamati segala tingkah laku wanita tua itu dari kejauhan. Tidak seperti wanita tua itu yang selalu sibuk dan disibukkan oleh pekerjaannya. Aku kadang merasa malu jika harus membandingkan diriku dengan wanita tua itu.

 

Wanita tua itu masih saja sibuk bekerja. Ia mulai menurunkan kursi-kursi yang selalu bertengger di atas meja yang mulai reot, perlahan-lahan. Ia mulai mengibas-kibaskan kain kumal yang selalu menempel di bahunya untuk sedikit menghilangkan debu yang sudah terlalu tebal melekat di permukaan meja. Memang ia benar-benar wanita tua yang kuat. Kesibukkannya tidak berhenti sampai di situ. Ia meraih korek api yang selalu terselip di dinding tepas warungnya yang telah dipenuhi lubang-lubang besar. Bahkan lebih banyak bagian yang berlobang daripada bagian yang masih mulus. Ia lalu menghidupkan kompor. Meletakkan kuali di atas kompor minyak yang mulai dimakan karat. Dengan tangannya yang lemah, ia mencampur bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat tahu goreng.

 

Aku beranjak dari tempat dudukku, keluar kamar dan berjalan menuju warung kecil dan sempit tempat wanita tua itu berjualan yang letaknya di seberang jalan.

 

“Pagi, Nek.” sapaku pada wanita tua itu yang tengah sibuk memasukkan potongan tahu ke dalam minyak yang mulai memanas.

“Pagi, Neng. Kok pagi-pagi begini Neng sudah sampai kemari?” tanya wanita tua itu penuh keheranan.

“Ia Nek, kalau pagi-pagi begini saya tidak ada kerjaan, jadi sambil menunggu berangkat kuliah ya saya main-main kemari.”

 

Sambil membolak-balik tahu yang ada di dalam kuali ia masih sempat ngobrol denganku.

 

Wanita tua itu masih saja sibuk bekerja. Sebuah rutinitas yang seharusnya tidak ia lakukan. Bagiku, seharusnya wanita seusianya duduk manis di atas kursi goyang sambil membuat sulaman dengan motif yang cantik- cantik. Menikmati hari tua bersama anak cucunya. Seandainya saja waktu dan keberuntungan memihak kepadanya, mungkin ia tidak perlu memeras keringat dan menahan peluh, dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini. Dalam usianya yang sudah senja, ia terlalu tua jika harus mengarungi lautan kehidupan hanya dengan perahu kayu yang mulai keropos. Seolah sang maut mengincar dan membidik wanita tua itu dengan matanya yang tajam. Tapi bukanlah wanita tua itu jika ia harus menyerah dengan keadaan. Dengan segala keterbatasan dan sisa umur yang ia miliki, ia terus berpacu dengan waktu yang semakin menghimpitnya dan mencoba melawan roda kehidupan yang setiap saat akan menggilasnya.

 

Wanita tua itu memang selalu sibuk bekerja. Namun di pagi yang cerah ini aku tidak melihatnya bercengkerama dengan warungnya yang kecil dan sempit. Untuk pertama kalinya aku disuguhi oleh tumpukan kursi yang masih bertengger di atas meja yang mulai reot. Disuguhi oleh pemandangan kuali hitam legam yang menggantung dengan tenangnya di dinding tepas yang masih berlobang yang di salah satu sudutnya terselip korek api dan kain kumal. Hari ini memang benar-benar berbeda. Aku tak melihat lagi adonan tepungyang warnanya agak pudar yang diremas dan dipilin oleh tangan lemah wanita tua itu.

 

“Ah, mungkin saja wanita tua itu kesiangan.” gumamku dalam hati seraya aku berbenah karena aku harus pergi ke kampus.

 

Malam begitu pekat menyergap kampung kami yang sunyi. Aku mencoba mengintip warung wanita tua itu dari sela-sela hembusan angin malam yang dinginnya menusuk kulit dan mencekam. Lagi-lagi aku menjumpai pemandangan yang berbeda dari biasanya. Tak kulihat lagi bohlam kecil berkekuatan 5 watt menerangi warung wanita tua itu. Aku hanya melihat sebuah lampu minyak yang menyala ragu dan apinya bergoyang-goyang dipermainkan angin. Sebuah lampu minyak yang harus berjuang menyingkirkan pekatnya malam yang semakin dingin. Berkas-berkas sinarnya seolah berperang dengan cengkeraman pekat malam yang tidak mau mengalah, seperti perjuangan wanita tua itu dalam menaklukkan kehidupannya.

 

Wanita tua itu memang selalu sibuk bekerja. Namun, pagi ini untuk yang kedua kalinya, aku tidak melihatnya bercengkerama dengan warungnya yang kecil dan sempit. Untuk kedua kalinya pula aku disuguhi tumpukkan kursi yang bertengger di atas meja yang mulai reot. Disuguhi pula oleh pemandangan kuali hitam legam yang menggantung dengan tenangnya di dinding tepas yang masih saja berlobang, yang di salah satu sudutnya terselip korek api dan kain kumal. Hari ini memang benar-benar berbeda dari hari sebelumnya, namun tidak jauh berbeda dengan kemarin. Masih saja aku tidak melihat adonan tepung yang warnanya agak pudar yang diremas dan dipilin oleh tangah lemah wanita tua itu.

 

“Mungkin saja wanita tua itu kesiangan lagi.” pikirku melawan kegusaran yang mendera.

 

Wanita tua itu memang selalu sibuk bekerja. Namun pagi ini untuk kesekian kalinya aku tidak melihatnya bercengkerama dengan warungnya yang kecil dan sempit. Rasanya debu yang melekat di permukaan meja yang biasanya menjadi tempat dimana ia meletakkan piring yang berisi tahu goreng yang baru diangkatnya dari penggorengan, semakin tebal seolah ingin mengubur warung wanita tua itu dari kehidupan. Aku semakin gusar. Masih saja sesekali aku mengintip dari balik jendela kamarku melontarkan pandangan ke warung wanita tua itu, yang semakin terlihat usang karena digerogoti waktu. Aku menjadi bingung mengapa wanita tua itu tidak terlihat lagi. Tak kulihat lagi kepulan asap menyembul dari sela-sela atap warungnya yang semakin terlihat keropos.

 

Wanita tua itu memang selalu sibuk bekerja. Namun ia seolah ditelan bumi yang mengganas sehingga tak kulihat lagi tubuhnya yang renta beringsut dari warungnya pergi ke pasar. Tapi warga kampung yang lainnya terlihat tidak kehilangan. Seolah mereka tidak memiliki sisa waktu untuk mengamati segala tingkah laku wanita tua itu. Hingga saat ini aku masih bingung, kemanakah perginya wanita tua itu? Mungkinkah ia pulang ke kampung halamannya atau jangan-jangan? Namun satu hal yang akan selalu kuingat ialah kegigihan wanita tua itu dalam melawan derasnya arus kehidupan yang setiap saat akan menyeretnya ke muara.

 

Wanita tua itu memang selalu sibuk bekerja. Namun kini hanya tinggal kenangan yang akan selalu teringat saat aku melewati pagiku, di balik jendela kamarku di atas kursi yang selalu teronggok di sebelahnya sambil memandangi bekas warung wanita tua itu yang kini telah berubah menjadi rumah toko.

 

Wanita tua itu memang selalu sibuk bekerja. Namun kemanakah perginya wanita tua itu?

 

 

Sujarno. Lahir di Sidomulyo (salah satu desa di Kabupaten Langkat), 15 Juni 1983. Saat ini bertugas sebagai guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Binjai Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Beberapa karya yang telah penulis hasilkan yaitu: Bendera Sunyi (Kumpulan Cepen Guru-guru Bahasa Indonesia Sumatra Utara, 2017), Rindu Menelusur dari Diski Hingga Pancing (Antologi Puisi AGBSI Sumatra Utara, 2018), Kutulis Cerita Medan (Antologi Puisi AGBSI Sumatra Utara, 2018), Makam Bisu Pusara Bisu (100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai, 2019), Pada Binjai Terlintas Rasa (100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai, 2019), Aku Kalah dalam Hujan (Antologi Cerita Pendek dan Quote, 2019), Sedang Matiku Begitu Jauh dari Matimu (Antologi Puisi Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal, 2019), Menjelang Petang Ayahmu Mangkat (Antologi Puisi Antara Bintang dan Bulan, 2020), Jadikan Aku Rekanmu Menyusuri Gulita ((Antologi Puisi Antara Bintang dan Bulan, 2020), Bendera Dibasuh Hujan (Antologi Cerita Pendek Keris Kain Merah, 2020), Kelopak Menyisa Duri (Antologi Puisi Duri-duri Bunga Mawar, 2020), Gerimis Mengirim Rindu ( Antologi Puisi Tunggal, 2020), Ragaku Ripuh Disiksa Nyenyat (Antologi Puisi Pringsewu Kita, 2020), dan Corona Tak Tercecap Indra (Antologi Puisi Bersama Yayasan Dapur Sastra Jakarta, 2020). Alamat surat elektronik penulis yaitu: Sujarnosw@gmail.com atau Sujarnosw@yahoo.co.id.

 

Photo by Luis Quero from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*