Topbar widget area empty.

Kinan dan Pertanyaannya

Cerpen Diego Alpadani

 

 

 

“Ayah, kenapa permainan di pasar malam banyak yang memusingkan?” Kinan selalu banyak tanya dan senang berbicara. Apalagi jika sesuatu itu terasa baru baginya. Saya sebagai seorang ayah harus dan akan selalu bisa memahami semua itu. Karena seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia Kinan, semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan sendirinya. Saya teringat perkataan seseorang gila─orang gila itu setiap hari berjalan di depan rumah saya dan selalu berbicara asal-asalan─, semua pertanyaan sudah memiliki jawaban.

 

“Sebenarnya semua permainan di pasar malam tidak memusingkan Kinan. Hanya saja, kita tidak terbiasa dengan semua permainan ini.”

“Dan kenapa undian-undian di pasar malam ini sulit didapatkan Ayah? Jangan-jangan mereka semua menipu yang bermain Ayah.” suara Kinan cukup keras ketika menanyakan hal tersebut. Pengunjung pasar malam yang berada di dekat kami langsung melirik dan menyatukan sepasang alis mereka. Apalagi tatapan penjaga undian yang menatap kami dengan tatapan bola mata sebesar jengkol. Ah, mengerikan. Langsung saja saya menggendong Kinan dan membawa diri kami pergi ke sisi lain dari pasar malam.

“Ayah. Ayah. Lihat itu Ayah. Komedi putar itu tidak berputar. Tapi kenapa orang-orang menyebut itu sebagai komedi putar.” Kinan menunjuk-nunjuk komedi putar yang tengah berhenti.

“Bukan komedi putar Kinan. Komidi putar namanya. Komidi putar baru akan berputar jika diputar, Kinan. Saat ini tidak ada yang menaiki komidi putar itu.”

“Ayo kita naik komedi putar itu ayah.”

“Komidi putar, nak.”

 

Saya menghela nafas panjang. Kinan memang seorang anak yang sangat antusias terhadap hal-hal baru. Setiap hari ia selalu bertanya tentang semua yang tidak ia mengerti. Mengapa, bagaima dan kenapa menjadi hal mendasar baginya untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu memenuhi gendang telinga saya. Terkadang Kinan juga menanyakan hal-hal yang sudah ia ketahui. Sebenarnya banyak pertanyaan Kinan yang tidak bisa saya jawab sebagai seorang ayah. Saya hanya seorang ayah yang tidak sempat menamatkan bangku sekolah dasar. Dan yang membingungkan, kenapa Kinan bisa mempertanyakan hal-hal yang sulit untuk dijawab. Karena itu saya mulai benar-benar yakin dengan perkataan seorang gila, semua pertanyaan sudah memiliki jawaban. Bagaimana bisa seorang anak yang belum bisa membaca dan menulis menanyakan hal-hal yang menurut saya sangat sulit untuk dijawab.

 

Pernah suatu hari di saat semua orang sibuk dan tergesa-gesa untuk menjemput rezeki, Kinan dengan santainya bertanya, “kenapa semua orang tergesa-gesa Ayah? Kenapa mereka yang berdasi-dasi sepanjang pusar itu tidak mau mengalah di jalanan, Ayah? Mengapa Ayah tidak memakai dasi? Bagaimana jika sesekali Ayah memulung mengenakan dasi? Atau sesekali mengendarai mobil seperti mereka. Tidak lagi berjalan kaki.”

 

Entah itu pertanyaan atau sindiran. Saya hanya menjawab dengan memanggil namanya dan mengelus-elus kepalanya. Menyusuri jalanan yang memang sangat sibuk.

 

Saya dan Kinan menaiki komidi putar setelah membeli karcis yang harganya bisa dibilang mahal bagi saya yang berprofesi sebagai pemulung. Harga satu karcis dewasa dan anak-anak sama saja. Tidak ada bedanya. Harga dua karcis komidi putar sudah seharga dua bungkus nasi kotak. Tapi tak apalah, semua ini demi kebahagian Kinan. Bukankah seorang ayah wajib membahagiakan anaknya?

 

Sambil menunggu penumpang lain yang hendak naik Kinan masih terus berbicara. Terkadang saya berpikir, makanan apa yang telah saya beri pada Kinan hingga sulit untuknya berhenti berbicara. Padahal sewaktu bayi dulu ia jarang menangis. Tapi kenapa sekarang mulutnya selalu berkicau.

 

“Sudah mulai berputar Ayah. Kita akan menuju atas dan memandang yang di bawah Ayah. Kita berputar Ayah. Seperti roda.”

“Iya Kinan.”

“Semua terlihat dari atas ini Ayah. Sangat jelas Ayah. Lihatlah Ayah, semua menjadi kerdil dan dekil seperti kita Ayah. Semua pakaian yang mereka kenakan terlihat sama Ayah. Sama seperti kita Ayah.”

“Kinan.”

“Lihatlah ke bawah Ayah. Mereka semua kerdil.” saya menarik nafas panjang dan melirik ke bawah. Berharap Kinan berhenti bicara. Memang semua tampak kecil. Tapi bukankah saya dan Kinan juga terlihat kecil jika dilihat dari bawah sana. Komidi putar terus bergerak, berputar. Perlahan-lahan mereka yang tampak kecil sudah kembali pada ukuran semula.

“Putarannya semakin kencang Ayah. Kita sekarang di bawah. Semua tampak jelas dan kembali berbeda-beda Ayah. Tapi tidak ada yang seperti kita Ayah. Tidak ada yang membawa karung berisi botol. Kita sudah benar-benar di bawah. Semua menjadi besar dan tidak dekil, Ayah.”

“Iya nak. Kita di bawah.” entah kenapa ketika Kinan berbicara seperti itu membuat hati saya terasa disayat oleh pisau berkarat. Sangat perih. Sakit tiada tara.

“Komidi putar ini kenapa selalu berputar Ayah? Apakah tidak bisa diam pada satu titik saja Ayah? Titik di mana kita berada di atas. Dan mereka semua tampak kerdil dan dekil seperti kita.” Kinan tersenyum lebar. Senyumnya sungguh hangat dan membuat hati saya kembali disayat pisau berkarat. Apalagi dua gigi susunya baru saja copot di tengah-tengah.

“Namanya saja komidi putar. Tentu harus berputar. Kadang di atas kadang di bawah.”

“Ayah,” Kinan mengenggam tangan saya begitu erat. Matanya tetap memandang ke bawah. Memang sesekali ia menatap saya dengan pandangan bahagia tak berdosa. Seakan tak ada beban yang dipikirkannya. Namanya saja anak-anak. Rambut panjangnya yang terurai tertiup angin dan bergelombang seperti ombak yang saling mengejar dan berdebur menghantam bibir pantai terkadang menyentuh pipi saya. Ia begitu cantik dengan wajah mungil yang tak lebih besar dari telapak tangan saya. Bola mata polos yang selalu membuat saya bersemangat untuk tetap menjalani hidup, “Kenapa manusia tidak bisa terbang Ayah. Kinan ingin terbang serupa burung. Meliuk-liuk di angkasa, menatap semuanya dari atas seperti ini Ayah.”

“Kelak kita akan terbang Kinan.” Kinan menatap saya dengan pandangan begitu hangat.

“Kapan Ayah.”

“Jika waktu itu telah tiba, Kinan.”

“Kapan waktu itu tiba Ayah?”

“Itu kehendak Tuhan, nak.”

“Apakah Tuhan juga terbang seperti burung Ayah? Atau berjalan mengenakan kaki seperti kita?” saya tidak tahu akan hal itu. Apakah Tuhan bisa terbang atau tidak. Apakah Tuhan mengenakan kaki untuk berjalan. Semua itu tidak saya ketahui. Saya hanya mengetahui Tuhan itu ada. Dan saya tetap yakin bahwa Tuhan akan tetap dan atau selalu ada. Saya hanya diam dan merangkul Kinan. Tetap dengan harapan, semoga ia diam. Berhenti menanyakan hal-hal yang tak bisa saya jawab.

 

Kinan tidak berbicara dan tidak menanyakan pelbagai pertanyaan. Kami hening dalam sangkar komidi putar. Tapi matanya lekat-pekat menatap ke bawah. Lebih tepatnya ke luar sangkar. Ia benar-benar terdiam. Tak lagi sepatah dua kata keluar dari mulutnya. Hingga komidi putar berhenti berputar dan kami ke luar dari sangkar komidi putar. Kinan tetap diam. Kami melangkah memunggungi komidi putar. Sukurlah Kinan berhenti bicara. Biasanya ia hanya akan berhenti bicara saat tertidur.

 

“Ayah. Ayah. Kinan melihat ibu dari atas sana Ayah.” mata Kinan berkaca-kaca. Saya tak sanggup menatap bola matanya. Saya hanya memeluk dan menggendongnya berharap ia membicarakan hal lain. Tapi sayang, ia meraung sejadi-jadinya memanggil kata ibu. Sedang saya tak bisa menjelaskan perihal ibu padanya. (*)

 

Agam, 2019

 

 

Diego Alpadani saat ini tengah menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Ia aktif berkegiatan di UKM Labor Penulisan Kreatif (LPK), Teater Langkah, dan Lab Pauh 9.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: