Topbar widget area empty.
Pagu Baru untuk Munir Pagu Baru Munir Tampilan penuh

Pagu Baru untuk Munir

Cerpen Silvha Darmayani

 

 

 

Suara ayam berkokok? tak terdengar! polusi udara sabah terlihat, ditambah celotehan perempuan berdaster, berdiri mematung, memelototi suaminya penuhpenuh. Siapa lagi kalau bukan Munir, istri Madang Sadikin. Meski tak jemu-jemu Munir menyirami batin Madang, ia tak berdesir, tak membantah, apalagi melawan.

 

“Bang, kau dengar aku tidak?” Munir mengubah posisi, selangkah lebih dekat dengan Madang, yang fokus menilik debu motor.

 

“Untung saja mesin air masih menyala. Dua hari lalu, petugas PLN sudah datang memberi peringatan untuk tunggakan listrik, kalau tidak, esok semua mati, air, lampu, bahkan mereka sekeluarga” tindih Munir merah padam.

“Tidakkah abang kasian padaku? lihat istrimu ini! saban hari berkoyok jidatku, berkerut keriput, umurku baru seumur jagung, tapi hidupku sudah sempoyongan, bunuh saja aku bang! mati sajalah aku ini,” kali ini Munir mendelik.

 

Madang menarik napas, mencari celah untuk melepas telak, wajah Munir yang memang kusam masam akhir-akhir ini, matanya cekung, mungkin menangis sepanjang malam, bibirnya tak merah seperti dulu, mungkin benar ia tak lagi memilki persedian gincu merah yang acap dipakai selepas mandi. Dasternya kumal, berbau peluh, juga sisa air matanya yang menyelinap ke jahitan benang yang melapuk.

 

Madang mencari mata Munir yang berada di ujung, ia kejar, dan mengepung agar tak ada yang merebut percakapan keduanya. “Mun abang tau kita butuh biaya untuk hidup ini untuk Ikal, makan, rumah, listrik, juga air, sore abang gajian, meski tak seberapa, sedikitpun takkan kubiarkan masa depan kau dan Ikal seperti ayahnya ini, aku ingin Ikal menjadi orang yang sukses nanti.”

 

Munir melawan tatapan Madang, matanya yang berwarna coklat, nampak temaram, menyela perkataan Madang, suaminya, “Kalau saja aku tau menikahi mantan preman sepertimu, lebih baik aku mati jauh-jauh hari,“ Munir berkutat, ia menyeka peluh yang hinggap di pelilipis, dari matanya yang tadi bergerimis, kini lebat turun genangan air.

 

“Kau tau Munir, aku sabar pada keadaan, naif padaku, aku memang preman dulu, durjana, berbeda denganmu. Kau rajin sembahyang, sedekah, meski kau tak sekaya perempuan bergelar adiwangsa, tapi hatimu suci, kuputus untuk memberanikan diri melamar kau sebagai istri, merubah jalan hidupku, kini kau berbeda Munir, kau berjanji setia bersamaku, menerimaku apa adanya, seperti yang kau katakan dulu, tapi kini kau tak sama Mun.”

 

Munir menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Madang, semakin tersedu, matanya sembab, ia menahan suara, agar telinga Madang tak menangkap, bahwa ia larut dalam tangis yang disembunyikan.

 

Sudah pukul 7 pagi, pelukan hangat pertanda damai itu harus dilepas, ia pamit pada Munir pergi kerja, seragam cleaning service itulah seorang Madang sekarang. Motor butut, memang hanya itu yang ia miliki, saban pagi dicuci, paling tidak ia tahu, kalau kebersihan sebagian dari iman. Tidak masalah butut sekalipun, karena motor itulah yang menjadi saksi perjuangan Madang sebagai perantau di tanah orang.

 

Tak boros waktu, meski motor itu hampir punah, namun tenaganya masih seperti kuda pacuan, setengah jam Madang sampai, di rumah sakit tempat ia bekerja sebagai cleaning service. Kata Munir itu adalah pekerjaan buruk, namun tidak untuk Madang, baginya pekerjaan tidak dinilai dari berapa jumlah penghasilan yang didapat, tapi dari seberapa halal dan baiknya pekerjaan yang dilakukan. Setiap hari Madang ikhlas, itu prinsip hidup, pesan amak dulu sewaktu di kampung. Tak heran, tak ada yang tak tau siapa Madang, laki-laki tukang senyum, begitulah panggilan para perawat, dokter, dan tenaga medis lain menyebutnya.

 

Pagi itu belum banyak petugas yang datang, seperti biasa, sapu di tangan kanan, dan sodokan di kiri, lantai pagi itu, buruk sekali, jejak-jejak sepatu dan buangan tisu, aroma khas yang menyeruak dari tong sampah menambah kesabaran Madang, hari itu giliran dua petugas kebersihan di lantai bawah, Madang dan Ahmad, tapi ia belum juga datang, barangkali pusing di kepala Ahmad kemarin sore, belum juga reda.

 

Madang meraba saku celananya yang kumuh, dikeluarkan dompet hitam lusuhnya, satu foto yang tersimpan di dalam. Munir dan dirinya, juga seorang anak laki-laki di tengah mereka, foto yang usang, warnanya meremang, Madang tercenung, mengingat kemarahan Munir pagi tadi, air matanya jatuh, berkali-kali ia seka, supaya petugas lain tak tau Madang menangis.

 

Beberapa orang pasien berdatangan dibawa oleh petugas ke ruang IGD, mereka sesak napas, kali ini tak hanya satu, tapi puluhan orang dalam selang menitan saja, Madang ikut membantu tenaga medis, suasana rumah sakit nampak riuh waktu itu, sibuk menanti kedatangan pasien baru, Madang kebingungan, kenapa bisa sesak napas secara masal, Madang menghampiri neng Sari, bagian receptionist.

 

“Itu adalah pasien yang diduga terinveksi virus baru pak, saya pun mendengar berita bahwa virus itu berasal dari negara tetangga, dan menjadi pandemi global saat ini, saran dari dokter tadi pakai masker dan gunakan hand sanitizer, supaya tidak tertular pak,” ucap neng Sari yang panik melihat tambahan pasien baru yang berdatangan.

 

Bukan virus yang madang takuti, terbayang Ikal dan Munir, bagaimana nasib mereka di rumah berpagu bocor. Madang berkecamuk pikiran sendiri.

 

Lepas hari itu, semuanya berubah secara drastis, tak ada lagi pasien penyakit umum di sana, hanya yang terinveksi virus itu saja, semua harus memakai alat pelindung diri, sama dengan Madang, meskipun hanya seorang cleaning servise, Madang ikut menjadi gardu dengan memastikan tempat di ruang isolasi harus steril, bersih. APD mereka kurang, Madang terpaksa memakai jas hujan, dan masker.

 

Madang tidak bisa pulang, tidur saja payah baginya. Kali ini ia harus berpikir keras, di satu sisi Madang bersyukur, ia tak lagi bergelar preman seperti dulu, tapi jarak semakin terbentang jauh menujuh rumah, Madang tak dapat menemui Munir dan Ikal, visi Madang kini hanya satu, bertahan untuk hidup orang banyak. Itu abdi dalam abadi katanya.

***

 

Ikal, anak semata wayang itu terisak petang, siang, malam, memanggil Madang tak jua pulang, ia rindu sang ayah, untung saja gaji Madang sudah berada di tangan Munir, juga selembar surat dari Madang untuknya.

 

“Untuk Munir, istriku, aku tak bisa pulang ke rumah hari ini, esok, ataupun lusa lagi, menjadi petugas cleaning service rumah sakit, menurutmu buruk ya? Namun tidak bagiku, ini pekerjaan mulia, sungguh! hidupku hanya biasa saja, kuingin namaku menjadi luar biasa ketika aku mati nanti. Jangan marah-marah lagi ketika kau memakai daster dan koyok di jidatmu, jangan lupa siapkan makan untuk Ikal, calon dokterku, dokter kita di masa depan, sudah kuletakkan uang di kaleng susu bekas, di bawah tumpukan baju dalam lemari, ambilah! beli beras, kecap, sayur, ikan, atau kau akan memasak rendang kesukaanku dan Ikal? Kau tak perlu cemas! jika hujan turun di malam hari, merembesi pagu kita, sudah ada loteng baru, dapur baru, kamar dan terasnya di rumah baru kita, kusiapkan untuk kau dan Ikal sejak 10 tahun lalu. Maaf aku tidak memberitahumu. Aku akan pulang ke rumah, selepas ini. Apa kau menyesal menjadi istriku, Munir? memilih preman sebagai suamimu? ayah dari Ikal?

 

Ikal hanya terpana melihat Ibunya menangis membaca surat itu, Munir nampak beda, nelangsa tersirat dari wajahnya, ia peluk Ikal yang tak paham apa yang terjadi.

 

Hari itu berita duka datang, satu orang dokter yang bekerja di rumah sakit tempat Madang bekerja, meninggal dunia karena positif virus, masih muda, masih panjang, namun singkat perjalanan hidupnya, Dokter Hasan, dia adalah dokter yang baik, dokter yang sering diceritakan Madang kepada Ikal. Dokter Hasan yang dalam tempo dekat akan melangsungkan pernikahan, lebih dulu menikahi takdir kematian.

 

Berhari-hari Madang di rumah sakit, tetap berkerja, namun hari itu ia merasa kurang sehat, mungkin karena bekerja terlalu ekstra pikirnya, ditambah batuk-batuk yang mengundang pandang tenaga medis padanya, napas Madang berfrekuensi tidak karuan, dengan ritme yang tidak teratur. Madang jatuh dan dibawa tenaga medis yang lengkap dengan alat pelindung diri untuk segera ditangani.

 

Ibu muda bersama anak laki-laki itu berdiri mematik dari jendela kaca, kali ini tidak berdaster, tapi baju kurung abu-abu dengan selendang putih menutupi rambut, anak laki-laki itu memakai kaos hitam bergambar ninja. Hanya mata sembab yang terlihat, mulutnya tertutup masker penuh. Barangkali ada kata tak sampai, hingga angin menyibakkan tirai, mengundang Madang melirik padanya.

 

“Jaga dirimu Munir, dan Ikal, aku bersyukur karena mendapati kalian dalam hidupku ini, aku mencintaimu Munir, dan aku juga mencintai Ikal, dia harus menjadi dokter nanti, seperti Dokter Hasan, dia dokter yang baik, jangan meniruku, katakan pada Ikal.”

 

“Abang, maafkan aku, izinkan kusimpuhi kakimu, betapa besar dosaku sebagai seorang istri, pulanglah ke rumah bang, bersamaku dan Ikal, kami merindukan hadirmu di rumah, abang preman terbaik dalam hidupku, dan ayah terbaik untuk Ikal,” Munir menyentuhkan tangannya pada wajah Madang yang  membias di kaca jendela.

 

“Ayah!!!!!!!!!!” Ikal menderu, memanggil Madang, teriak lantang disertai tangis yang pecah.

Madang melambaikan tangan menyeka air mata lalu menawarkan senyum pada Ikal.

 

“Apa ayah akan pulang ke rumah bu?” tanya Ikal dengan tatapan nanap.

“Iya nak, sebentar lagi ayah pulang ke rumah baru kita,” ujar Munir menenangkan Ikal.

 

Madang sudah melakukan tugas, kewajiban, serta dedikasi untuk membantu berjuang. Pekerjaan Madang mungkin biasa saja di waktu biasa, namun jasa Madang amat luas biasa sebagai pahlawan terdepan untuk memutus rantai penularan.

 

Pukul 12:00 siang, waktu seakan berhenti di sana. Madang akhirnya pulang, sesuai pinta Munir. Pagu baru untuk Munir dan Ikal takkan membuatnya kuyub tertimpa lenting hujan, Madang pulang sendiri, tanpa Munir dan Ikal, tapi kali ini ia pulang dengan senyuman.

 

Silvha Darmayani. Mahasiswa Universitas Andalas Sastra Indonesia dan tinggal di Padang. Email: silvhadarmayani@gmail.com. Ig: uniisyil_

 

Ilustrasi foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*