Topbar widget area empty.
Sandal Jamal Hilang Sendal Jamal Tampilan penuh

Sandal Jamal Hilang

Cerpen Nuzul Ilmiawan

 

 

 

Dua hari ini, wajah Jamal tampak gelisah gundah gulana. Ia selalu tampak murung bila berjalan Bagaimana tidak, sandal yang baru dibeli Jamal mahal-mahal tiba-tiba hilang entah kemana ketika ia baru saja pulang jumatan untuk pertama kalinya. Iya, pertama kalinya. Entah dari mana datang hidayah itu, hingga membuat Jamal berkeinginan untuk jumatan. Padahal sebelum-sebelumnya, ia tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke mesjid itu. Ada-ada saja Jamal.

 

Kini banyak kebiasaan baru Jamal sehabis pulang kerja, mencari sandalnya yang hilang entah kemana.  Juga karena sandalnya hilang, Jamal jadi lebih sering bersosialisasi dengan warga Kampung Peletuk, yang mana Jamal hanya muncul sesekali saja. Mungkin karena Jamal sibuk dengan kerjanya, pikir mereka.

 

Warga kampung sebenarnya tidak benci kepada Jamal, karena ia orangnya suka bergurau. Namun, ada satu sifat Jamal yang membuat warga kampung sedikit kesal; biasanya di tengah-tengah ia berbicara, tak jarang Jamal memamerkan sesuatu kepada orang-orang, baik itu sesuatu dari dirinya, ataupun pasangannya yang cantik. Tetapi warga memandang hal itu dari segi positif, mereka menganggap itu hanya bagian dari gurauan Jamal saja, dan sekarang mereka sadar, ternyata Jamal memang begitu orangnya. Suka pamer. Jamal juga tak peduli akan topik pembicaraannya, ia langsung saja ceplas-ceplos. Pernah sekali waktu Jamal membicarakan seputar masalah rumah tangga, orang-orang sesekali tertawa mendengarnya bercerita, tetapi tiada yang menengok, bahwa Karsiman, ayah anak tiga yang ikut nimbrung dalam pembicaraan itu sedari tadi tampak murung mendengar cerita yang disampaikan oleh Jamal, karena begitu persis dengan kehidupannya. Jamal juga orangnya malas mendengar, sekali ada orang yang bercerita langsung dipotong atau disahutnya. Atau Jamal melontarkan sebuah candaan yang berkaitan dengan pembicaraan orang itu, yang membuat orang yang tengah berbicara merasa kesal.

 

Jamal oh Jamal, agaknya dengan menghilang sandal barunya itu, membuat Jamal jadi lebih mengenal warga sekampung seperti apa. Jamal saja terkejut, kala mendengar sebuah perbincangan ketika ia tengah mencari sandalnya di depan kedai Pak Haji Muslim. Kabarnya bahwa, Pak Haji Muslim sudah punya sembilan anak, yang mana Jamal hanya tahu beliau cuma punya dua anak sebelumnya. Banyak hikmah lain yang bisa diambil oleh Jamal dalam kesialan yang menimpanya itu, salah satunya ia tidak perlu lagi buang-buang waktu, bersusah-payah untuk memamerkan sandalnya yang mahal itu kepada orang-orang.

 

“Nah lihat, bagaimana sandal baru saya? Cantik, kan! Ya pasti cantiklah, Mahal belinya!” ujar Jamal ketika memamerkan sandalnya di hadapan Pak Kasim, ketua RT, dan dua orang tetangganya.

 

Mereka hanya manggut-manggut dan tersenyum simpul. Tetapi yang Jamal tidak tahu, mereka sebenarnya hanya berpura-pura memujinya. Nyatanya di belakang Jamal, mereka malah mencemooh sifat Jamal yang suka memamerkan sandal barunya kepada orang-orang. Kini malahan, tak jarang sandal Jamal yang hilang dijadikan bahan lelucon oleh warga sekampung. Yang mana membuat warga merasa puas, mampu membalas kesombongan Jamal.

 

“Cantik sekali sandalmu Jamal, sederhana tapi elegan!” ujar Kadir seraya terkekeh-kekeh ketika melihat Jamal sedang celingak-celinguk keliling kampung dengan sepasang sandal swallow yang baru ia beli di warung.

 

Jamal hanya tertunduk murung, mulutnya terbungkam. Kasihan Jamal. Padahal sandal itu baru seumur jagung di kakinya. Jamal tidak menyangka secepat itu ia harus berpisah dengan sandal kesayangannya itu. Sandal yang begitu ia idam-idamkan kala itu, ketika ia sedang berkeliling mal seorang diri, kini hilang dalam sekejap mata.

 

Jamal membeli sandal itu satu minggu yang lalu, selepas ia pulang bekerja di hari jumat. Jamal menyempatkan diri untuk singgah sejenak ke mal yang berdekatan dengan kantornya. Mumpung besok libur, rencananya ia hanya sekedar cuci mata saja sambil menghibur diri melepas penat setelah satu minggu bekerja keras, ditambah dua malam lembur akibat banyaknya klien Jamal yang meminta ia untuk merevisi rancangannya. Juga sekalian, di hari itu ia mau mencari-cari gelas cantik untuk kekasihnya, Jenny sebagai hadiah di hari ulang tahunnya.

 

Setelah ia berkeliling berjam-jam dan akhirnya mendapatkan gelas yang cocok untuk Jenny, ia pun beranjak pulang. Melewati beraneka ragam toko yang menjual banyak macam-macam barang seperti sepatu, perhiasan, ponsel, dan juga jimat. Tiba-tiba terhenti langkahnya di salah satu toko sepatu dan sandal yang dilaluinya tatkala matanya tak sengaja tertuju pada sandal kulit yang dipajang di depan toko. Ia coba mendekat, melihat sandal itu lebih detil. Benar saja, dalam sekejap, Jamal langsung jatuh hati. Karena memang designnya elegan dan barangnya pun nyaman bila dipakai. Tetapi, sempat ia urungkan niatnya membeli sandal itu tatkala melihat label harganya itu seketika membuat kepala Jamal pusing dan ingin muntah, Rp 899.000. Itu sama saja satu per empat gaji Jamal tiap bulan. Jamal bimbang bukan main, berdenyut-denyut urat nadi di kepalanya. Hingga sempat ia menaruh kembali sandal impiannya itu ke tempat semula sebelum akhirnya seorang pelayan perempuan datang melayani Jamal dengan hangat.

 

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?”

“Oh, tidak apa-apa, saya juga mau pul—“

“Sandal tadi bagus kok, cocok di Masnya,” potong pelayan tadi seraya menunjuk kepada sandal impian Jamal.

“Iya, saya mau beli sandal itu tadi, tapi melihat harganya hampir copot jantung saya dibuatnya.”

 

Si pelayan terkekeh-kekeh, “Oh, tenang, Mas! Sandal itu sepertinya sedang ada promo, sebentar saya cek dulu,” ujar si pelayan perempuan itu yang kemudian membuka buku catatan besar yang selalu ia pegang kemana-mana.

“Oh, Masnya hari ini sedang beruntung,”

“Benarkah?” Jamal kesenangan.

“Benar, Mas. Hari ini itu hari terakhir promo sandal ini. Jadi, Mas berhak mendapatkan potongan setengah harga. Bagaimana, Mas?” tawar si pelayan dengan tersenyum licik, “sandal ini juga tahan air, jadi aman, tak gampang putus apabila terkena hujan atau genangan air, kan akhir-akhir ini jalan banyak lubangnya, Mas! Sangat direkomendasikan memakai sandal anti air, apalagi sekarang musim hujan,” goda si pelayan dengan percaya diri.

 

Ketika mendengar perkataan si pelayan, Jamal melompat-lompat kegirangan, tetapi ia tidak mungkin benar-benar melompat di hadapan si pelayan, itu hanya di hatinya saja. Lalu tanpa membuang waktu lebih lama, Jamal pun segera mengambil sandal itu dan membawanya ke meja kasir. Selepas membayar, sandal itu langsung dipakainya, menggantikan sepatu kerjanya yang sudah butut, tidak bergaya.

 

Ketika itu di kepala Jamal, ia langsung membayangkan wajah orang-orang yang terkesima dengan sandal yang baru dibelinya itu. Tidak sabar ia ingin memamerkannya kepada orang-orang.

 

Tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba saja terbesit sebuah ide di kepalanya, tepat sebelum ia tidur di malam itu.

 

“Bagaimana jika sandal ini aku bawa saja ketika jumatan, hitung-hitung aku sendiri juga belum pernah jumatan. Tentu nanti, orang-orang kan merasa takjub dan iri ketika melihat sandal baruku ini,” gumam Jamal malam itu.

 

Selanjutnya, hari-hari Jamal terasa berwarna, ia merasa ketika ia berjalan semua orang memandangi sandalnya. Hingga akhirnya, hari jumat yang ia nanti-nanti pun tiba. Sehabis kerja, Jamal segera pulang dan bergegas mandi. Berdandan rapi, menyemprotkan minyak wangi di baju putihnya. Lalu berangkat ke mesjid dengan beralaskan sandal barunya yang mahal itu. Benar saja, Jamal menarik semua mata orang. Semua perhatian mereka tertuju padanya, tetapi bukan pada sandalnya, melainkan merasa kebingungan akan perihal apa yang menimpa Jamal sehingga Jamal memutuskan untuk jumatan.

 

Setelah mengambil wudhu, Jamal menaruh sandal cantiknya itu dengan rapi di antara sandal-sandal jepit para jamaah lainnya, lalu masuk dan mendengar khotbah dengan tertib.

 

Ibadah Jumat berlangsung khidmat. Setelah mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan berdoa bersama, orang-orang melangkah pulang. Begitupula Jamal yang segera berjalan keluar dengan membusungkan dadanya. Ketika sampai di luar, Jamal berteriak mengejutkan para jamaah tatkala melihat sandal yang ia bawa telah tiada. Jamal panik bukan kepalang. Orang-orang memandang aneh kepada Jamal. Tetapi, Jamal tidak peduli. Baginya, sandalnya itu yang utama. Terpaksalah di hari itu, Jamal melangkah pulang dengan telanjang kaki. Hatinya bercampur kecewa dan rasa malu.

 

“Niatnya mau Jumatan, kok malah kena apes,” gerutu Jamal.

 

Dua hari setelah kejadian itu, tepatnya hari minggu, hari ini. Jamal ingin memanfaatkan waktu luangnya dengan berkeliling kampung seharian demi mencari sandalnya. Namun sayang, sudah empat jam ia berkeliling, ia belum juga menemukan sandalnya, yang ia dapat malah olok-olokan dan cemoohan warga kampung.

 

Muka Jamal tampak memerah, sebab paparan sinar matahari yang begitu menyengat. Bajunya juga sudah basah oleh peluh. Jamal terduduk lelah seraya merenung di bawah pohon mangga di depan masjid, tempat ia jumatan dua hari yang lalu.

 

Namun tatkala Jamal ingin melangkah pulang, sesosok Ajis Malau, seorang pemulung yang suka nongkrong di warung tiba-tiba muncul dengan menarik bak sampah besar di belakangnya seraya mengenakan sandal yang mirip sekali dengan sandal milik Jamal. Jamal mendekati Ajis Malau dengan wajah garang penuh dendam. Semua amarah menumpuk di pucuk kepala Jamal yang ikut terbakar oleh sinar matahari.

 

“Pencuri! Ternyata kau pelakunya!” tuduh Jamal yang membuat Ajis Malau terkejut dan gemetaran.

 

Ajis Malau gelagapan ketika hendak menanggapi tuduhan Jamal. Semuanya terlukis jelas di wajahnya, tak mungkin bisa ia elak lagi. Sandal yang dipakai Ajis Malau jelas bukan kepunyaannya, melainkan Jamal. Jamal naik pitam kepada Ajis Malau. Ingin sekali ia melambungkan satu tinjuan ke mukanya yang tirus itu. Tetapi ia tahan, sebab melihat Ajis Malau itu orang yang sudah tua, tidak tega ia memukulinya.

 

“Dasar kau pencuri! Dua hari saya tidak bisa tidur memikirkan sandal saya yang hilang, ternyata kau yang mengambilnya!” bentak Jamal, “untung saya tidak melaporkannya kepada polisi, jikalau saya lapor bisa panjang urusannya kan!”

“I-iya Mas Jamal, maaf! ini sandalnya saya balikin,” ujar Ajis Malau terbata-bata seraya mengembalikan sandal Jamal yang ia ambil tanpa permisi.

“Mas Jamal jangan laporin ke polisi, yah! Saya takut, anak saya lima, mas…” melas Ajis Malau kepada Jamal yang tengah berdiri berkacak pinggang dengan raut wajah marah dan merah memandangnya. Tetapi, tak lama kemudian muncul rasa iba di hati Jamal, mengingat jika memang dilaporkan tentu akan lebih lama penyelesaiannya, toh sandalnya sudah kembali.

“Yaudah iya, tidak saya laporkan. Tetapi, kenapa mas Ajis Malau mencuri sandal saya? Sedang mas Ajis yang saya kenal, bukan seorang pencuri, bukan?”

“Bukan, Mas! Saya bukan pencuri,” jawab Ajis Malau seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia bercerita, “jadi waktu itu, seusai salat jumat, saya langsung keluar. Saya lihat sandal Mas Jamal yang tampak berbeda dari yang lain. Saya kira bukan milik warga, saya pikir itu punya orang luar kampung, muncullah keinginan saya untuk membawa pulang sandal itu,”

“Tunggu!,” potong Jamal, “orang luar?”

“Iya, orang luar. Tamu maksudnya, mas. Soalnya, kalau memang itu punya warga kampung, kenapa tidak pernah kelihatan sandal itu sehabis jumatan? Dan kalaupun memang sandal itu kepunyaan warga, tidak mungkin sandal sebagus dan semahal itu dibawa ketika jumatan, memangnya jumatan itu tempat pamer sandal apa,” Ajis Malau tertawa, “sudah pasti itu kepunyaan orang luar kampung, pikir saya mas kala itu, makanya saya ambil. Maaf ya, Mas…”

 

Jamal yang sempat naik daun telinganya ketika mendengar sandalnya dibilang bagus dan mahal, seketika terdiam membatu tatkala mendengar ucapan Ajis Malau yang begitu menusuk hatinya dan membuatnya tersadar, bahwa semua yang ia lakukan adalah kesia-siaan.

 

Jamal tak tahu lagi kata-kata apa yang pantas diucapkan untuk membalas perkataan Ajis Malau itu. Jamal hanya bisa terdiam, menatap wajah Ajis Malau yang setengah tersenyum.

 

“Mas? Halo? Halo, mas? Mas Jamal!”



 

Tak ada jawaban.

 

Banda Aceh, 2020

 

Nuzul Ilmiawan, merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireun, 19 Oktober 2001.

 

Photo by @thiszun (follow me on IG, FB) from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*