Topbar widget area empty.
Tamu-Tamu Maswari Tamu Maswari Tampilan penuh

Tamu-Tamu Maswari

Cerpen Ubaidillah Arif

 

 

 

Saya berada di sebuah kamar. Tetapi, itu bukan berarti kamar saya. Saya hanya kebetulan mampir. Sepulang dari Pondok Ranji—mengingat jarak yang akan saya tempuh sekitar dua jam, juga sudah larut malam, dan teringat rumah teman saya di dekat stasiun sini, akhirnya saya mantabkan menginap dan melanjutkan perjalanan besok pagi.

 

“Ini kopimu dan ini tehku!” kata Maswari, meletakkan gelas bening di depan saya dan gelas plastik warna merah di hadapannya.

“Terima kasih!” kata saya.

“Sama-sama.”

“Kemana Matroni?”

“Aku berharap, kau bakal lama tinggal lama di sini. Aku kesepian. Matroni sudah pulang kampung sejak seminggu yang lalu.”

“Apa dia ketakutan?”

“Mungkin. Tetapi yang pasti, Matroni diminta Ibunya pulang untuk membantu pertanian. Dalam waktu dekat ini, musim panen padi kedua akan tiba, katanya.”

“Yah. . . Itu lebih baik dari pada harus mengurung diri di kamar ini, dan tidak melakukan apa pun selama masa pandemi.”

 

Setelah menyeruput kopi, saya mengeluarkan bungkus rokok dari dalam tas selempang berwarna hitam yang kuletakkan di lantai sejak duduk tadi, lalu mengambil sebatang dan menyulutnya. Hisapan pertama kusemburkan ke udara, asap menyeruak dan berputar memenuhi sudut-sudut kamar, disusul semburan asap kedua, ketiga, dan seterusnya.

 

Maswari memulai akting batuk-batuknya seperti biasa. Dan saya menontonnya, sambil lalu tertawa secukupnya. Kemudian dia menyalakan kipas, berjalan menuju pintu, dan membukanya lebar-lebar.

 

“Justru aku lebih suka keadaan semacam ini.” Ia berkata sambil berjalan menuju kasur lipat yang didudukinya tadi. “Bukan berarti aku bergembira dengan kematian yang terus membeludak setiap hari. Aku hanya berpikir, aku punya waktu banyak berdialog dengan diri sendiri, membaca dan menghangatkan kembali ingatan-ingatan yang terasa basi, lalu menulisnya sampai habis.”

“Sa’karepmu¸Mas!” ejek saya, kemudian tertawa. Maswari tidak menggubrisnya. Ia melanjutkan.

“Hanya saja, aku mulai sadar, kesendirian itu tidak benar-benar mengasyikkan seperti yang kubayangkan. Sesekali, aku butuh seseorang untuk diajak bicara. Sekadar memastikan, bahwa aku tidak sedang gila.”

“Jika sedang sepi pembeli, aku rasa, duduk di balik etalase—melihat gantungan pembalut; rencengan bumbu dapur, sampo, kopi; tumpukan gas dan galon, juga sangat membosankan, Mas.”

“Aku biasa menyeduh segelas kopi dan teh untuk menghibur diri. Aku membayangkan seseorang datang mengetuk pintu, lalu mempersilakannya masuk. Aku akan berkata, ‘ini kopimu dan ini tehku!’ Biasanya, seseorang itu akan bilang ‘terima kasih!’ dan aku menjawabnya, ‘sama-sama’. Kami melangsungkan percakapan panjang. Kadang bicara seputar filsafat, berdebat soal konflik agama dan dunia sufi, dan menceritakan ulang novel dan karya sastra yang telah kubaca, sampai kopi dan teh di hadapan kami habis. Pada saat itulah, biasanya, kesadaranku pulih, bahwa segelas kopi dan teh itu semuanya telah kuminum sendiri.”

 

Saya tidak terkejut dengan kebiasaan Maswari akhir-akhir ini. Saya bisa memaklumi, karena itulah cara dia berdamai dengan dirinya sendiri. “Siapa saja yang kau undang ke kamarmu ini?”

“Ibuku.”

“Lalu?”

“Kakekku.”

“Siapa lagi?”

“Kiaiku.”

“Apakah masih banyak?”

“Dosen filsafatku. Socrates. Descartes. Kant. Heidegger. Habermas. Al-Ghazali. Rumi. Hemingway. Gorky. Steinbeck. Wilde. Kafka. Tagore. El-Shadawi. Pushkin. Marx. Soekarno. Aidit. Pram. Chairil. Jassin. Sapardi. GM. Putu. Rendra. Seno. Agus Noor. Aan. Sarjono. Ruksmini. Dee. Okky. Djenar. Eka. Mahwi Air tawar.”

“Sudah?”

“Kekasihku, dan Mattali”

 

Saya tidak menyangka, nama saya masuk daftar juga. Dan, saya merasa tidak apa-apa. Itu anehnya. Mungkin, ini bukan pertama kali saya hadir di kamar ini. Saya datang karena Maswari mengundang, kadang memang atas kemauan saya sendiri. “Apa yang kau bicarakan dengan kekasihmu?” tanya saya.

“Tidak banyak. Dan perbincangan kami biasanya tidak terlalu lama. Tetapi, ada beberapa pertanyaan yang seringkali kuajukan padanya. Mungkin, dia bosan mendengarnya.”

“Katakan!”

“Tidak perlu.”

“Aku ingin tahu.”

“Kau bukan kekasihku.”

“Aku sohibmu!”

“Untuk apa? Dia juga tidak pernah menjawabnya. Tidak penting mempertanyakan sesuatu yang tidak ada. Itu kesalahanku. Kita cukup nikmati yang tampak di depan mata. Kalau pun sesuatu itu pernah ada, kita tidak perlu merasa tersiksa dengan kehilangannya. Aku percaya,

kehilangan adalah kedatangan yang sesungguhnya. Banyak hal yang kita miliki atau perlu kita lakukan, tetapi tidak kita sadari sebelumnya.”

“Ya. Aku tidak harus menyangkalnya. Aku yakin, kau sudah membahas itu berulang-ulang dengan tamu-tamu khayalanmu.”

“Sekarang, kopimu sudah habis.” kata Maswari tiba-tiba.

“Apa maksudmu?”

“Kamu boleh pergi.”

“Mas, coba lihat! Ini aku, Mattali!”

“Aku tahu. Silakan kamu pergi!”

“Maswari! Sadarlah!” saya terus membujuk Maswari untuk meyakinkannya.

“Aku sudah sadar. Sebab itulah, kau harus pergi!”

“Mas. . tidak. Aku tidak mau pergi. Aku mau menginap di sini!”

Mata Maswari memerah. Dia berdiri. Tangannya bergerak mengambil ancang-ancang. Lalu, telunjuknya menunjuk ke luar pintu yang terbuka, gerakannya secepat kedipan mata. “Pergi!” suaranya cukup keras.

“Ta. ta. . pi. .” kemudian saya pergi. Pergi begitu saja. Lenyap di batas pijar lampu semprong yang menerangi halaman rumahnya.

Ciputat, 2020

 

Ubaidillah Arif, Mahasiswa. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Sekarang aktif di berbagai komunitas seni dan sastra. Bekerja sebagai Penjaga warung kelontong Madura. Bisa dihubungi lebih akrab lewat Email : kantungmata26@gmail.com, FB: Ubaidillah Arif, twitter : @jarangkumis.

 

Photo by Jonathan Borba from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: