Topbar widget area empty.
14 Hari Puisi Religi: Berharap Kekal Nyatanya Fana cover Nyatanya Fana Tampilan penuh

14 Hari Puisi Religi: Berharap Kekal Nyatanya Fana

Selarung Doa Senoktah Pinta

Oleh: Ezhu Nurmagemadov

 

Seuntai nada melarungkan doa

terucap dari bibir memamah duka

secuil harap bersulam pinta

dari senyum yang tercerabut dari pualamnya rupa

 

selaksa puja bertatahkan roja’ pada zat-Nya

alfu khauf bernoktahkan khusyu’ di penghujung lail-Nya

pada yang empunya harap kami

menitiskan sekelindan bening dari relung tirtanya

 

Wahai penguasa secupak air saat dahaga

Engkau tak mungkin lelap walau sekejap

marah-Mu meluluhlantakkan bumi

murka-Mu membuat kering perigi

 

bermunajat kami tersimpanlah buhul

tersedu kami agar Kau buka simpul

tak lama lagi kembang kembali mekar

roman nan layu surya suminar

 

Rumoh Panyang, Aceh Barat Daya

penghujung senja, April 2020

 

 

 

 

Berharap Kekal Nyatanya Fana

Oleh: Ezhu Nurmagemadov

 

Apa yang kau rindukan dari perjumpaan?

tentu saja binar pualam dari sepasang bohlam yang sesekali mengerjap demi sebuah kenistaan,

adalah sebuah kesia-siaan berharap kekal dari sebuah perjumpaan, karena hakikat fana itu tidak pernah abadi

 

Rumoh Panyang, Aceh Barat Daya, 30 maret 2020

 

 

 

 

Senarai Asa untuk Negeri Syuhada

Oleh: Ezhu Nurmagemadov

 

Jeri, rasa itu berkelindan dalam garis khayalku

membayangkan ribuan mortir tumpah ruah membuat linangan darah beranak sungai di negeri mulia, ribuan mayat meregang nyawa, duka dan nestapa tak terperi

 

adakah secuil iba, selaksa doa dan secawan tirta yang kita sisihkan untuk mereka, ataupun sepinggan gandum, sekelebat selimut, senampan minyak untuk mengusir lapar, menghalau dingin  dan secercah cahaya dari kita untuk mereka

 

sungguh desingan peluru ibarat nyanyian merdu pengantar tidur bagi mereka, pekikan takbir penuh semangat  disertai sesungging senyum yang dikulum kerap mengantar mereka ke alam fana

 

hanya secuil harapan agar negeri anbiya terbebas dari beringasnya bangsa kera terkutuk, agar tak ada lagi kematian, agar tersemai berjuta harapan di wajah teduh generasi syuhada

 

Pesisir kota, Medio November 2019

 

 

 

 

 

Selaksa Doa Tercurah Buat Ayah

Oleh: Ezhu Nurmagemadov

 

Serenade senja mulai menapaki bumi

perlahan rinai luruh ke tanah

puluhan sampan nelayan mulai meninggalkan dermaga

sejenak aku tercenung

Ada yang mengusik naluriku

 

Deburan ombak menyadarkanku

akan butiran peluh yang tercurah lembaran kisah yang penuh resah

kekhawatiran akan orang terkasih yang melepas sauh di tengah samudra

selaksa do’a terus dihadirkan ke haribaan

Zat yang menggenggam jiwa

Sejuta titik mengembun di atas sajadah

agar hasil melimpah ruah.

 

Perlahan fajar mulai menyingsing

semburat jingga mulai mengganti kegelapan

bila laut bersahabat,  jenis tangkapan be rupa-rupa

Berbagai macam ikan, enak dicecap jika sudah digulai

berbagai jenis kerang pun membangkitkan selera bila sudah di masak bunda

 

Pagi kian merangkak menjelang siang,  akupun membantu bunda,  menanak nasi,  meracik bumbu,  berusaha menghidangkan yang terbaik buat ayah yang semalaman melaut,  menyingsingkan lengan,  mempertaruhkan nyawa.

Demi aku dan bunda,  orang yang paling di cinta

 

Medio Januari 2019

 

Ezhu Nurmagemadov adalah nama pena dari TM Reza Fahlevi. Aktif di FLP Medan dan Liksitera atau bilik puisi sumatera. Karyanya telah dimuat di 3 buku antologi puisi berjudul Tanah bari, antologi puisi kota Binjai, dan antologi puisi kota cina. Sekarang aktif membina kelas online terkait puisi dan terus berkreasi membuat konten untuk akun youtube yang sedang dirintis. Penulis bisa dihubungi di galeri instagram: @tm_reza_fahlevi dan laman FB: Teuku Muhammad Reza Fahlevi

 

Photo by Emmet from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: