Topbar widget area empty.
14 Hari Puisi Religi: Kekosonganmu cover Kekosongan Tampilan penuh

14 Hari Puisi Religi: Kekosonganmu

Puisi Religi Arie Siregar dan Amaq Alifa

 

 

 

Ramadhan Ini

Oleh: Arie Siregar

 

Ramadhan ini bukan seperti kereta yang kau tumpangi

di tahun-tahun lalu. gerbong-gerbong bersenyawa

dengan rindu pada hangat dan sejuk kampung-kampung.

Yang eramkan tawa dan tangis dalam bayang-bayang

rupa dan sanak. Dan semua citarasa kecintaan lidahmu

yang balik kanak-kanak.

 

Sebab kau pun tahu Tuhan menjelmakan diri-Nya hari

ini sebagai halus dan tipisnya wabah. Meremas-remas

kecemasan dalam diri tiap orang; jatuhkan tetes-tetes

keegoisan, prasangka, atau kepedulian yang entah akan

semakin fakir.

 

Maka itu kau harus kaji lagi suci dalam Ramadhan ini.

Dari sunyi sepinya yang dulu tiada. Dari nyaringnya

keluh yang kini tak lelah dan sudah. Sebab boleh jadi,

Tuhan hanya ingin kau kembali utuh untuk-Nya.

 

Rantauprapat, Mei 2020.

 

 

 

 

Kekosonganmu

Oleh: Arie Siregar

 

Malam turun semakin dalam menyentuh seluruh

kekosonganmu. Kau sedang belajar mengisi dan

Tuhan telah mengajarimu banyak hal. Dan kau

percaya Tuhan mengambil alih dirimu ketika

hilang kau dalam rimbunan ayat-ayat-Nya.

 

“Hujan berbisik apa pada musim yang seharusnya

memakai jubah kemaraunya.”

 

Kau ingin setiap pertanyaan berlari mencari sendiri

jawabannya. Atau memilih mati dan hilang sebelum

sampai ke kepalamu.

 

Tapi kau tahu betul dingin yang datang bukan tak

menembus dinding-dinding keteguhanmu. Kau

lemah seperti dihantam ombak masa lalu. Berharap

Tuhan lekas-lekas menyambut tanganmu. Lalu suci

kau kembali dari dosa-dosa.

 

Rantauprapat, Mei 2020.

 

 

 

 

Perempuan Lemah Itu

Oleh: Arie Siregar

 

Sudah cukup belukar doa-doa ia tanam dalam

luasnya lahan harapan. Ditaburinya jatuh dan

bangun semangat yang rentan redup dan padam.

 

Dan tak terhitung pula sajadah telah menampung

hujannya kala lemah sujud terjatuh. Rapuh ia

memikul takdir-takdir yang payah.

 

Seumpama fana ini selalu mudah membisikinya.

Betapa jilbab hidup yang hitam ingin pula

disingkapnya. Lalu atas kehendaknya sendiri,

menjelma ia Aisyah yang merdeka.

 

Rantauprapat, Mei 2020.

 

 

Arie Siregar, lahir di Rantauprapat, Kab. Labuhanbatu, Sumatera Utara, pada 21 Juli 1991. Ia alumnus Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang. Ia menerbitkan buku solo pertamanya, yakni kumpulan cerpen berjudul Mendendam, pada tahun 2017. Setelah itu, ia kemudian melahirkan karya berupa cerpen, puisi, dan cernak yang telah tayang di beberapa media online dan terhimpun dalam buku antologi yang hampir seluruhnya melalui proses kurasi. Selain menulis, kini ia juga bersibuk-sibuk diri di Arus Kata, yakni sebuah komunitas menulis yang ia dirikan bersama para penulis lain di Rantauprapat, dan sebuah forum yang dihuni para penulis dari Kab. Labuhanbatu, yakni Forum Penulis Labuhanbatu. Ia dapat dihubungi melalui surel: siregararie@gmail.com.

 

 

 

 

 

Fragmen

Oleh: Amaq Alifa

 

Kita yang tersiksa hari ini adalah dia yang terlena di masa lalu

Ketika Tuhan memanggil ribuan kali, kita malah abai berkali-kali

Kita yang tersiksa hari ini adalah dia yang lupa diri di masa lalu

Ketika Tuhan menyeru kebaikan, kita malah bangga dengan dosa-dosa

Kita yang tersiksa hari ini adalah dia yang tak peduli di masa lalu

Ketika Tuhan meminta untuk berbagi, kita malah tamak tak berperi

Kita yang tersiksa hari ini adalah dia yang angkuh di masa lalu

Ketika Tuhan menyodorkan cahaya, kita malah memilih gelap gulita

Maka di sinilah kita tanpa ampunan-Nya

Persis di kerak neraka

 

 

 

 

Restart

Oleh: Amaq Alifa

 

pulanglah, kawan

kembalilah, teman

pada hening di malam sunyi

pada sepi memeluk hati

saat mata yang terpejam melambai memanggil cahaya

dan gelayut pikiran yang meronta, menjauh dari himpitan siksa

dalam dekapan zikir

serta rangkaian bisikan doa

yang kau hantar

tulus ke pangkuan-Nya

 

 

 

 

Gema

Oleh: Amaq Alifa

 

Tuhan

Akulah kini mutiara yang tersisa

yang tercabik dari persimpangan ibu kota

yang terkoyak dari tipuan hoaks yang tak kunjung reda

taat bermunajat

pun menghujat

demi harkat dan martabat

yang kupegang erat-erat

 

Tuhan

Kilaukulah kini yang paling terang

yang kupungut dari potongan-potongan berserakan

lalu kurangkai meski tanpa murobbi

kemudian terpatri di dalam hati

tanpa seorang pun yang boleh menggurui

 

Tuhan

Saban hari kubisikkan doa

ranum menggema

berbalut cerca aneka rupa

dendam kesumat pada mereka

yang berbeda

Adakah Kau mendengarnya?

 

 

Amaq Alifa, lahir di Lombok Timur tahun 1983. Kini tinggal di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: