Topbar widget area empty.
14 Hari Puisi Religi: Sebaik Baik Tetap cover sebaik baik tetap Tampilan penuh

14 Hari Puisi Religi: Sebaik Baik Tetap

Puisi Religi Moehammad Abdoe dan Rendra Al Murtadho

 

 

Mani Bunga Keranda

Oleh: Moehammad Abdoe

 

Mani bunga keranda

Di pundak-pundak petani

Kereta arak-arakan

Payung zikir

 

Sepetak ladang basah

Bedeng renungnya rahim bumi

Ibunda hamil tua

Cangkul petani

 

Usai pasak pulang ke rumah

Sanak tetangga menanak nasi

Permadani senja buta

Menggelar kenduri

 

Kalipare, 9 Januari 2020.

 

  

 

 

Api

Oleh: Moehammad Abdoe.

 

Kuhisap cintamu pada api

Dalam sukmaku yang sunyi

Membentang kepak-kepak burung

Rindu menabik waktu

 

Aku tidaklah kau

Kecuali menyatu dalam dzatmu

Berkelana di gurun sahara

Desir angin sangkakala

 

Adanya dari hulu ke hilir

Tak usang oleh peradaban zaman

Cinta melebur dalam nirwana

Segala kuarsa pujangga hati

 

Rantau, 14 Desember 2019.

 

 

  

 

Maskumambang

Oleh: Moehammad Abdoe.

 

Siluet kapal menyempit ke pulau

Cahaya kuning dipancarkan

Mengapung dengan gelombang laut

Tercubit pasir basah

 

Gelora tangis bayi merah

Menangkup bebatuan telanjang

Berpayung pesisir sampai

Tohor telaga suci

 

Di keruh cahaya bulu matanya

Merayap kasih sayang

Tali pusat masih tertambat pada rahim

Jangan kelak beringkar janji

 

Kalipare, 4 April 2020.

 

 

Moehammad Abdoe, alumnus Jenderal Sudirman Kalipare, Malang, menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di berbagai buku antologi bersama dan media massa koran daerah. Alamat email-nya (Moehammadabdoe@gmail.com). Facebook (Abdu_thetoasters@yahoo.com).

 

 

 

 

 

Bunga Sosi

Oleh: Rendra Al Murtadho

 

pada jalanan kita adalah bunga-bunga

kehilangan kelopak

menjadi asing sendiri-sendiri.

 

pada rumah kita adalah sepasang sosi

membuka hati

menggugurkan keraguan tersembunyi

 

kemudian menurup erat-erat

membuang sosi

abadi

 

 

 

 

Sebaik-baik Tetap

Oleh: Rendra Al Murtadho

 

hari-hari memaksa kita menikmati gerakan-gerakan dalam ketidakpastian, dan menulis kembali ingatan-ingatan menyedihkan. kemudian ketidakpastian melahirkan ulang kenangan dari rahim kangen, dan menendangkan doa-doa. “berilah jalan nan cepat untuk mengakhiri ketidakpastian,” semua jalan-jalan telah ditutup, namun pasti di rumah adalah jalan sebaik-baiknya jalan.

 

 

 

 

Dobel Hesteg Hesteg

Oleh: Rendra Al Murtadho

 

kultus ke satu atau tiga sudah lengang

lalu sepi tiga dua satu habis

jalan jalan beku, dan makin dingin

tergelincir bingung ke sana sini sono

 

harapan mulai tumpul, diasah asah, lalu

salah asah. bilang satu dua tiga gasak, aha

ulang bangun harapan dalam diri, tapi

kemudian uh, terkepung entah mengepung

 

doa doa kerja dari rumah, namun

doa doa tidak bisa di rumah saja.

setelah itu hanya amin amin amin

tiga kali sambil asah asih usuh asoi

Diam dan Membaik

 

kini kita cukup menyemai

memupuk segala yang lupa dipupuk

setelah perang

kita keluar-masuk memanen

memberi pada lambung yang

telah tercabik-cabik

 

Rendra Al Murtadho, lahir di Kerinci, Jambi. Sedang menyelasaikan studi di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*