Topbar widget area empty.
14 Hari Puisi Religi: Sembahyang cover Sembahyang by Dewi Tampilan penuh

14 Hari Puisi Religi: Sembahyang

Puisi Religi Abi N Bayan, Nurul Mahabbah, dan Wahyu Hidayat

 

 

 

Bukan Kamu Na

Oleh: Abi N. Bayan

 

Sesungguhnya bukan kamu

yang mengkhawatirkan kami, Na

melainkan mulut para pendebah

yang setiap bicara lidahnya tidak pernah satu

sementara media begitu rajin membuat belenggu dan ketakutan

hingga makalah tentang pulang yang kami susun berbulan-bulan

di tempat kami—-mengabdi dan mengembara, kata dan kalimatnya

harus kami revisi berkali-kali, dan tak pernah bisa kami seminarkan

sementara wajah ibu, wajah tempat kami lahir, suaranya begitu ringis

memanggil-manggil dari meja makan yang sepi, dari rumah ibu yang sunyi.

 

Sesungguhnya bukan kamu

yang mengkhawatirkan kami, Na

melainkan mulut para pendebah

yang di dalam hatinya hanya uang

maka pulanglah, Na, biarkan kami

menjalani hari-hari mulia ini dengan damai

sebab sejatinya—kami– bukanlah musuhmu.

 

Galela, 2020.

 

 

 

 

Melihat Bulan Dan Membayangkan

Oleh: Abi N. Bayan

Dari balik jendela

kami melihat bulan dan membayangkan

sinarnya menyentuh mata kami yang lelah

di sebuah dego-dego yang kami buat dari bambu

tempat kami menukar cerita saat lapar dan dahaga

selesai kami bayar dan tunaikan.

 

Kami membayangkan di bawah sinarnya

kami duduk menukar-nukar cerita kecil kami

tentang laut, tentang kebun,

tentang segala yang menghidupkan

sambil mendengarkan suara ayah ibu-

suara anak-anak kami yang menggema.

 

Kami membayangkan sinarnya

menyapu-nyapu mata kami yang lelah

sebelum kami kembali ke rumah

dan tertidur dalam penuh rasa syukur.

 

Galela, 2020.

 

 

 

 

Di Rumah Tua

Oleh: Abi N. Bayan

 

Di waktu sahur
di waktu berbuka

mama selalu kehilangan
perihal yang tak pernah kami duga

sedang kami masih di rantau
dan tak tahu, kapan bisa pulang.

 

Galela, 2020.

 

Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan lahir di Desa Supu Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Hj. Rasiba Nabiu. Kini tinggal di Morotai sebagai guru MA Nurul Huda Gotalamo dan Pembina Sanggar Nurul Huda Gotalamo. Pada tahun ini (2019) ia dipercayakan sebagai penerima Anugerah Sastra Apajake (kategori penyair) dan salah satu nomine Anugerah Sastra Litera 2019. Karyanya tergabung dalam Antologi, diantaranya: Antologi Puisi Dari Negeri Poci 9: Pesisiran (2018), Perjumpaan: Antologi Sastra, Festival Sastra Bengkulu (2019, Membaca Asap (2019), Antologi: Situs Kota Cinta Dalam Puisi (2019), dll. Karyanya juga pernah dimuat di Majalah MAJAS Edisi-3. Email: abibayan1990@mail.com Facebook: Abi N. Bayan Instagram: Abi N. Bayan

 

 

 

 

 

Air Mata Surga

Oleh: Nurul Mahabbah

 

Sekalipun telah banyak kehilangan
Pandemik menggulung asa
merampas senyum yang kita ulas
meringkus kebersamaan
merenggut masa depan
Adalah pesan kasih
yang membisikkan sayang
saat kening di persandarannya
dan rahasia-rahasia langit terbuka

Kita menengadah
Mengecup sari pati cinta
yang berkelindan dalam iradat
Dalam linang ketakutan
Engkau berbisik mesra
Sungguh-sungguh sepenuh karsa

Aku menjadi tangan-Mu
dalam menggenggam bara
Aku menjadi kaki-Mu
menuju arasy
sembahyang sepanjang usia
Aku menjadi mata-Mu
membaca makrifat
mendedah hayat
Aku menjadi telinga-Mu
menyimak kalam
meresap hingga ke sumsum

Covid yang menyeret langkah
Menampar pongah
Meluruhkan karat hati
Lantas bersimpuh sepenuh arti

Cirebon, 7 Mei 2020

 

 

 

 

Sembahyang

Oleh: Nurul Mahabbah

 

Subuh-Mu
Setan-setan menggeliat
membisikkan mantra
mengipas bulu mata
bergelayut di ubun-ubun
mengeloni budak-budak kemunafikkan

Zuhur-Mu
Prajurit Ifrit
berjejal di jantung kota
berperang menaklukkan kekuasaan
mengais cinta
pada tuan puan pencumbu berlian

Asar-Mu
Hamba-hamba metropolitan
bersandar di bar-bar
meneguk secawan anggur

Magrib-Mu
Berdesakkan di ruas jalan
yang mengumpat kebiadaban

Isya-Mu
Jerih sudah…
keserakahan yang diembuskan angin malam
diremas ketakberdayaan
terlelap dalam selimut lena

Tamu datang
Setan lari blingsatan
Jera… dibelenggu neraka
Ramadan
Permadani surga terhampar
Pagi-Mu haru
Siang-Mu merdu
Sore-Mu syahdu
Malam-Mu rindu

Cirebon, 9 Mei 2020

 

 

 

 

Rimbun

Oleh: Nurul Mahabbah

 

Tuhan mengabarkan
Sajak-sajak yang tumbuh
di pekaranganmu
telah menjalar penuhi mataku
Dedaun yang mendesau
dibelai angin
Sajak bisu
Lafazmu kelu
Sudah lama kauikat makna-makna liar
yang memasungmu
dalam pengejawantahan hakiki

Akar-akarmu menghunjam
menghijabi tatap dan sentuh
Perisai yang kaubangun
dari kerahasiaanmu dan Tuhan
Begitu kuat dan dalam
Tak mampu kusesap walau setitik
madu dari benang sarimu
Tak mampu kusibak
jelita yang kausimpan
di balik larik yang kautanam

Cirebon, 8 Mei 2020

 

Nurul Mahabbah memiliki nama lengkap Nur Zulfiani Imamah yang memiliki nama pena. Ia merupakan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cirebon. Aktivitasnya sekarang menjadi guru bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Modern Al Muqoddas Sumber Kabupaten Cirebon. Pembaca dapat mengontaknya di sur-el: nurzulfiani.imamah@gmail.com dan Facebook: Nur Zulfiani Imamah.

 

 

 

 

Mengaji

Oleh: Wahyu Hidayat

 

membaca Firman dan

mengeja kematian

adalah perintah Tuhan

sebelum kita menyusur

ke negeri yang lain

 

mengaji di kursi tamu

semisal membaca kebenaran

yang benar-benar benar.

kita pun melihat

cahaya merembas dari

jendela dekat ruang tamu

 

berikutnya kilau itu

menyentuh dada kita

dan degub jadi teratur,

lalu getaran luka lekas

pergi ke sungai purba

bersama alirnya

menuju mulut laut

 

kita masih mengaji

di seruang kamar, di rumah-Nya

di pinggang hari

di bibir senja yang tembaga

di pucuk malam atau

di pagi yang begitu bening

sewaktu-waktu

 

dan sebab mengaji

kita jadi mengerti

kenapa hidup tak terbaca

dan takdir tak bisa

diukir cuma dengan

melipat tangan

 

2020

 

 

 

 

Pukul 02.30

Oleh: Wahyu Hidayat

 

aku cuma meminta-minta

sebagai hamba

yang ingin terbang

seperti layang-layang

 

malam sudah pergi

mungkin pergi, lalu mataku

nyala seperti lelampu yang

hinggap di gang jalan

pun ini tangan terus tengadah

ke langit lepas

 

itu langit alangkah gaduh

seperti bakal runtuh,

tapi bukan sebab petaka

barangkali sebagai jerih

dari doa-doa

dan luas kasih-Nya

 

2020

 

 

 

 

Terlampau Cemas

Oleh: Wahyu Hidayat

 

1.

bumi jadinya begini

amat risau dan berkekasih sedih

malam pun seringkali

merayakan tangis bulan;

siang yang bolong

mencekik leher matahari—

sesiapa saja bisa berpulang

lantaran napas kita dicuri korona.

kita pun kehilangan nalar

dan berjerih hati

yang begitu waswas.

hei, kepada siapa

kita hendak menanyakan ruh

yang berlari atau dicuri?

 

2.

orang-orang sampai lupa

berzikir dan menyepi

di ubun malam

tak meminta sedikit cinta

atau serantang sayang.

mereka lebih takut kepada

selain Tuhan

 

2020

 

Wahyu Hidayat, merupakan penulis dari Lampung. Buku terbarunya yang terbit tahun 2019 adalah Ozlemli Olum. Ia pernah juara 1 cipta puisi nasional di UMPRI Pringsewu 2020, juara 1 cipta puisi umum di UMJ Jakarta 2019, juara 3 cipta puisi nasional di UMP Purwokwerto 2019, juara 3 cipta puisi di UHAMKA Jakarta 2019, dll. Ia juga pernah terpilih menjadi seniman bidang seni sastra di Lampung Utara. Puisi-puisinya masuk di beberapa media dan antologi ASEAN. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), Lampung. Alamat: Purwosari, Ratu Abung, Abung Selatan, Lampung Utara, Lampung. IG: Awiyazayan, dan email: wahyuhida1997@gmail.com

 

Ilustrasi Foto oleh dr. Dewi

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: