Topbar widget area empty.
Kawan Kecilku Dongeng Ketabahan Tampilan penuh

Kawan Kecilku

Puisi RM Maulana Khoerun

 

 

 

Puasa Puisi

Oleh: RM Maulana Khoerun

 

Aku lihat bau tubuhmu menghentas

Dari luapan subuh yang belum tuntas

Bersamaan dengan kicau merdu

sandal jepit menuju mushala

 

Aku tak kuasa menahan gocangannya

Sehingga kertas dan pena kembali menari

Menanak diksi di sela jari.

 

Puisiku yang sedang puasa kini batal

Oleh seteguk dosa racun asmara.

 

Pulosari, 2020

 

 

 

 

Hujan Kenangan

Oleh: RM Maulana Khoerun

 

hujan menarik mataku ke halaman

di sana aku lihat: rumpu-rumput

saling memeluk; bertukar perolehan

bulir-bulir air dari langit: kebasahan

 

angin berhembus,

membawa kenangan dari masalalu

saat rindu baru terseduh di cangkir kalbu

terseduh oleh tangis yang mendidih

dan taburan remah-remah kasih

 

dan balik batu bukit itu

aku menidurkannya sebagai luka

berselimut gelombang senja

yang dihantarkan oleh mega.

 

Pemalang, 2020

 

 

 

 

Tak ada

Oleh: RM Maulana Khoerun

 

tak ada yang benar-benar

aku izinkan meminjam wajahmu

kecuali cermin di kamarku

 

tak ada yang benar-benar

mampu mendengar tangisku

kecuali itu adalah rindu

 

tak ada yang benar-benar

hidup dalam tubuhku

kecuali nyanyian merdu

dari ujung sajadahmu

 

Krajan, 2020

 

 

 

 

Kawan Kecilku

Oleh: RM Maulana Khoerun

 

t’lah kuberi segala yang kupunya

t’lah kau dapati apa yang selalu kau pinta

 

daun pohon mangga di kebun sebelah

mulai rontok. batangnya kering, akarnya

mencuat dari tanah. sudah berbeda dengan

dulu saat kita masih bocah dan masih kerap

bercita-cita merangkai kisah sampai nikah.

 

yang kau puja bukan lagi bunga sepatu cantik

di jalan setapak berbatu di samping rumahku.

yang kau rindu bukan lagi tawa canda syahdu

kala itu. kau telah pergi. kau telah lari.

meninggalkan sejuta hari-hari tanpa mimpi.

Sebab mimpi sudah kau rampas semua

dari kobaran mesra tungku api asmara.

 

Pulosari, 2020

 

 

 

 

Prasangka Ketulusan

Oleh: RM Maulana Khoerun

 

Tentangmu, Riani

Ketika ketakutan akan rasa kecewa

Kembali datang di malam hari

aku harap kau masih benar-benar

berada dalam naungan hati

 

Sebab benih-benih cinta yang kita tanam

telah menjelma pohon rimbun yang kehausan

Menimbulkan banyak prasangka perihal ketulusan

Apakah sudah mengakar dalam dada?

 

Sudahlah, Riani

Sejak kesedihan telungkup di kening waktu

Kita belum lagi bisa bertemu

Memenjara diri pada ruang bisu

Dan puisi satu-satunya alat saling melempar rindu.

 

Pulosari, 2020

 

RM Maulana Khoerun, lahir di Siremeng, Pulosari, Pemalang pada tanggal 18 Maret 2002. Menulis Puisi, Cerpen, dan Opini. Salah satu pendiri grup literasi “RASI PENA” dan aktif sebagai Divisi Cipta Karya komunitas sastra “KIDUNG PENA”. Tulisan-tulisannya juga sudah tayang di berbagai media; cetak dan elektronik antara lain, Bangka pos, Tanjungpinang Pos, Medan Post, Bali Post, Malang post, Pos Bali, Radar Banyuwangi, Radar Madura, Radar Tasikmalaya, Kabar Madura, Radar Cirebon, Majalah Lentera Bayuangga, Nalar Politik, KBM Solo Raya, Komunitas Kampoeng Jerami, Societas News, Kabapesisir, Takanta, Akarrantingdaun, dan Travesia. Puisi-puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama; Goresan Luka (2020), Kenangan (2020), Palestina di Hati (2020), dan Sajak Untuk Indonesia (2020) Instagram: rm_maulanakhoerun Facebook: RM Maulana Khoerun. Email: maulkhoir@gmail.com

 

Ilustrasi foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*