Topbar widget area empty.
Jalan Menuju Ibu jalan menuju ibu 2 Tampilan penuh

Jalan Menuju Ibu

Puisi Anugrah Gio Pratama

 

Di Negeri Kita
: Setelah membaca sajak StebbyJulionatan

Oleh: Anugrah Gio Pratama

1. Di negeri kita, virus adalah udara yang dihirup dengan terpaksa;

2. kekacauan yang mengalir di beranda usia.

3. Kematian adalah hitungan angka-angka.

4. Kau ingin mati juga?

2020

 

 

 

 

Keserakahan Adalah Derita
Oleh: Anugrah Gio Pratama

Keserakahan tumbuh
seperti pohon pinus
yang menusuk punggung awan.

Keserakahan adalah derita;
adalah virus yang ditanam manusia
berabad-abad lamanya.

Keserakahan adalah derita.
Orang-orang merawatnya
serupa malam mengasuh purnama.

Keserakahan
adalah derita
di penghujung usia.

2020

 

 

 

 

Penulis Monte Carlo yang Terperangkap di Jakarta
: Teringat Fitriawan Nur Indrianto

Oleh: Anugrah Gio Pratama

Dalam kenyataan,
hidup tak pernah seindah puisi.
Seorang penyair yang telah menulis
satu babak kisah cinta,
bisa jadi babak-belur
dihajar beribu rindu
dan berjuta kecemasan.

Apalagi sekarang
hari-hari melahirkan air mata;
polusi di udara perlahan lenyap
bersamaan dengan ratusan nyawa manusia.

Hati penyair itu pasti makin kacau
bagai kemacetan Kota Jakarta
sebelum pandemi merajalela.

Penyair itu terpaksa tabah
menghadapi wabah; menghadapi
kenyataan yang tak seindah puisi;
tak seindah kisah cinta Monte Carlo.

2020

 

 

 

Nyanyian Seorang Perantau

Oleh: Anugrah Gio Pratama

Tatkala hujan datang.
Deras air menjelma syair;
membelah cahaya.

Jika suara
menyelimuti kota.

Anak-anak
menanam pelajaran
dan perantau
memanen kerinduan.

2020

 

 

 

 

Jalan Menuju Ibu
Oleh: Anugrah Gio Pratama

Bagaimanakah ingatan
melukis kebahagiaan
dari kenangan
yang sedingin dendam?

Aku bukan kata
yang terendam
dalam perihmu.

Aku hanyalah air mata
yang lebih biru
dari permata.

Ratusan musim akan meranggas
bagai daun. Dan aku akan menujumu.

Menujumu berarti
menempuh jalan yang terjal
dan aku menginginkannya.



2020

 

Anugrah Gio Pratama, sekarang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Menempuh pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat. Karyanya yang sudah terbit bertajuk Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude, 2019). Menyukai kucing dan membenci pertikaian.

 

Ilustrasi foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*