Topbar widget area empty.
Lagu Petani & Lagu Nelayan Cover Lagu Petani Tampilan penuh

Lagu Petani & Lagu Nelayan

Puisi Romzul Falah HM

 

 

 

Lagu Petani

Oleh: Romzul Falah HM

 

(pajjar laggu arena pon nyonara

bapa’ tani se tedung pon jega’a

ngala’ are’ so landu’ tor capenga)*

 

aku petani dalam dunia gambar-gambar

akankah ladang punya warna tempat

dada gejolak angin bertolak

 

apakah kehidupan: anak-anak sapi, ibu kambing,

induk ayam dan burung-burung

mampu terbayar matahari yang murung

 

aku bertemu cangkul dalam versi lain

tubuhnya lekuk pelangi sekecil tubuh lilin

tumbuh duka

menari seperti penyanyi di televisi

 

“jangan bernyanyi di ladang kami,

wabah-wabah akan gemar kemari

membawa pedih.”

 

daun-daun gugur dan lebur menjadi subur

jagung tumbuh, padi tumbuh, tembakau tumbuh,

melaratpun tumbuh sekeras batu, dan

kehidupan dimulai dari luku.

 

(ngajalanagi sarat kawajiban

atatamen mabannya’ hasal bumina

mama’mur nagarana tor bangsana)*

 

aku petani dalam dunia gambar-gambar

bercapil degil menanam kerikil mungil

 

2019

 

Keterangan:

*Lagu tradisional Madura

 

 

 

 

Lagu Nelayan

Oleh: Romzul Falah HM

 

olle olang… paraona a lajara…

olle olang… a lajara ka Madhura…

 

debur ombak lebur menjadi syukur

tarian perahu luruh di laut biru

nelayan berjalan merawat luka panjang

sayu mata liku usia membawa jala

 

jika untung ikan datang terhuyung-huyung

jala ditarik nelayan melirik sisik pernak-pernik

semua gembira dada rekah mata ceria

anak istri menunggu usia di teras rumah

 

perahu memadu biru dari hulu kembali ke hulu

kembang layar mekar melempar angin ke pasar

laut tak ciut ikan-ikannya diangkut

panen ini tak datang berkali-kali kecuali rezeki

 

jika rugi sakit menepi lalu pergi

janji di tanam besok kembali lebih pagi

menghibur diri luka perih pasir putih

anak istri tertatih-tatih melempar nyeri

 

olle olang… paraona a lajara…

olle olang… a lajara ka Madhura…

 

2019

 

 

 

 

Ziarah Laut Utara

:Badur

Oleh: Romzul Falah HM

 

barangkali perahu-perahu itu berziarah

dan menabur getir dada nelayan

sebelum ayat-ayat laut dibacakan

setelah ombak melepas susut getaran

 

menuju tempat ibada ikan-ikan

membawa segala yang terungkap dalam dingin,

dalam panas, dalam waktu

yang tenggelam dalam tubuh matahari

dan mendoakan segala macam angin.

 

perahu-perahu berlayar searah doa dipanjatkan

tiada yang lekang dari warna laut

sepanjang luka berlarut

air selalu tenang mengantar pemberangkatan

 

2019

 

 

 

 

Ketika Laut Tak Bernyanyi Lagi

Oleh: Romzul Falah HM

 

aku khawatir peta-peta ikan

tinggal arsip batu karang,

selain lumut juga sisa asin, lalu apa lagi?

 

nelayan menuju pesisir

hanya menyaksikan ombak lirih dan mendoakan buih

lalu berjalan-jalan sambil mengamini angin lewat

 

aku khawatir perahu layar memilih tiada

memilih pulang sebagai kayu atau memilih

menjadi pintu-pintu rumah yang megah

 

masihkan pasir ditandai kaki yang melirihkan

segala kegaduhan?

seperti kaki lelaki dan perempuan yang setia

menanti doa lengkap dengan senyumnya

 

aku harus pandai merayu laut

serta pandai menari bersama ikan-ikan dan para kesatria biru

aku juga harus teguh mencintai perahu

 

2019

 

 

 

 

Dansa Janur-Janur

Oleh: Romzul Falah HM

 

kita sepakat akan pulang

dan menghabiskan siang di ladang

mengutus burung agar lekas mewahyukan

kedatangan para perindu dari tanah jauh

 

telah lama matahari dan bulan mengisi

ruang-ruang yang kosong di hati setiap kekasih

meski mereka tinggal berjauhan berbatas sepi

tentu kita lebih moksa dari segala rahasia

 

bukankah pada pergelangan tangan ini

telah lengkap gelang janji dan saatnya kita

tunaikan doa lebih sempurna

seirama janur-janur mengikuti arah angin

kita harus menyertai dengan seikat ingin

 

segala tarian di ladang telah sampai

pada musim pertunjukan dan tak ada yang lebih

sulung selain tarian kita dalam pejam

dalam ritme-ritme angin dan gerakan janur kuning

yang lentur lirih berdansa tanpa henti

 

kita akan lekas pulang

dan berpesta lunaskan angan

 

Batuputih, 2019

 

 

 

 

Rumah Kita di Tamansari

:kepada kawan

Oleh: Romzul Falah HM

 

kita tidak bisa lagi menjadwal matahari

supaya turun ke halaman dengan teratur

menggantikan lembar-lembar daun di tanah luhur

yang gugur menjemput usia dan peristiwa

 

semuanya telah berpulang pada yang membesarkan

pohon-pohon dan rindang kenangan

dalam keadaan lupa bahwa roh kasih sayang

menunggu dupa dibakar sebelum ritual panjang

 

inilah ingatan yang ikhlas terpenjara dalam siksa

hingga sejarah mencintai rumah-rumah

yang diruntuhkan, dan bunga-bunga hias

kehilangan aroma begitu juga lambang doa

 

jerit mesin dan roda telah menggantikan tangis bayi

yang kita jumpai setiap pagi

kecuali luka-luka di dada ibu yang makin maha

sebagai satu-satunya yang tersisa

 

2019

 

Romzul Falah HM, alumni pondok pesantren Aqidah Usymuni, Terate, Sumenep. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media, di antaranya: Radar Madura, Radar Banyuangi, Radar Mojokerto, Cakra Bangsa, Riau Pos, Solopos, Bangka pos, Bali Post, Suara NTB, Tribun Bali, Rakya Sultra, Minggu Pagi, Tempo, dll. Juga dalam antologi puisi besarama seperti Negeri Sawit (Malam Puisi Rantauprapat, 2019), Pesisiran (Komunitas Negeri Poci, 2019) dan Mahligai Penyair Titipayung (Antologi Mengenang Damiri Mahmud, 2020). Sekarang menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wiraraja Sumenep. Bergiat di Pabengkon Sastra dan Kelas Puisi Bekasi (KPB).

 

Ilustrasi foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*