Topbar widget area empty.
Sebuah Ruangan Sebuah Ruangan Tampilan penuh

Sebuah Ruangan

Puisi Bruno Rey Pantola

 

 

 

Aku Sendiri

Oleh: Bruno Rey Pantola

 

Aku sendiri

Dicekik sepi

Meluluhlantakkan bising

Tiada lonceng

Berkumandang di dadaku

Inikah pertarungan

Tentang penghabisan?

Ah! Ada-ada saja

Kucari saja wajah Dia

Menghalang lupa

Dari segala dosa

 

Seorang imam

Berpesan di altar

Sendiri

Di hadapannya

Ada bumi

Menjadi layar

Melaut ke segala samudera

Doaku mendadak seperti ombak

Melalangbuana

Mencari jejak

 

Yogyakarta, Mei 2020

 

 

 

 

Sebuah Ruangan

Oleh: Bruno Rey Pantola

 

Dari jendela seorang bertanya:

Di manakah pertempuran itu berlangsung?

Ia dijawab oleh sawang:

Aku adalah jalan bagi wabah

Pun keranda baginya

Ia tidak akan bertahan

Tetaplah di ruangan itu—

Orang itu telah paham

Sebuah ruangan sudah menjadi kuburan baginya

Sendiri

 

Yogyakarta, Mei 2020

 

 

 

 

Terhimpit

Oleh: Bruno Rey Pantola

 

Di sela sebuah koridor

Malam tertidur di situ

Bulan tersipu-sipu

Jangkrik bersorak

Kita terhimpit

Di antara bongkah-bongkah mimpi

Esok pagi

Separuh rindu mengetuk pintu rumah

Mengutak-atik jendela

Membentur tembok

Dan kita dihimpit masa lalu yang rapuh

 

keheningan

aku menggigil di bawah hujan

seperti dihempas orang-orang

enyah dari kerumunan

sepi

sunyi

aku sadar, aku telah memilih

menimang kematian

yang masih jauh dari angan

 

Yogyakarta, Mei 2020

 

 

 

 

Sebatang Rokok

Oleh: Bruno Rey Pantola

 

Pagi ini aku benar-benar kelimpungan

Memungut janji-janji mimpi yang kalut

Sebatang rokok sudah habis

Kokok ayam perlahan sirna

 

Matahari sedang tertawa

Aku termangu

Ditemani gumpalan-gumpalan

Kenangan yang paling sadis

Membentur ke segala sisi

Dan aku tak punya apa-apa

Selain puntung rokok di tanah:

Kutatap dan kukagumi

 

Yogyakarta, Mei 2020

 

 

 

 

Kepada Sepasang Mata

Oleh: Bruno Rey Pantola

 

aku tidak keberatan membiarkanmu

menyaksikan kepura-puraan dunia

tetapi kali ini kita harus sebangku

duduk menikmati umpama-umpama

yang tak pernah menjadi caraku sendiri

kali ini kita harus sepaham

tentang lampu yang selalu padam

dan tentang hidup yang selalu buram

hari ini gelap; bumi dubungkam

kita tidak harus benar-benar dendam

menyiasati perihal ini

kita hanya cukup menatap dalam diam

 

Yogyakarta, Mei 2020

 

 

Bruno Rey Pantola berasala dari Oelnunuh, Timor Tengah Selatan. Ia pernah menerima Anugerah Sastra Apajake 2019 dan Anugerah Sastra Ideide.id 2020. Buku puisi perdananya berjudul “Sendu di Desa” (2019). Kini sebagai redaktur di Tabeite.com.

 

Photo by Rene Asmussen from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*