Topbar widget area empty.
Selalu Ada Cahaya cover selalu ada cahaya Tampilan penuh

Selalu Ada Cahaya

Puisi Kusyoto

 

 

 

Sejengkal Tanah, Setetes Darah Peradaban

Oleh: Kusyoto

 

Belum lagi kering luka kehancuran Wisma Dharma, kini menyusul  Rijsrpellerij  luluh lantak tanpa sisa, bangunan eksotik sejarah masa lampau, peradaban kota tua bumi Wiralodra.

Satu per satu peradaban bumi manusia terserak tanpa daya, demi sebuah alasan estetika kota.

Kota tua lembah Cimanuk berduka….

Duka mu, duka ku, duka kita semua

Entah….

Berapa puluh bangunan sejarah yang tersisa, menunggu giliran kehancurannya.

Teruslah bergerak wahai para pejuang peradaban.

Cukup sudah Ahangkara peretas sejarah merajalela.

Mari bersama singsingkan lengan baju, cangcut tali wanda.

Kita bela bersama jejak-jejak peradaban masa silam dengan tekad membaja.

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Trampolin Di Sudut Pasar

Oleh: Kusyoto

 

Trampolin di sudut pasar di bawah pohon asam jawa yang tengah mekar

Di permukaannya anak-anak kecil melompat riang tawanya renyah berderai mengisi musim semai padi nan melambai meliuk-liuk ditiup angin selatan nan permai

Jalan, lompat, diam di permukaan trampolin tetap terbawa ritmis gerak tak berkesudahan

Di permukaan trampolin tiada beda akan terus terbawa gerak dalam diam pun terus terbawa arus pusaran segi tiga bermuda

Jangan pernah diam di permukaan trampolin teruslah bergerak maka di sekitarnya pun akan berdecak, berarak terbawa gelombang laut jawa dalam irama

Di atas trampolin tiada beda semua sama akan terus bergerak atau digerakkan melalui kodratnya

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Camar Menari di Atas Gelombang

Oleh: Kusyoto

 

Pasang surut silih berganti meniti alunan ombak tiada bertepi nelayan pulang membawa bongkah harapan merangkai titian panjang dengan untaian bunga bakung di tepi ranjang

Pekik camar menggugah rasa di tengah alunan buih perlahan menepi menghanyutkan surat dalam botol abadi

Camar melayang merayu ombak laut berderai rinai dalam kemelut kabut

Air sungai gangga tak akan bisa kau sangga aliran air itu beda tanpa jeda mengalir pelan terus menerus menuju muara rasa sang pemilik mayapada

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Lelaki Dengan Sejuta Sembilu di Hatinya

Oleh: Kusyoto

 

Loyalitas tanpa batas terhempas kandas dalam bayang semu sebuah janji palsu ketegaran tak kenal lelah menghempas tubuh peluh bermandikan rembulan luruh jatuh diseling rinai subuh menepi sunyi diantara deru badai yang semakin menggila membutakan akal sehat melampaui malam-malam keramat

Ketegaran tak kenal kompromi mencabik hati nurani membenturkanya pada dinding-dinding tirani terasing dalam keramaian tenggelam di tengah pengharapan jilatan api merapi merambah relung hati nan sunyi

Dia yang tak kenal putus asa dera samudra menghentak karang terjal tetap berdiri menantang dalam diam, dalam kesabaran, dalam pengharapan, titik cahaya membias dalam gelap menyeruak tabir dalam benak menghentak lintang pukang kemudian cerai berai mencari keterasingan

Dia yang tak kenal putus asa terus bergerak melawan arus bawah laut arafuru timbul tenggelam dalam kenangan semu sejuta pengharap kandas tak berbekas, tergilas, meretas dinding-dinding keangkuhan

Dia yang tak kenal putus asa berjuta sembilu mencumbunya dengan sempurna melambungkan angan masa silam yang tak pernah padam loyalitas tanpa batas walau harus ditebus waktu yang terus menggilas

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Kesendirian Ini

Oleh: Kusyoto

 

Sendiri itu luka. membunuh perlahan dalam diam merasuk jiwa sunyi bak desir angin selatan tak bertepi tiada yang bisa dilakukan kecuali diam terasing perlahan memudar semangat itu terus memudar bagai tetes embun di atas pasir bergulir indah diterpa mentari setelah itu lenyap disapu semilir angin pagi masih adakah embun itu untuk membasuh luka kesendirian yang kian menusuk sukma

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Selalu Ada Cahaya

Oleh: Kusyoto

 

gelap pekat terkubur dalam lumpur sekarat menggeliat jalan keluar itu begitu jauh semantara jalan pulang terbentang terjal aral rintang derap langkah teguh tak tergoyahkan debu terus menghantam hujan terus mengguyur petir menyambar dalam gelap lelaki itu terus merayap keyakinan nan sempurna di ujung lorong selalu ada benerang cahaya yang menyesap

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Raungan Merapi

Oleh: Kusyoto

 

Awan punakawan pertanda zaman nestapa ribuan mangsa membolak-balik takdir

Kuasa semesta porak poranda dalam kemelut ribuan masa

Oh merapi ku….

Raungan mu senyap ditelan zaman yang terus menggerogoti tubuh mu yang semakin ringkih

Senyap dalam keramaian jagat, sepi ditelan gemuruh modernisasi

Porak porandakan saja semuanya, hancur leburkan saja peradabannya

Dunia merapi semakin sepi

Dunia merapi semakin senyap

Kidung pengabaran tergantikan rengekan

Kidung panguri-nguri lenyap terlindas zaman

Di mana lagi ku temui kidung keselamatan, bersatunya asa dalam doa tulus ibu pertiwi agar raungan merapi berganti zikir bestari

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

Zikir Merapi

Oleh: Kusyoto

 

Kawan. Seluruh gunung di jawa ini berzikir dari gede, semeru sampai merapi pun dengan gunung di seluruh dunia berzikir menyebut keagungan sang pencipta



Zikir gede, zikir semeru zikir merapi semuanya sama pasrah dalam kehendakNYA

Muntahan merapi itu zikir, awan panas merapi adalah zikir, wedus gembel merapi itu pun zikir

Tanaman, hewan, bebatuan di merapi itu selelu berzikir

Gemuruh dahsyatnya itu zikir

Dan semua gunung di Jawa juga dunia akan selalu berzikir sampai hari akhir

 

Indramayu, 2020

 

Kusyoto, lahir di Indramayu 02 Juli Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu, Komite Sastra. Alamat Penulis Rumah Sakit. MM. Indramayu Jl. Let.Jen, Soeprapto no. 292 Kepandean Indramayu. Akun Facebook: Kusyoto, kyt. Email: kkusyoto@gmail.com. www.bhumideresmili.blogspot.com.

 

Ilustrasi foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*