Topbar widget area empty.
Tanah Kenangan Tanah Kenangan Tampilan penuh

Tanah Kenangan

Puisi Fajar Andika

 

 

 

KAU REBUT NYAWA MEREKA DENGAN PAKSA

Fajar Andika

 

dari arah entah kau datang

membawa tabun membumbung,

lalu menyesaki dada orang-orang

kau paksa mereka meneguknya

meneguk kematian yang menguap dari mulutmu

 

perjalanan tetap harus dituntaskan

meski harus menerobos maut yang

berkibar antara nadi dan anak waktu

yang terus merengek menuntun pulang

 

ke tempat orang-orang menabur mawar

atau menanam kamboja

 

Tembung, 2019-2020

 

 

 

 

APA KABARMU

Fajar Andika

 

ilalang di halamanmu

telah berusia ribuan rindu

di tengah-tengahnya bekas sandal

yang telah ditumbuhi kenangan

 

kau sudah beranak?

begini katamu waktu itu

“kelak akan kubesarkan anak-anak darimu”

jelas kalimat yang kau suguh itu

 

apakah anak-anak itu telah lahir tanpa aku?

sayangilah mereka, ia adalah cita-cita kita

 

kelak anak-anak itu akan menemuiku

tapi tidak memanggilku ayah!

 

Medan, 2018-2020

 

 

 

 

TANAH KENANGAN

Fajar Andika

 

di tanah ini aku merawat jejak sandal

yang tertanggal di antara lumpur bekas hujan

dan kenangan tubuh subur di sana

lumut beranak pinak serupa kenangan kita

 

di tanah ini, kisah kita telah menjadi puisi paling romantis

seromantis ketika kita pulang sekolah

dan hujan menyerbu kita dengan tergesa-gesa

 

kau titipkan rindu paling hangat pada punggungku

tapi percuma saja aku mencecerkan cerita itu

pada kepalaku atau kepalamu atau tanah ini

 

kini kau telah beranak dan aku tetap mengembara

mencari ruang paling hangat, sehangat pelukanmu

waktu hujan menyerbu kita dengan tergesa

 

Bandar Setia, 2020

 

 

 

 

SEEKOR ULAR

Fajar Andika

 

ia datang dari arah entah

segala tertanggal

seekor ular menelanku

lalu

pergi menjauh dari kota kenangan

 

tapi

tetap saja, anak waktu memulangkanku pada kota

keparat itu

 

Deliserdang, 2020

 

 

 

 

HURUF-HURUF YANG MULAI TERCECER

Fajar Andika

 

perlahan aku mengeja namamu di keheningan

ketika hujan menjadi lagu paling pisau

di antara anak waktu yang terus merenggek

 

pelan-pelan aku mengingat

tiap huruf pada nama itu

yang mulai tercecer dalam sejarah

percintaan kita

 

semakin aku mengingat huruf-hurufnya

semakin deras ceceran darah mengucur di jantungku

 

huruf-huruf itu membuat insomnia

 

Bandarkhalippa, 2020

 

 

 

 

CATATAN SEORANG PENGEMBARA

Fajar Andika

 

 

di simpang, tanda panah nusuk seluruh rindu

 

ke barat, senja ditelan gelap

ke timur, mentari telah mekar

 

ke selatan, ayah baru saja dilantik

jadi pemimpin di kerajaan barunya

dengan pangeran kecil yang kelak

akan makai mahkota dan duduki singgasananya

 

ke utara, ibu ngulang jadi dayang

dengan hati teriris

 

tapi ia rindu pada kerajaan telah jadi sejarah itu

 

yang rajanya adalah ayah

dayangnya adalah ibu dan

pangeran kecil itu adalah aku

 

semua telah kucatat pada lembar daun gugur

dari sebuah penantian panjang

sandal menipis adalah saksi tak berucap

tas punggung nampung segala air mata

 

segala dapat kubayangkan

 

Tembung, 2020

 

 

 

 

DOA

Fajar Andika

 

tuhan

akan tetap

mencintai kita

 

mencintai tanpa tanda tanya

tanpa bertanya-tanya

 

kita

mencintai

tuhan

karena

bertanya

 

Ramadhan, 2020

 

Fajar Andika lahir di Tembung. Tercatat sebagai Alumni Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Tulisan-tulisannya dapat dijumpai di media-media masa cetak maupun online berupa puisi maupun cerpen, ia juga tergabung dalam komunitas menulis FOKUS. Saat ini ia adalah seorang pengajar di YAYASAN PUSAKA di kota tempatnya lahir, selain menjadi seorang pengajar ia juga menjadi seorang pelatih beladiri pencak silat di sekolah tempatnya mengajar. Dikesibukannya yang lumayan padat ia selalu menyempatkan waktu untuk tetap bisa menulis dan ia ingin terus belajar dan tetap menulis hingga akhir hayatnya.

 

Ilustrasi foto  oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*