Topbar widget area empty.
Nestapa di Ujung Bencana Nestapa di Ujung Bencana Tampilan penuh

Nestapa di Ujung Bencana

Cerpen Sujarno

 

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Semilir angin sesekali terbata-bata meningkahi panasnya siang ini. Namun, pada akhirnya angin berlalu meninggalkan penat dan gerah tak terbantah. Warga kampung lebih memilih duduk-duduk di luar tenda sambil bercerita ngalor-ngidul tak tentu arah. Sebagian berteduh di bawah pohon-pohon besar yang tersisa di tengah sawah.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Lamat-lamat kulihat tubuh lelah bapak menerjang panas yang kian menggila. Bapak seakan tak acuh dengan panas yang menyergap kampungku.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Terik sinarnya semakin terasa tatkala angin enggan berhembus. Kini, tubuh lelah bapak semakin mendekat. Baju yang dikenakan bapak telah basah dibasuh keringat. Kulitnya yang hitam berhias keriput terlihat berkilauan dipanggang sinar matahari. Lelah yang dirasakan bapak seakan begitu berat. Namun, bapak tak pernah mengeluh.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Begitu tiba di samping rumah Bi Kustiyah –adik bungsu bapak-, bapak langsung duduk di atas dipan. Pandangan matanya menerawang menembus sepi sambil mengibas-kibaskan topi lusuhnya. Ia begitu berupaya mengusir penat yang menyergap tubuh kurusnya. Namun, tampaknya usaha bapak sia-sia karena penat yang menyergap tubuhnya semakin menebar kuasanya.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Kuperhatikan bapak dari balik jendela kamar. Dari kepala hingga ujung kakinya.

 

“Kasihan bapak.” gumamku dalam hati.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Bapak beranjak ke dapur. Beberapa waktu kemudian bapak kembali ke tempat duduknya sambil membawa secangkir air dan sepiring ubi rebus. Begitu lahap bapak menikmati ubi rebus yang dibawanya dari dapur. Salah satu makanan yang selama ini kami makan. Hanya sesekali saja dalam satu bulan kami makan nasi. Lebih sering kami makan ubi atau jagung. Bi Kustiyah memang selalu membuatkan ubi rebus untuk bapak. Menurut Bi Kustiyah, hanya itulah yang dapat ia siapkan untuk bapak.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Bapak begitu terharu ketika bercerita kepadaku setahun yang lalu bahwa ia merasa bersalah karena tidak dapat memberikan kehidupan yang layak untukku. Sebenarnya bapak ingin sekali melihatku menjalani kehidupan seperti anak lain seusiaku. Namun, belitan kesulitan ekonomi merampas keinginan bapak. Tapi aku selalu berupaya meyakinkan bapak bahwa aku tidak mempermasalahkan kondisi yang kami alami.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Raut duka masih tergambar jelas di wajah bapak. Meskipun ia tak pernah mengutarakannya padaku, namun aku sangat memahami dari gerak lakunya. Begitu banyak kenangan yang telah dilalui oleh bapak bersama ibu. Lima belas tahun lamanya kebersamaan bapak dan ibu. Suka telah mereka lalui meskipun bertubi-tubi duka menghampiri. Ada tawa bahagia sesekali terdengar di rumah meskipun hanya sebentar saja. Lebih sering sunyi mengiris luka memenuhi aroma udara. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuat simpul cinta di hati bapak dan ibu. Namun, sebulan yang lalu semuanya telah berubah. Simpul cinta yang selama ini terikat kokoh kini harus terburai kembali. Meninggalkan tali-temali tak beraturan.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Bapak begitu terpukul menerima kenyataan. Baginya kepergian ibu bukanlah bagian khayalan yang ada di benaknya. Terlalu sakit relungnya untuk merelakan kepergian kekasih hatinya. Berhari-hari bapak menekuri batu nisan di pusara ibu. Berhari-hari bapak dilamun tangis. Berhari-hari bapak menapaktilas masa lalu bersama ibu lewat selembar buku catatan nikah yang telah usang dimakan waktu yang sempat ditemukannya diantara puing rumah kami. Berhari-hari bapak menghabiskan waktu berlama-lama di pusara ibu. Berhari-hari bapak enggan berbicara pada siapa pun termasuk padaku. Bahkan hingga saat ini.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Anganku menghambur memecah gerah yang memenuhi kampung. Masih begitu jelas tergambar dalam ingatanku. Betapa aku terpuruk pada senja di akhir bulan September. Senja yang begitu ngilu. Telah terampas pesona senja yang selama ini kunikmati di pematang sawah. Senja yang begitu bengis menikamkan sembilu di ulu hati. Senja yang telah merampas ibu dari sisi kami.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Perlahan-lahan terik matahari berganti mendung menggiring pekat. Seakan alam membaca gerak anganku. Aku masih begitu teringat pada senja itu. Selepas ibu dan bapak kembali dari sawah, susul-menyusul gempa meluluh-lantakkan kampungku. Gempa yang begitu dahsyat gerakannya. Aku gemetar dicekam takut. Bapak gemetar. Ibu gemetar. Alam gemetar dicecar getar.

 

Lalu, rumah-rumah rata dan rebah ke tanah. Pohon-pohon tercerabut dari akarnya. Jerit tangis pilu membubung menghias petala. Raga-raga bingung menghambur tak tentu arah. Aku panik. Bapak panik. Dan kepanikanku bertambah-tambah ketika aku disergap bingung mencari keberadaan ibu.

 

Perlahan-lahan gempa berhenti. Getar telah lenyap meninggalkan kampungku. Namun, jerit tangis semakin memenuhi segala penjuru. Bapak menghambur memeluk erat tubuhku. Air matanya tumpah setumpah-tumpahnya.

 

Gempa telah berlalu. Namun, gerakannya menyisakan senja penuh duka di segala arah. Termasuk bagiku dan bapakku. Kampungku bergeser beratus meter menyeret tubuh lemah ibuku tanpa jeda. Tubuhnya terbenam di dalam tanah basah. Menyisahkan rumah kami menjadi puing dan tak mungkin kami tempati lagi.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Namun, perlahan-lahan mendung menenuhi angkasa. Menebarkan gulita ke segala penjuru kampung. Duka di kampungku menggiring aku dan bapak untuk tinggal di rumah Bi Kustiyah yang masih tegak berdiri.

 

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Seakan ingin menyengat siapa saja yang berani menentang panas sinarnya. Namun, kini terik sinarnya telah hilang digulung mendung. Sejurus kemudian tetes hujan membaluri kampungku. Aroma panas yang sejak tadi terasa kini telah hilang digantikan aroma basah. Hujan yang turun begitu derasnya. Hingga menciptakan irama berisik di atap rumah Bi Kustiyah.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Kini aku dicekam gigil lewat tempias air dari luar jendela. Aku terjaga dari lamunku tentang ibu ketika suara petir memecah dingin. Kucari bapak yang tadi duduk di atas dipan samping rumah. Aku bingung karena bapak tidak ada lagi di sana.

 

“Aku yakin bapak pergi ke pusara ibu lagi.” batinku.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Kuputuskan untuk menyusul bapak ke pusara ibu. Aku tak tega melihat bapak menekuri pusara ibu terus-menerus. Rasa kehilangan telah membuatnya limbung. Kini, bapak menjadi sosok yang enggan berbicara. Bahkan pada Bi Kustiyah, adiknya sendiri. Bapak lebih senang melewatkan hari dengan duduk menyendiri di samping rumah atau pergi dan duduk berlama-lama di pusara ibu.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Orang-orang kampung sejak terjadinya gempa telah melihat gelagat perubahan pada bapakku. Beberapa tetangga menyarankan agar bapak dibawa berobat. Saran itu selalu disampaikan kepada Bi Kustiyah. Namun, karena masalah ekonomi, Bi Kustiyah hanya merawat bapak semampunya saja.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Aku menerjang hujan. Kupercepat langkahku menembus derasnya hujan. Aku tak peduli meski tubuhku dicekam gigil. Aku hanya ingin memastikan kalau bapak memang berada di pusara ibu. Sesekali gemuruh mengetarkan cakrawala.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Kini kuyup mendera. Semakin kupercepat langkahku menyusuri jalan setapak di tengah pemakaman.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Kini langkahku tercekat. Kulihat bapak menekuri pusara ibu. Ada sedikit lega. Namun, kakiku terasa lemas. Kulihat punggung bapak berguncang-guncang. Begitu berat beban pedih yang dirasakannya. Suara tangisnya hilang ditelan derasnya hujan.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Aku duduk di seberang bapak. Kulihat air matanya bercampur dengan air hujan. Aku cemas karena bapak seakan tak peduli dengan kehadiranku. Ia tetap menekuri pusara ibu. Pedihku luruh bersama hujan yang membasahi pusara ibu.

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Kulihat wajah bapak lekat-lekat. Wajah lelaki hebat yang kini kalah pada nestapa.

 

“Ayo kita pulang, Pak!”

 

Semakin lama hujan yang turun semakin deras. Tak kurasa lagi gerah membaluri tubuhku. Hanya hening mengiris kalbu.

 

Sujarno. Lahir di Sidomulyo (salah satu desa di Kabupaten Langkat), 15 Juni 1983. Saat ini bertugas sebagai guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Binjai Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Beberapa karya yang telah penulis hasilkan yaitu : Bendera Sunyi (Kumpulan Cerita Pendek Guru-guru Bahasa Indonesia Sumatra Utara, 2017), Rindu Menelusur dari Diski Hingga Pancing (Antologi Puisi AGBSI Sumatra Utara, 2018), Kasihku Melebur Nirwana (Antologi Puisi Melodi Hati yang Sepi, 2019), Langit Penuh Imaji (Antologi Puisi Melodi Hati yang Sepi, 2019), Makam Bisu Pusara Bisu (100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai, 2019), Pada Binjai Terlintas Rasa (100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai, 2019), Menjelang Petang Ayahmu Mangkat (Antologi Puisi Antara Bintang dan Bulan, 2020), Jadikan Aku Rekanmu Menyusuri Gulita ((Antologi Puisi Antara Bintang dan Bulan, 2020), Bendera Dibasuh Hujan (Antologi Cerita Pendek Keris Kain Merah, 2020), Kelopak Menyisa Duri (Antologi Puisi Duri-duri Bunga Mawar, 2020), Gerimis Mengirim Rindu ( Antologi Puisi Tunggal, 2020), Ragaku Ripuh Disiksa Nyenyat (Antologi Puisi Pringsewu Kita, 2020), dan Corona Tak Tercecap Indra (Antologi Puisi Bersama Yayasan Dapur Sastra Jakarta, 2020). Alamat surat elektronik: Sujarnosw@gmail.com atau Sujarnosw@yahoo.co.id.

 

Photo by icon0.com from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: