Topbar widget area empty.
Percakapan Kekasih Lama Percakapan 2 Kekasih Tampilan penuh

Percakapan Kekasih Lama

Cerpen Romi Afriadi

 

 

Menit-menit awal saat keduanya bertemu hanya diisi keheningan, Ahmad dan Nurli lebih sibuk menata hati masing-masing setelah pertemuan tanpa sengaja di atas mobil Superben[1] yang akan melaju menuju kota provinsi.

 

Mereka berdua duduk di belakang, bukan karena sengaja, melainkan karena bangku itulah yang kosong. Seolah alam semesta pun berkonspirasi atas perjumpaan ini. Enam tahun tanpa kabar, Ahmad dan Nurli malah bertemu di mobil Superben ini, menjadi teman seperjalanan.

 

“Andai kau tak pergi melanjutkan S2 ke Jogja, mungkin ceritanya tak akan begini.”

 

Nurli lebih dulu memecah sunyi diantara keduanya. Nurli menerbangkan ingatan saat Ahmad yang baru saja mengajar tiga bulan di Pondok Pesantrennya memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata dua. Saat itu Nurli menjadi santri di kelas akhir, beberapa bulan menjelang ujian kelulusan.

 

“Aku tak mungkin melewatkan kesempatan menerima beasiswa itu.”

 

Ahmad bersuara lirih. Ingatannya pun menembus masa lampau, saat ia baru saja lulus sarjana dan mengabdi di sebuah Pondok. Di tengah persaingan dunia kerja yang kian sadis, Ahmad bersukur bisa menjadi guru di situ, menyelamatkannya dari cap pengangguran. Di situlah ia begitu terpesona dengan kepintaran seorang santri yang kelak amat dikasihinya, santri yang saat ini tengah duduk di sampingnya. Masa singkatnya di pondok pesantren itu sudah cukup untuk memberikan cinta pada Nurli, Ahmad bahkan merasa tak perlu melakukan salat istikharah atas pilihannya. Namun perjalanannya ke tanah Jawa guna menuntut ilmu menggagalkan segalanya.

 

“Walau risikonya kita harus berpisah?”

 

Nurli sebenarnya lebih tepat bertanya kepada diri sendiri, ia bisa saja menolak pinangan anak pimpinan di pondok itu. Tapi ia takut dianggap kualat karena berani menentang Kiai. Dalam lingkungan pesantren, permintaan seorang Kiai sama saja perintah. Lagi pula orangtuanya begitu tersanjung atas lamaran itu, menjadi besan Kiai, apalagi yang kurang? Kelak, anaknya akan melahirkan cucu-cucu pintar yang akan mewarisi kepemimpinan pesantren.

 

Pernikahan mereka bahkan berjalan tanpa drama, pun kehidupan rumah tangganya. Sangat biasa dan datar saja. Hidup Nurli dihabiskan 24 jam oleh berbagai kesibukan di pondok, menemani suami yang tinggal sebentar lagi akan menjadi pimpinan pondok meneruskan perjuangan ayah yang kian sepuh.

 

“Jika aku tidak pergi, apakah kau akan memilihku?”

 

Nurli merasa tercekat atas pertanyaan itu, mobil Superben yang mereka tumpangi bergoyang ketika melintasi jalanan berlubang.

 

“Apa kau akan memilihku, jika pada saat yang sama kau juga menerima pinangan anak Kiai”? Ahmad mengulangi pertanyaan.

 

Mobil kembali berjalan lancar, melintasi sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir danau jernih yang indah. Tapi itu tak bisa menggembirakan hati Ahmad, ia baru saja merasakan kepiluan. Kabar pernikahan Nurli dengan anak pimpinan Kiai ia terima sebulan kemudian, ada sesal dan sakit yang mengiringinya, ia merasa tak menyangka akan kehilangan secepat itu. Padahal ia sudah menyiapkan banyak rencana untuk membangun kehidupan dengan Nurli selesai menyelesaikan pasca sarjana.

 

“Aku tak bisa melawan keadaan, barangkali itulah takdir. Semuanya terjadi begitu cepat.”

 

Nurli tahu, itu pembelaan paling klise. Sebuah kepasrahan sekedar mencari alibi.

 

“Apa kau bahagia atas pernikahan itu?”

 

Nurli terdiam, tak menyahut. Sepasang matanya kelihatan mendanau. Nurli tak pernah menyesali keputusannya menikah. Sungguh, baginya menikahi anak pimpinan Kiai, tinggal di lingkungan agamis, dihormati lingkungan pesantren, membuatnya merasa ketiban anugerah. Ia mendapatkan kasih sayang dari suaminya walaupun ia juga tak bisa menyangkal, pada situasi sepi, wajah Ahmad kerap menyelinap dalam lamunannya. Sesuatu yang seringkali ia anggap dosa.

 

“Maaf aku sudah menanyakan petanyaan seperti itu, lagi pula itu tak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya.”

 

Ahmad mencoba mengalihkan pandangannya menerobos kaca mobil. Pepohonan kelapa dan persawahan terhampar di sisi kanan jalan.

 

“Tentu saja aku bahagia, tidak ada keraguan sedikit pun tentang itu.”

 

Nurli merasa air matanya kian menderas, jika saja ia tak menyapukan jilbab panjang yang ia kenakan, akan sangat kelihatan wajahnya basah.

 

“Kamu memang istri yang baik, kau merubah banyak hal untuk suamimu, mengorbankan apa yang kau bisa.”

 

Ahmad mengucapkannya dengan perasaan amat mendalam, entah karena cemburu atau justru haru. Tampilan Nurli yang sekarang menerbitkan banyak tanya dalam benaknya, pun menimbulkan bermacam prasangka yang hanya bisa ia duga. Bagaimana pun, Ahmad sangat mengenali Nurli meski hanya tiga bulan waktu membersamai mereka, Nurli yang ia temui di pondok pesantren  ialah Nurli yang berkeinginan bebas, berpikiran merdeka. Ingin menjadi senator perempuan energik yang akan memperjuangkan keadilan kaum hawa, dunianya buku-buku filsafat dan politik. Nurli yang tidak terlalu menonjol dalam hafalan, namun begitu lantang bersuara. Itulah yang dirasakan hilang oleh Ahmad, Nurli kini menjadi pribadi yang pendiam, kalem, merubah diri sebagai istri calon pimpinan pondok.

 

“Tidak semua apa yang kita perjuangkan akan tercapai. Dewasalah, jangan terlalu mendramatisasi keadaan” Suara Nurli pelan bersamaan dengan bunyi klakson mobil yang berselisih dengan sebuah truk. Tapi itu sudah cukup untuk memberi efek kejut pada hati Ahmad, ia merasa tersindir oleh Nurli. Bagi Ahmad, pernyataan itu semacam konfirmasi Nurli bahwa ia tak kuasa menolak skenario yang akan berjalan, ada hal yang akan terlepas, sekuat apapun ia genggam.

 

“Ada kehendak lain yang tak bisa kita rubah. Semoga kamu juga bahagia dengan pilihan hidupmu.”

 

Nurli menyeka air matanya sekali lagi, ia beranjak turun dari dalam Superben, ia tak mau terlalu lama terjebak dalam situasi ini, hanya akan menebarkan luka dihatinya. Nurli menggeser duduknya, ketika mobil baru saja melalui lampu merah di sebuah persimpangan, ia memilih turun di depan Islamic Center.

 

“Aku tak pernah mencintai orang lain sesudahnya.”

 

Kalimat itu tak berbalas, meski sempat membuat gerakan tubuh Nurli terhenti sepersekian detik. Ahmad hanya menatap punggung Nurli yang bergegas keluar mobil. Seorang lelaki dengan senyum semringah menyambut langkah Nurli di gerbang Islamic Center itu, seketika Ahmad menjadi mati rasa.

 

 

Tanjung 15 Maret 2020

 

Romi Afriadi Lahir di Tanjung, Kampar, Riau. Menyelesaikan Studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Saat ini menyibukkan diri dengan mengabdi di Madrasah Tsanawiyah Rahmatul Hidayah, sambil sesekali mengajari anak-anak bermain sepakbola di sebuah SSB. Beberapa cerpennya pernah tampil di media Online. Diantaranya, Apajake.id, Takanta.id, Tajug.net, Simalaba.net. Penulis bisa dihubungi lewat email: romiafriadi37@gmail.com atau akun Fb: Romie Afriadhy.

[1] Sebuah alat transportasi berbentuk mini bus, lazim ditemukan di daerah Sumatera.

 

Photo by SHAHBAZ AKRAM from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: