Topbar widget area empty.
Korban Sex Trafficking, yang Dimanfaatkan dan Dilacurkan 20200329_073915 Tampilan penuh

Korban Sex Trafficking, yang Dimanfaatkan dan Dilacurkan

Resensi Siti Asmaul Husna

Judul Buku       : Natasha; Mengungkapkan Perdagangan Seks Dunia

Penerbit.         : PT Serambi Ilmu Semesta

Penulis             : Victor Malarek

Jumlah hlm     : 272 lembar

Alih Bahasa     : Zia Anshor

Cetakan ke      : 10

ISBN                 : 97S-979-1275-44-6

 

Kriminalitas memang menjadi hal yang sangat melekat dikehidupan masyarakat, tidak peduli pada kalangan pria, wanita, tua, muda, orang kaya, orang miskin, dari rakyat sipil hingga pejabat dan aparatur negara bisa terlibat didalamnya. Salah satunya dalam lingkup dunia hitam yang menjadikan wanita sebagai korbannya yakni pada kasus perdagangan seks, jika kalian ingin mengetahui tentang perdagangan seks dunia (sex trafficking) maka buku novel berjudul Natasha lah yang perlu untuk kalian baca.

 

Buku buatan Victor Malarek ini memiliki catatan awal yang tertulis “Para perempuan dalam buku ini adalah korban perkosaan”, dimana dalam buku ini kita akan di ajak untuk menelusuri asal muasal bagaimana para gadis-gadis polos itu diubah menjadi “robot” untuk selalu melayani para pria hidung belang.

 

Dalam buku ini juga dijelaskan mengenai ungkapan salah satu wanita yang menjadi korban sex trafficking yang penuh akan paksaan dan penderitaan. “Malam itu, untuk pertama kalinya aku mengetahui bagaimana rasanya menjadi pelacur. Aku harus melayani delapan laki-laki. Aku mandi tiap kali  selesai melayani orang tapi aku tak bisa membersihkan najis yang menempel pada diriku. Empat bulan sesudahnya, aku tak tahu lagi berapa banyak, laki-laki Israel yang terpaksa kulayani. Laki-laki muda, tua, gendut, menjijikkan. Prajurit, suami, bahkan pemuka agama. Biarpun aku sedang sakit atau datang bulan, aku harus tetap bekerja atau dihukum.”

 

Dijelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi pemicu dominan para wanita tersebut sehingga bisa terjerumus ke dunia prostitusi. Tidak sedikit dari mereka yang mendapat harapan palsu dari orang-orang yang mengaku ingin membantu perekonomian mereka namun sayangnya itu hanya tipuan belaka.  Sang penulis Malarek mengfokuskan pembahasan buku ini pada kasus prostitusi di bagian negara bekas Uni Soviet dan juga bagian negara-negara Balkan, tetapi dia juga membahas prostitusi yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya meskipun tidak terlalu banyak.

 

Natasha, julukan para wanita tersebut, diceritakan dikirim ke berbagai negara-negara diseluruh dunia seperti di jalan-jalan daerah lampu merah di Austria, Italia, Belgia, dan Belanda. Mereka mengisi rumah-rumah bordil di Korea Selatan, Bosnia, dan Jepang. Mereka bekerja tanpa busana di  panti pijat di Kanada dan Inggris. Mereka dikurung sebagai budak seks dalam apartemen di Uni Emirat Arab, Jerman, Israel, dan Yunani. Mereka membintangi pertunjukan intip dan tari telanjang di Amerika Serikat. Bagi yang mengamati sekilas, mereka langsung berbaur dengan perempuan- perempuan yang memilih untuk menukar uang dengan seks. Dalam makeup tebal, pakaian seronok, dan sepatu hak tinggi, mereka berjalan dan berbuat hal-hal yang sama. Mereka tersenyum, mengedip, berpose, dan melenggang, tapi mereka melakukannya karena tahu apa yang akan terjadi kalau mereka tak melakukannya.

 

Banyak kalimat-kalimat dalam berbagai paragraf dalam buku ini yang menceritakan mengenai rasa putus asa dan kesakitan para wanita malang itu, bahkan tidak sedikit dari mereka yang ingin kabur dari para calo yang memiliki mereka, namun akibat ancaman berat yang didapat jika tidak menurut sesuai keinginan para pemilik mereka, baik yang secara langsung mereka dapatkan maupun tidak ( yang bisa juga terjadi pada keluarga mereka) membuat para gadis itu kerap kali takut untuk melakukannya, maka dari itu banyak dari mereka yang bahkan ingin bunuh diri saja.

 

Terungkap fakta yang sangat ironis dan juga menyedihkan mengenai perdagangan seks ini, dimana ternyata kasus-kasus semacam ini sebenarnya sudah diketahui banyak orang, aparatur negara bahkan pejabat pemerintahan juga organisasi dunia, namun seperti kenyataanya seolah kasus-kasus tersebut tak penting untuk diperhatikan apalagi ditangani malahan banyak dari aparatur negara yang malah mengambil keuntungan dalam kasus seperti ini. Seperti salah satu cerita yang tertulis pada novel ini
“Larissa menceritakan bahwa petugas polisi yang  menangkapnya lantas menggiringnya keluar kantor polisi, menyuruhnya masuk mobil polisi, dan membawanya ke Yerusalem, dimana kata Rozen “Polisi itu menjual Larissa ke mucikari lain untuk segenggam dolar.”

 

Dijelaskan juga pada buku jika ada seorang opsir polisi bernama Kathryn Bolkovac, bertugas dalam IPTF di BosniaHerzegovina, di IPTF ini Bolcovac diminta untuk mengurus Kantor Jender IPTF yakni satuan yang menangani bermacam-macam kejahatan dan penyelidikan, termasuk trafficking, pelecehan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga. Setelah memperoleh tugas tersebut otomatis dia mendapat banyak clien, dan saat selesai melakukan proses wawancara Bolkovac menyadari jika banyak dari wanita yang diselamatkan dari kasus trafficking itu pernah “dipakai” oleh banyak aparatur negara seperti, tentara penjaga perdamaian, pekerja PBB, dan anggota polisi internasional mendatangi bordil-bordil tempat mereka dipaksa bekerja. Namun, anehnya tiap kali Bolkovac mengajukan laporan mengenai kasus semacam itu, laporannya lantas lenyap tak tentu arahnya.

 

 

Karena itu Bolkovac berusaha untuk mengungkap kasus sendiri, Pada 9 Oktober 2000, dia memutuskan untuk melangkahi jalur komando dan mengirim email sengit kepada lebih daripada lima puluh pejabat senior—termasuk Jacques Klein, wakil istimewa sekretaris jenderal PBB di Bosnia. Suratnya, yang berjudul “Bagi yang tidak kuat atau merasa bersalah, harap jangan membaca”, menuduh bahwa para tentara NATO, pekerja kemanusiaan, dan polisi PBB adalah pelanggan bar-bar tempat perempuan-perempuan Eropa Timur yang beberapa di antaranya bahkan baru berumur lima belas tahun disekap.
Karena langkah nekat itu pula akhirnya Bolkovac dicopot dari tugasnya dan dipindahkan ke ruang teleks di suatu daerah di Sarajevo, yang jauh dari perempuan-perempuan korban trafficiking dan kerja sebagai penyelidik.

 

Tindakan senada juga pernah dilakukan opsir polisi lainnya yakni David Lamb, mantan opsir polisi dari  Philadelphia, dia menjadi penyelidik kasus terkait hak asasi manusia di Bosnia Tengah. Dalam satu penyelidikan, Lamb bertemu sekelompok perempuan korban trafficking yang diselamatkan dalam suatu razia. Mereka menceritakan bagaimana seorang opsir IPTF dari Romania dan istrinya terlibat langsung perekrutan dan penjualan perempuan ke satu bordil di kota Zvornik, Bosnia. Dalam beberapa minggu, penyelidikan Lamb telah mengumpulkan bukti yang lebih daripada cukup untuk mendukung penyelidikan kriminal serius. Dia menemukan bahwa anggota-anggota IPTF terlibat langsung memaksa gadis-gadis melacur. Dalam satu kasus, dua polisi IPTF dari Romania katanya merekrut perempuan-perempuan Romania. Kedua polisi membeli dokumen-dokumen palsu, menyelundupkan perempuan-perempuan itu ke Bosnia, dan menjual mereka ke para pemilik bar setempat untuk dijadikan pelacur. namun sama juga hasilnya, kasus yang ia sampaikan malah lenyap tak karuan.

 

 

Victor malarek sangat cerdas untuk mengaduk emosi pada setiap pembacanya, kita akan terbawa secara emosi ke dalam buku ini, kasus-kasus nyata tersusun dengan apik ditulis olehnya. Gerald Stoudmann dari Organization for Security and Cooperation in Europa (OSCE) dengan jengkel memberi tahu delegasi-delegasi dalam suatu konferensi di Wina pada April 2001 bahwa pemerintah-pemerintah Eropa sering kali “cuma bisa ngomong” mengenai persoalan trafficking dan tak banyak bertindak untuk menghentikannya. “Yang sekarang diperlukan,” katanya, “adalah perbuatan, bukan kata-kata.” Hal itu menjadi salah bukti jika Banyak sekali pemerintah di berbagai negara yang begitu menggampangkan kasus ini. Berbagai hal tidak terduga atau yang sama sekali tidak mungkin kita pikirkan tersaji dalam buku ini, dimana hal ini harusnya menjadikan kita sadar jika kejahatan trafficking itu masih nyata ada bahkan semakin berkembang , dimana hal ini seolah menyadarkan kita jika ada baiknya kita tidak tinggal diam akan kejahatan yang terorganisir ini dan terus men-support mereka para wanita yang tidak bersalah, karena korban trafficking bukanlah wanita pelacur.

 

Siti Asmaul Husna, saya adalah seorang pelajar di tingkat perguruan tinggi jurusan Sejarah Peradaban Islam. Kesukaan saya adalah membaca buku, bermain game sepak bola dan menulis, dan cita-cita saya ingin menjadi seorang Jurnalis.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*