Topbar widget area empty.
Di Tembok Sekolah Di Balik Tembok Sekolah Tampilan penuh

Di Tembok Sekolah

Puisi Syamsul Bahri

 

 

Syamsul Bahri

JENDELA

 

Setiap hari,

Aku mendekap jendela

Lalu kubuka dengan perlahan

Cahaya melesap keujung jari

Setan, menutup matanya

Sedang aku memandang batu berlumut

Diciumi rinai hujan

Pelan-pelan terbelah

dan menangis gerimis

setipis asa orang miskin

menempelkan hatinya

di dinding-dinding sekolah

 

Tidakkah kau mendengar

tentang batu terbelah oleh rinai hujan?

 

Kampung seringkali membisu

Ketika ditanya, kemana bianglala yang kau pigura itu?

 

Kota seringkali membungkam mulutnya dengan sekotak nasi

Ketika ditanya, kemana perginy asap-asap pembunuh itu?

 

Tubuh yang kehilangan kepala

Menjadi asing di desa

 

Menjadi asing di kota

 

Padahal, aku membuka jendela setiap hari?

 

Brebes-Yogyakarta, 2020

 

 

 

 

Syamsul Bahri

PINTU

 

Pintu-pintu langit

Tak lagi terbuka

Menitip samsara

di atas punggung angkara

 

bejana tak lagi berisi air

melainkan durjana yang menggrogoti takdir

kuletakan tempurung

pada sebatang pohon yang sedang menyepi

ia memilih patah daripada di tebang sia-sia

di buat runcing

oleh tajamnya zaman

terjerat dalam pukat; kenestapaan abadi

 

sedang ayah seorang nelayan

yang menjadi pelayan ketakutan

 

sebelum tidur dan sesudah bangun

dan lagi

 

Pemalang-Pekalongan, 20 Juni 2020

 

 

 

 

Syamsul Bahri

DI TEMBOK SEKOLAH

 

i

Aku bersandar di tembok sekolah

masa tumbuhku menjadi bunga

 

ii

Jendelaku terukir oleh ingatan-ingatan

yang diukir oleh rinai hujan

bahkan aku lupa menatannya kembali

dan terberai, serdam mengalun

ke hilir sungai kenangan

 

iii

Tak ada yang kuwariskan disini

sebab pulang tak melulu soal uang

 

iv

beranjak dari gerbang sekolah, masa lalu terus di timbun dalam-dalam

ke pesuk anak yang menganga saat jam pelajaran telah usai

 

dan mereka dipaksa tuk memikul nasib bergotong-royong

 

meranggas luruh serupa lupa

 

v

seperti diriku kelak

tak sepenuhnya kembali

kedalam pangkuan nestapa

di hunjam zaman kemana

arah langkahku pulang

 

Yogyakarta/31/01/2020

 

Syamsul Bahri, lahir di Subang 12 Juli 1995. Sajak-sajaknya pernah tersiar di berbegai platform media daring dan luring. Salah satu puisinya termuat dalam antologi bersama, antara lain: Carpe diem (Penerbit Halaman Indonesia, 2020) Surel: :syamsulb725@gmail.com. IG: @dandelion_1922.

 

Catatan: Puisi ini adalah hasil praktik Kelas Menulis Sharing Puisi Apajake yang dibimbing dan dikurasi oleh Abdul Aziz HM. El-Basyro.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: