Topbar widget area empty.
Mahaguru Itu Adalah Nona Corona coveid19-text-on-paper-3952238 Tampilan penuh

Mahaguru Itu Adalah Nona Corona

Puisi I Made Kridalaksana dan Silverius Pantola

 

 

I Made Kridalaksana

MAHAGURU ITU ADALAH NONA CORONA

: Untuk anak-anakku

 

Anak-anakku

Di ujung tahun ajaran ini

Melawat dari seberang negeri

Mahaguru baru nan mumpuni

Pengajar seluruh bumi

 

Nona Corona adalah mahaguru itu

Dari Wuhan ia terbang bertamu

Memangkas jarak buku-buku

Sedekat ujung kuku-kukumu

 

Bilik rumahmu disulap ruang kelas

Tempatmu mengeja tugas

Walau tak mengejar kata tuntas

Dalam tempo tak berbatas

 

Kuota dan gawai adalah kawan

Agar kau mampu bertahan

Tak keluar rumah seharian

Menangkap ilmu pengetahuan

 

Nona Corona adalah mahaguru sejati

Bimbing jarimu rangkai diksi puisi

Tuntun meditasimu kenali jati diri

Di sudut-sudut kamar yang sunyi

 

Bongkasa, 19/6/2020

 

 

 

 

I Made Kridalaksana

BANTU AKU MENJAWAB TANYA MEREKA

 

Corona adalah durjana

Kaucuri kata-kataku

Tak mampu aku jawab

Ketika kaca-kaca jendela tak bosan-bosan

Menanyakan nama anak-anakku

Seperti aku melantunkan nama mereka

di setiap pertemuan

Sebelum berselancar melayari samudera keilmuan

 

Corona

Mulutku adalah seragam APD

Terkunci sempurna

Tak bisa kubuka saat meja-meja bertanya

Kapan anak-anakku menyalakan bara

Yang menyemburkan kehangatan

Dari tubuh buku-buku mereka

 

Corona

Aku bukan koruptor

Yang bisa senyum di sana-sini

Saat pahlawan bertanya dari seisi dinding

Kapan anak-anakku bisa belajar berpidato lagi

Menggemakan semangat berkobar

Merangkai persaudaraan di seluruh bumi

 

O, Corona

Bantulah aku

Kembalikan kata-kataku

Aku tak mau terus membisu

Ingin aku menjawab tanya anak-anakku

Kapan mereka bisa menembangkan lagu merdu

Menjalin diksi-diksi puisi

Dan mengeja huruf demi huruf

di halaman-halaman buku

Seperti dulu

 

Bongkasa, 19/6/2020

 

 

I Made Kridalaksana. Lahir di Bongkasa, Badung, Bali, tahun 1972. Pendidikan terakhir S2 Linguistik di Universitas Udayana Denpasar (2007). Kini, guru di SMA Negeri 2 Mengwi, Badung, Bali. Puisi: “Andai Kau Hidup Kini” lolos kurasi untuk antologi puisi “Mengunyah Geram, Seratus Puisi Melawan Korupsi” (2017), “Ijen, Langkahku tertahan di Kakimu” lolos kurasi untuk antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen, Antologi Penyair Nusantara” (2018), dan, “Kisah dari Atas Piyauku”, lolos kurasi antologi puisi “Kunanti di Kampar Kiri, Antologi Puisi Penyair ASEAN” (2018).  Puisi saya “Negeri Kami Tidak Butuh Terormu” dimuat di Pos Bali (2018). Antologi bersama lainnya, Megatruh (2018), Hujan (2018), dan, Teroris (2018). Artikel-artikel saya pernah dimuat di Bali Post, Den Post (Bali Post Group), dan, Bali Express (Jawa Pos Group).

 

 

 

 

 

Silverius Pantola

DI DEPAN KERTAS

 

Di depan kertas putih polos

Tanpa bekas tinta tergores

Ia duduk termangu sembari melototi

Kata-kata nyaris termakan nyala pelita

Lalu kembali menjadi abu

 

Di antara sunyi yang mencekik malam

Tak ada yang hendak ia tuliskan

Hanya seuntai nama dalam benak

Yang pernah menasehatinya

Tentang cerita alam semesta di dalam buku

 

Sunyi yang membubuhi hatinya

Seakan melebur seketika

Bersama cairan tinta dan cinta

Membentuk sajak-sajak rindu

 

Kediri, 18 juni 2020

 

 

 

 

Silverius Pantola

MIMPI

 

Kita diseragamkan oleh sutra

Yang membalut nadi dan rindu

Sebagai tanda kesetaraan hidup

Namun tak dengan cinta yang sama

 

Kelak kita akan dilahirkan kembali

Dalam mimpi yang beragam

Namun tak menjamin keutuhan rindu

Yang pernah satu dalam bingkai kelas

 

Lalu kita bertanya-tanya pada kenangan

Tentang mimpi yang pernah ditulis

Dalam buku catatan harian

 

Ataukah kita bertanya

Pada mentari yang bersinar

Bagaimana dengan bunga

Yang tumbuh di atas pekarangan?

 

Kediri, 18 juni 2020

 

 

 

 

Silverius Pantola

PERAHU KERTAS

 

Seindah bola matamu berbinar

Menatap mentari merangkak dari ufuk timur

Yang beranjak menyapa kembang di taman

Membawa kertas-kertas usang tanpa pesan

Melintas di antara deretan kepala

 

Kertas-kertas usang dari barat

Telah menjelma perahu kertas

Yang berlayar menuju timur

Lalu mendarat di atas atap kelas

Yang sunyi dan berdebu

 

Kediri, 19 juni 2020

 

Silverius Pantola, lahir di Oelnunuh, 01 05 1996. Asal: Propinsi NTT, sekarang kuliah di IIK STRADA Indonesia, berdomisili di kota Kediri Jawa timur.

 

Catatan: Puisi di atas adalah hasil praktik Kelas Sharing Menulis Apajake yang dipandu dan dikurasi oleh Bapak Abdul Azil HM. El-Basyro.

Photo by cottonbro from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*