Topbar widget area empty.
Musim Hujan Hujan April Tampilan penuh

Musim Hujan

Puisi Rion Albukhari

 

SONET KUTUKAN RINDU

Oleh: Rion Albukhari

 

Masih ada sisa kutuk di atas meja,

denting jam terbang ke arah angin,

waktu menjadi jauh,

menggugurkan kelopak-kelopak mawar kesedihan.

 

Di luar seekor kelelawar meliuk-liuk,

memesan cuaca yang tak berjudul,

dan masih kudengar ricik di lurah,

tanah-tanah kehilangan akar (langkah yang terpatahkan).

 

Juga sisa sesal berjubel batu yang mati sudah sejak lama.

Masih terlihat beberapa loncatan kata di punggung cakrawala,

di antara mulut-mulut awan yang terluka.

 

Masih kudengar sayup suaramu bergema,

di atas meja dan kutukan yang itu juga,

di antara lirih lengking rindu.

 

Bayang, 25 Mei 2020

 

 

 

 

JADI BAGAIMANA

Oleh: Rion Albukhari

 

Jadi bagaimana?

Masih di malam

yang ini juga,

malam yang meluncurkan

bunga-bunga kecemasan,

bikin panah api padam

sebelum dilontarkan.

 

Kau kata aku

harus ke laut,

biar luluh lantak senyap

dalam kepingan karang,

biar luluh hasrat

beserta ini gamang.

 

Aku ke laut,

membuka hari baru,

tapi bajumu,

bau bajumu bagai tuak

yang terkubur dalam ingatan,

pangkal dan ujung

yang tak kutemukan,

jadi bagaimana?

Kutanyakan.

 

Bayang, 2020

 

 

 

 

PETRIKOR

Oleh: Rion Albukhari

 

Senin 04.51 April hujan turun,

bumi yang lusuh hidup

dari kematiannya,

kematian yang kita buat-buat,

kuhidu berulang

aroma lembab

tanah gersang.

 

Aku di sini,

dia, dan kalian

entah di mana,

tapi aku berani

menyampaikan titah,

bahwa saat ini

aku merasakan

dan menyaksikan

kehidupan bernyanyi,

dari aroma petrikor

yang meruyak.

 

Bayang, 2020

 

 

 

 

SUATU HARI DI MUSIM HUJAN APRIL

Oleh: Rion Albukhari

 

Suatu hari di musim hujan April,

di pangkal detik yang letih,

kau melipat baju-bajuku yang basah.

 

Suatu hari di musim hujan April,

di bawah jembatan rubuh,

kau memungut sisa tulang-tulangku.

 

Suatu hari di musim hujan April,

di jalanan basah tanpa debu,

kusentuh air,

membayang ia,

bagai wajahmu yang membundar.

 

Bayang, 2020

 

 

 

 

PERTANYAAN SEBELUM MUSIM HUJAN TIBA

Oleh: Rion Albukhari

 

Seekor burung mewartakan musim hujan akan segera tiba,

di tepi perigi kelopak anyelir terlepas dari tangkainya

aku bermain dengan bayangan diri dalam kaca,

bertanya-tanya;

“dapatkah kita menikmati musim kali ini berdua?”

 

Bayang, 2019

 

 

 

 

PERPISAHAN

Oleh: Rion Albukhari

 

Dalam musim gugur,

sebatang pohon ceri bernyanyi sedih,

melihat daunnya ditarik angin,

di saat seperti itu pun aku juga terayun dalam kegundahan,

tak hentinya, membayangkan punggungmu

dibawa pergi teja senja.

 

Bayang, 2019

 

 

Rion Albukhari, lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera. Sekarang adalah mahasiswa di Unand pada prodi ilmu sejarah. Menulis esai dan puisi di media. Bergiat di organisasi Cendekia dan rumah baca Pelopor 19.

 

Photo by Bibhukalyan Acharya from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*