Topbar widget area empty.
Putri Sipenjual Kitab Usang cover gadis penjual buku Tampilan penuh

Putri Sipenjual Kitab Usang

Puisi Kiki Nofrijum

 

 

Mematut Yasmi, Putri Sipenjual Kitab Usang

Oleh: Kiki Nofrijum

 

Yasmi. Dia gadis elok anak penjual kitab usang dari kota Naesapur.

Telah aku kagumi dirinya dalam diam,

disaat malam naik menampakkan bintang-bintang.

Aku bak juru nujum. Membayangkan bintang-bintang melukis dirimu.

 

Ondeh Tuan Oi. Matamu begitu nyala

benderang yang menerangi hati.

Tatap matamu yang basah, seperti bulir-bulir berkilauan

menghadirkan tumbuh bunga yang merekahnya.

 

Bila hujan mendatangi malam, aku menyisip rindu diantaranya.

Berjalan di sela derai hujan, menempuh dirimu

yang sedang mengapa.

 

Disuatu kali, aku mengunjungi kedai kitab ayahmu.

Membaca kitab-kitab tentang langit.

Seraya menyelipkan pandangku pada matamu,

lalu aku menerka bibir lembut di balik purdahmu.

Demi jiwaku, kau membalas pandangku dengan rasa gemetar

Dengan lupa, gemetarmu mencabik lembaran kitab euklid kesayangan ayahmu.

Ayahmu begitu marah, bagai api yang terus membara.

Kau terisak dan  penuh ketakutan.

Akulah yang seperti air, meredam amarah ayahmu,

membeli kitab yang kau cabik itu.

Kau tersipu malu Yasmi. Matamu seakan menyipit.

Aku tahu, di balik purdamu, ada senyum di bibir tebalmu.

 

DirumahAja, 2020

 

 

 

 

Rindu Yang Gila Dari Putra Khayyam

Oleh: Kiki Nofrijum

 

Damar ini hanya menerangi lembaran kitab Euklid yang aku beli dari ayahmu.

Tapi aku tidak sedang membacanya,

Hanya saja lembaran cabik itu mengantarkan aku pada sebuah ingatan,

tentang kita yang saling memandang

tentang kita yang saling gemetar.

 

Demi akal dan rasaku, sungguh aku seperti permainan dadu

yang dimainkan Rahim Situan pelindungku,

berguncang menentukan angka yang dimau.

Benarkah tatapan itu merencanakan rindu?

 

Dengan pasrah aku bercerita dan meminta kepada tuan.

sebuah hari untuk perjumpaan.

Meringkas hari itu dengan cerita yang bersahaja.

Bukan tentang istana yang megah, dan

Permadani lembut sutra dari Cina.

 

Apalah daya seorang budak putra Ibrahim,

Sipembuat tenda dari kota Naesapur?

Hanya rindu yang gila. Birahi yang mengaliri darah hangat

dari tanah Persia.

 

DirumahAja, 2020

 

 

 

 

Merangkai Mimpi Pada Perjumpaan

Oleh: Kiki Nofrijum

 

Hari perjumpaan itu datang kepada kita Yasmi.

Dan kita saling bercengkrama dengan sipu malu.

Sampai kata-kata mengalir seperti air pancuran itu.

Aku dan kau, saling merangkai mimpi.

 

+Aku ingin Observatorium di menara sunyi itu.

Dan angsa-angsa putih berenang dekat paviliunnya itu.

+Aku beli permadani terbaik dari Cina untuk kakimu yang lembut.

Kalau begitu, akan kutuangkan anggur manis ke dalam piala emas setiap malam untukmu.

+Dan aku akan seperti Saidi Ahmad si ahli nujum, mengubah bintang-bintang menjadi malam yang indah.

 

Waktu melarutkan perjumpaan.

Seakan langit menelan mimpi kita yang terangkai indah.

Senja beranjak malam. Menampakkan bintang-bintang

yang disusun Ptolemeus.

Dan lambaian menyambut genggaman.

 

Bisakah kau menjamin aku dan menara sunyi itu selepas perang wahai Omar?

+Hanya sekuntum mawar yang terikat jubah putih lembutku ini Yasmi.

 

DirumahAja, 2020

 

 

 

 

Zoe Menawarkan Aku Dunia Yang Indah

Oleh: Kiki Nofrijum

 

Dialah Zoe. Seorang gadis dari sisa perang.

Rambut pirangnya terurai panjang

diantara gadis-gadis yang tertawan.

 

Menuju jalan pulangku, ke kota Naesapur.

Dan kau mengiring setiap langkah kakiku

pada tubuh yang gemetar.

 

Di tengah jalan, kami melepas penat

dari tubuh yang penuh lelah.

Pada langit yang berbintang, dan

pada unggun api yang menyala,

kau menuangkan anggur merah pada sebuah piala.

Lalu aku meneguknya penuh nikmat.

Aih Tuan. Sungguh itu adalah kebiasaan Rahim Si tuan pelindung.

 

Aku menikmati kemabukan pada heningnya malam.

Demi diriku, akal dan rasaku sesaat menghilang,

hanya muslihat sihir yang terbayang.

 

Yang kulihat, kurusmu adalah tubuh yang menggoda

Pucatmu adalah wajah yang menawan

Kusut rambutmu adalah indahnya kilau rambut pada belaian

Bau tubuhmu, seakan memancar harumnya wangian kasturi.

 

Malam ini. Kau menawarkan aku dunia dengan dosa yang indah

dan kesenangan yang tiada batasnya.

 

DirumahAja, 2020

 

 

 

 

Geliyorlar, geliyorlar. Langit dan Bintang Pun Bersaksi, Menyambut Tibanya Perang

Oleh: Kiki Nofrijum

 

Pada siang, lenggang angin menyusuri bukit dan lembah.

Mengibarkan bendera sultan Alp Arslan dari tanah Seljuk

dengan gagah di sisi dinding kota Malassgrid.

Juga pasukan-pasukan veteran yang tidak sabar

menunggu siang beralih malam.

Menunggu Maharaja Romanus dari tanah Rum itu,

bersama tentara-tentara termasyhur

Ada laskar pejalan kaki

Pasukan kuda berbaju besi

Pemanah sewaan dari bangsa Bulgar

Prajurit pedang dari bangsa Georgia

Dan orang-orang Armenia.

 

Malam dan kerlip bintang menghiasi dinding langit,

dan nyala api unggun menyambut dari tenda pengawasan.

Menerangi bayang Jafarak pada dinding tenda,

seperti pertunjukan siluet yang menari-nari.

Dan aku mematut langkah demi langkahnya,

langkah yang begitu gelisah, mengawasi tibanya lawan.

 

Waktu terus melarutkan malam. Dalam hening tiba-tiba,

suara rantak kuda dan kaki besi terdengar riuh,

mendekat dan semakin menggaduh.

 

“Geliyorlar, geliyorlar”. Jafarak berteriak.

Langit menggemakan suara terompet yang mengaung

dan bunyi tabuh yang berdentum.

Langit dan bintang pun bersaksi, menyambut tibanya perang.

Menghadirkan hujan tombak bercampur panah,

goresan tameng dan baju besi,

Kuda-kuda yang patah kaki,

gemericik api aduan pedang,

jubah-jubah perjuangan mullah yang beterbangan

dan darah-darah mengaliri tanah yang kering.

 

DirumahAja, 2020

 

 

Kiki Nofrijum lahir dan besar di Sijunjung, Sumatera Barat. Bergiat di kampung memperdalam ilmu puisi kepada siapa saja. Fb/Ig: Kiki Nofrijum

 

Photo by Leah Kelley from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: