Topbar widget area empty.

TEMANKU

Puisi Bolanius Deneri Bakri

 

 

Bolanius Deneri Bakri

TENTANG TEMANKU

 

“dan aku
memiliki teman
yang menempuh jarak seribu kilometer
selama tiga jam, setelah melipat kursi,”
dan apakah aku
harus percaya ceritamu?

tenda-tenda pelaminan  penuh cuka
beruntuhan dihajar angin insomnia
—dan apakah kota ini malaria?

mari, masih ada sehari
dan sehari lagi
sebelum umur-umur berguguran
lalu kapal-kapal tenggelam
di samudera kosong

 

Terminal Amplas, 2020

 

 

 

 

Bolanius Deneri Bakri

MENYAPA TEMANKU

 

merah bibir kita, kau tahu
adalah kematian
dan putri sungai kampar
adalah pembantai ayam-ayam purba
di abad penuh kelebat mobil-mobil

di jantungku ada rusa, seperti sebuah
hari rabu yang mendusta-dusta untuk
menyeka air mata kidal

dik, tidurlah
rumitkanlah mimpi
agar orang-orang tak tahu
ada aku yang bersembunyi
disini

 

Terminal Amplas, 2020

 

 

 

 

Bolanius Deneri Bakri

MENGINGATKAN TEMANKU

 

jaring laba-laba memang tak akan pernah
mencegah galon itu tercuri, tapi tahukah
kau, bila bulan dipandang selama tiga puluh hari

ada mataku
yang selalu, terus selalu
merangkai bom demi bom
menyelundupkannya di sawah-sawah

dan meledak tanpa sangsi

 

Terminal Amplas, 2020

  

 

 

 

Bolanius Deneri Bakri

TEMANKU MUNGKIN TAHU

 

mari bersua mengukir cerita
—kupinjam sedotanmu
yang terkubur di dalam
lambung tukang bakso

“wajahmu merah
ideologimu patah
dan dosa dikejar-kejar matematika pemarah.”

sini, kak
ada dua musim hujan lagi
yang bersembunyi di pipi tembam itu

sehujan, benar-benar sehujan lagi
ember-ember akan dipenuhi
puntung rokok gopek sebatang
persembunyian akan tersibak

“sehujan, dan sehujan lagi
kita beli balon lupa hormat itu, sayangku.”

 

Terminal Amplas, 2020

 

 

 

 

Bolanius Deneri Bakri

KEPADA TEMANKU

 

identitas hanyalah motor-motor 250 cc
yang tak mampu mengejar kebodohan
orang-orang di masa kuno

percayalah, bahwa seribu rupiah
sama dengan 20 kg kepala botak
dari seorang pelukis tua

dan metafora-metafora
hanyalah abu vulkanik
yang komposisinya
sama sekali tak pernah mau
dikenal oleh kau dan aku
yang buta matematika

 

Terminal Amplas, 2020

 

Bolanius Deneri Bakri. Lahir di Balige, 26 Maret 1995. Sekarang menetap di Medan. Bekerja sebagai kasir di sebuah toko ritel. Mendirikan komunitas literasi Kursilipat.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: