Topbar widget area empty.
Tentang Harapan, Keraguan, dan Kebahagiaan Tentang Harapan Keraguan dan Kebahagiaan Tampilan penuh

Tentang Harapan, Keraguan, dan Kebahagiaan

Puisi M.Z. Billal

 

 

M.Z. Billal

Di Ruang Kerja

 

aku adalah pasir dalam botol kaca

dan kau memecahkannya. kau taburkan aku

melalui jendela. agar bisa kusaksikan langit biru

yang tak pernah menaruh harapan pada siapapun

mengasihinya. dan kau bebas. memudar

dan muncul di suatu tempat, mungkin di tepi pantai

atau dalam sebuah toko di depan jalan yang sibuk.

kau menjadi sesuatu yang asing, patung dada

dengan kepala selalu menoleh ke kanan,

saat aku berkunjung menghabiskan sisa liburan

sebelum kembali ke kubus kerjaku yang sempit

dan masih ada satu fotomu yang tersenyum manis.

 

di ruang kerja,

aku ingin menelan pohon-pohon

seperti es krim. menikmati tiap bagian

yang meleleh sambil mengubah jalanan

menjadi mirip sebatang cokelat. agar ketika sewaktu-waktu

aku merasa lapar, aku tinggal memotongnya

dan meletakkan di atas piring ditemani segelas

susu kuning emas yang kuperah dari matahari.

dan pada hari-hari yang lain aku pergi berenang

menjadi lumba-lumba pemberani. menyeberangi samudra.

menjauhi daratan yang penuh kebiasaan buruk.

dan pergi ke palung-palung dalam untuk menyelesaikan

misi melepaskan ikan-ikan sepi.

yang menetas dari mataku sendiri.

 

Kubus Kerja, Juli  2019

 

 

 

 

M.Z. Billal

Tuhan, Aku Pulang Melepas Dada

 

aku merindukan kampung halaman

dalam rahim ibu.

yang hening, tanpa huru-hara

hanya terdengar jantung berzikir, mengalun

dan gemanya menjadi keping-keping darah,

mengalir lembut memasuki dadaku yang kosong sampai sesak

oleh rasa bahagia yang tak terperikan.

meski gelap aku tak pernah sendiri

ada tangan ayah yang menjagaku dari prahara

dan Tuhan yang kemudian menyelimutiku hangat dengan sulur cahyaNya;

meredam nestapa yang kurasa rahasia dalam urat arteri ibu. sekian waktu.

 

dunia pada masa kecil begitu lurus dan rapi

juga berwarna sehijau rambut lembah-lembah jauh

dan biru laut langit yang bersahaja.

masa itu adalah arena petualangan, bebas mentertawai tiap-tiap kebodohan

berkarib dengan matahari yang kekanakan juga hujan yang berparas rupawan.

kadang aku merasa cukup bahagia hanya dengan menjadi meja tulis

di sekolah. kursi kayu tanpa sandaran,

sebatang kapur yang patah jadi dua, atau penghapus

yang menelan dengan rakus kata-kata yang tergores

di papan hitam yang mulai tua. segala hal sederhana

mudah dilupakan, namun terhormat untuk kelak dihelat dalam hari raya

mengenang kisah-kisah bahagia.,

 

namun seiring lembar waktu dilipat ke belakang,

tatkala kedua tungkaiku menjadi jangkung, melampaui lutut almanak

dan otot tubuhku lebih liat dari sepasang lengan kekar ayah

aku mulai memangsa kanak-kanak dalam diriku

tanpa ampun. meminum darahnya seperti dalam sebuah perayaan, sukacita

lalu pergi mengembara. berpura-pura dan bersikap masa bodoh.

membakar diri sendiri pada malam-malam telanjang,

seolah akulah satu-satunya pemilik peta

menuju masa depan yang dipenuhi kilau ratusan purnama.

padahal kenyataannya aku hanyalah abu kelam sia-sia

yang menabur diri sendiri di sepanjang sabana dosa-dosa.

 

aku mengkhianati pohon-pohon masa kecil.

aku mengkhianati bangku-bangku di ruang keluarga.

aku mengkhianati buku-buku pelajaran.

aku mengkhianati jam dinding dan kalender yang mengingatkanku pada hari kelahiran.

aku mengkhianati ranjang dan selimut tidur beserta seluruh mimpi indahnya.

aku mengkhianati pelukan dan segenap petuah guru-guru berwajah bahagia

aku mengkhianati cangkir dan teko serta segala benda dan menu di dapur ibu.

aku mengkhianati nisan ayah dan rerumputan yang tumbuh di atas makamnya

aku juga mengkhianati ribuan cahaya dalam kitab suci.

dan pada akhirnya aku telah mengkhianati diriku sendiri.

 

Tuhan,

kini aku ingin pulang

aku ingin tidur dan menjadi janin di rahim ibu.

membebaskan segenap badai dan gemuruh yang telah ribuan waktu

mengamuk dalam dadaku.

juga dosa-dosa yang telah tumbuh seperti rimba

paling berbahaya di jagat semesta.

Tuhan,

maka perkenankanlah aku singgah di ruang tamuMu

mendedah diri sendiri dan mengenang semua air mata yang pernah tumpah

saat aku lupa menyebut namaMu dalam hiruk pikuk dunia

yang penuh tipu dan daya.

 

Ruang Tadabur, Oktober 2019

 

 

 

 

M.Z. Billal

Petuah Bapak Sebelum Tidur

 

 

nak, jangan engkau takut pada mati

ia kawan baik semua makhluk.

usah pula kau berat memikirkan nasib

malam ini, tidurlah sebaik-baik engkau ingin bermimpi:

 

“Tuhan tidak tidur

Tuhan ada di tempat tidur

Tuhan membelai saat semua tertidur

Tuhan tidak membunuh orang tidur

Tuhan membangunkan dari tidur

dan Tuhan mencintai orang-orang yang melepas tidur

saat yang lainnya tenggelam dalam tidur.

Tidur, Nak. Tidurlah.”

 

Kamar Alegori, Februari 2020

  

 

 

 

M.Z. Billal

Rindu yang Bermukim di Dadaku

 

lembah masa kecil kian subur

oleh kenangan

menjelma ladang yang gembur

bagi harapan

juga rindu yang akhirnya memilih tinggal

bermukim di dadaku yang lapang

 

tidak pernah ada yang berubah

meski jagung-jagung telah berkali-kali

kuning keemasan

dan lembah ini patah hati

oleh musim kering yang panjang

 

aku selalu menyebut namamu

di tiap ayat-ayat puisi yang kutulis

sebagai bekal tidur terbaik

bagi rinduku yang kadang gamang

dan butuh sebuah pelukan

 

Lembah Jauh, Maret 2020

 

 

 

 

M.Z. Billal

Kata Ibu Tentang Harapan, Keraguan, dan Kebahagiaan

 

#harapan

kata ibu

harapan adalah ikan paus

ia memang harus menerjang ombak

juga badai

tak boleh sampai terdampar

sebab ia akan sedih

dan mati

 

#keraguan

kata ibu

keraguan adalah resep obat yang tertukar

ia hanya akan membuatmu sakau

larut dalam angan-angan palsu

dan menjadi dungu

melebihi seekor keledai

yang menggiling kedelai

di rumah tua berdebu

 

#kebahagiaan

kata ibu

kebahagiaan adalah sebuah amplop merah

ia dikirim Tuhan melalui tukang pos

yang tak pernah berhenti tersenyum

dan hujan sekalipun tak mampu melunturkan

rona  merah jambu pada wajahnya

meski sebenarnya tak ada apa-apa di dalam

amplop merah itu.

 

Kamar Kata, Maret 2020

 

 

 

 

M.Z. Billal

Perjalanan Rindu

 

 

aku berhenti sejenak. tapi tidak karena merasa lelah.

sepasang kaki yang kumiliki kuat menempuh

jarak yang jauh. mendaki bukit batu dan menuruninya

lalu menertawakan diri sendiri meski tidak ada

siapa-siapa, kecuali keinginan dan harapan

yang mendekap lebih hangat dari sinar pagi matahari,

serta wajah kokohmu yang tak pernah hilang di langit yang lembut

meneduhkan bidang hatiku  yang gersang seperti daun-daun angsana

yang puitis. di pekarangan  sebuah rumah,

yang barangkali adalah rumahmu.

perjalanan ini berat dan menyedihkan. tapi aku

tak akan pernah berbalik arah, kembali ke rumah, dan membatalkan

misi menaklukkan rindu,

yang riskan ini.

 

pagi demi pagi, aku pergi menyusuri

aliran sungai yang kupastikan membimbingku

pada sepasang matamu, lalu kembali ke jalan utama

dimana akan kulihat kedua tanganmu merentang

menyambut kedatanganku. ramah dan penuh kasih

seperti matahari. meski kerap saat kulihat dirimu

di setiap tikungan lesap dan menyisakan jejak

sebagai fatamorgana. yang hanya sekadar meredakan

dahaga dan air mata. juga kabut yang melingkupi

segala yang terlihat.

 

Kamar Alegori, April 2020

 

M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, apajake.id, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Radar Cirebon, Kedaulatan Rakyat, Lentera PGRI, Kurungbuka.com, Medan Pos, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, Travesia.co.id, Radar Bekasi, mbludus.com, Tanjung Pinang Pos, biem.co, biliksantri.com. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: