Topbar widget area empty.
Setelah Kuhapus Huruf Terakhir Huruf Terakhir Tampilan penuh

Setelah Kuhapus Huruf Terakhir

Puisi Aditya Ardi N

 

 

Aditya Ardi N

NUJUM PERPISAHAN

 

angin keraguan merumrum segala kehendak yang dulu tegak

hingga hari-hari bakal kehilangan sajak

 

“jarak adalah jalan buntu menuju cumbu,

jalan buntu mencapai rindu,” bisikmu

 

“bukan jarak kekasih, jurang pemisah itu,

tak lain renjana yang tak lagi terbit di hatimu,” tukasku

 

dan cinta,

cinta yang telah tiris

bakal dilepas dari buhulnya

 

tak bakal ada lagi transmisi rindu dari dadaku

tak bakal ada lagi kutipan sayang menggetarkan bibirmu

 

di bawah kendali halimun

kesedihan dengan tangkas menggenapi hari-hari

kesedihan yang akan segera kau akrabi

sepanjang musim-musim anomali

dan waktu akan berjalan di luar aku

 

 

 

 

Aditya Ardi N

KREMASI KENANGAN

 

mimpi adalah kamar

ruang samar yang tak habis dibakar

: tempat kita biasa bertukar kabar

 

ingin kuledakkan kepalaku

saat wajahmu, dendam, dan rindu bersekutu

mendedas ingatanku yang tinggal pilu

 

hujan hitam turun saban waktu

merusuh padang halimun sukmaku

 

meski kata maafmu

tak pernah sampai mengairi api amarahku

telah kupadam dendam dan kesumatku

sejak langkah pertamamu berpaling dariku

 

o, segala riak kehendak

demi rasa sakit, kutelan pil pahit perpisahan

 

tak ada teluh paling ampuh, selain cintamu

aku serupa belatung yang bersetia menyusuri musim-musim kehilangan

tanpamu kali pertama, aku hanya bangkai yang lupa diberi nama

: hari-hari delusi semata

 

menahun kuikhlaskan laba-laba

membikin sarang di jantung rinduku yang suwung

 

hingga angin selatan meniupkan lagi bara di dadaku

hei, jiwaku kini unggun api!

mengkremasi korpus kenangan

membakar belukar keraguan

 

 

 

 

Aditya Ardi N

SETELAH KUHAPUS HURUF TERAKHIR

YANG MENYUSUN NAMAMU (1)

 

/1/

bila kesunyian adalah jalan

maka sendiri bakal kutempuhi

serupa asteroid yang melayari seluruh galaksi

 

/2/

lupakan jalan yang mengekalkan riwayat percumbuan

sebab benci dan cinta punya cara kerja

yang sama rumitnya

 

/3/

meski hari-hari berkejaran menuntaskan tahun,

tanpamu, waktu cuma gugusan kesia-siaan

 

/4/

bila kau mau

tanamlah jasadku

di sela huruf yang menyusun namamu

 

/5/

tinggalkan saja di situ

air matamu, bangkai ciumanku,

dan sisa cinta yang tercecer di lantai

 

/6/

mari berteduh di bawah bait puisi ini

 

 

 

 

Aditya Ardi N

SETELAH KUHAPUS HURUF TERAKHIR

YANG MENYUSUN NAMAMU (2)

 

tanpamu waktu menjadi satuan yang sia-sia

pagi meraih siang

siang mendorong malam

malam menanti pagi

pagi merakit sepi

sepi merenangi seluruh nama hari

 

tanpamu seluruh diksi dalam puisiku delusi

tak ada lagi imaji dalam puisi ini

setelah bait rindumu mengambil-alih semestaku

tiap kali bayangmu melintas, kutegakkan insomniaku

 

 

tanpamu aku hanya heina buta

yang melolong di kesunyian belantara

memanggili namamu agar kembali

mendegupkan jantung puisi ini

 

 

 

 

Aditya Ardi N

KITA HANYA SISA YANG TAK MAU USAI

 

kita tak pernah jauh

sebab tiap jantungmu berdegub

darahmu mengaliri tubuhku

 

kita tak pernah dekat

sebab jarak memang susah dilipat

hingga peluk dan rindumu berkarat

 

kita tak pernah jauh

sebab tiap mulutmu bicara masih saja

kau bunyikan namaku dengan cinta

 

kita tak pernah dekat

meski

kita tak pernah jauh

mungkin

kita hanya sisa yang tak mau usai

 

 

 

 

Aditya Ardi N

JEALOUSY BLUES

 

kusetel lagu-lagu blues

kunyalakan lampu kafe di dadaku

lampu temaram itu, mengekalkan ingatanku

pada lunak bibirmu yang sempat terlumat malam minggu

“cium aku seolah ini ciuman penghabisan,” bisikmu malam itu

 

dan selalu bisa ditebak, kau pun beranjak

selagi blues mengalir halus di telingaku

sejak itu insomnia mendistorsi malam-malamku

hibuk mengkalkulasi langkah kepergianmu

 

kesedihan turun begitu lugas

seperti notasi blues mengiringi keterasinganku

 

kini cuma tersisa tanya sepahit peria

siapa kiranya yang membersamai petualanganmu kini?

 

gitar melodi melengking, menghantarkan sakit pilu

menjejalkan dendam rindu ke dalam relung jantungku

 

 

Aditya Ardi N. Penyair, Buku  puisi  tunggalnya Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016), Manifesto Koplo (2019). Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media online/cetak  lokal maupun nasional. Memenangkan Green Literary Award  (Jakarta, 2015)  kini tinggal dan berkarya  di Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang,    Jawa Timur  kodepos: 61473. IG: @aditya_ardi_n

 

Photo by Tirachard Kumtanom from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: