Topbar widget area empty.
Pelajaran Hidup Itu Bernama Corona cobaan itu bernama corona Tampilan penuh

Pelajaran Hidup Itu Bernama Corona

Opini Muhammad Fajar, Siti Fatimah dan Riswanda

 

 

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah: 5)

 

Layaknya mengerjakan soal matematika, tanpa ada solusi penyelesaian tidak mungkin persoalan Matematika dapat kita taklukkan. Begitupun halnya masalah, memang masalah selalu membelenggu pikiran orang. Kabarnya Allah tidak pernah menjanjikan hidup ini mudah tanpa ada masalah. Manusia diuji sesuai kadar kesanggupannya. Begitulah proses kehidupan. Tidak ada yang mudah bahkan seorang anak kecil rela jatuh dan terjatuh demi bisa berjalan. Dan kabar baiknya di setiap lika-liku perjalanan yang dilalui seorang manusia terselip sejumlah pertolongan berupa kemudahan yang Allah berikan. Allah terang-terangan berjanji pada kita, jadi mengapa hati mesti risau? Yakinlah! Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan yang Allah berikan.Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Insyirah, Allah Ta’ala berfirman,

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)

 

Tidak ada kejadian sekecil apapun terjadi tanpa izin-Nya. Allah sudah susun skenario hidup hamba-Nya dengan sebaik-baiknya dan secantik-cantiknya. Kalau kita saja percaya pada sang penulis dan menyerahkan ending cerita pada sang sutradara. Jadi mengapa hari ini kita masih enggan untuk percaya bahwa Allah sudah membuat skenario hidup masing-masing hamba-Nya dengan begitu indah? Memang dunia sengaja Allah ciptakan sebagai tempat ujian. Dan kabarnya tidak ada satu orang pun yang bisa bebas dari ujian hidup. Mau dari belahan dunia mana kita hidup, tidak ada satupun makhluk yang lepas dari perhatian-Nya. Sebagai manusia yang kuat dan tahan banting, ujian demi ujian harus terbiasa dihadapi apapun bentuknya. Tidak ada ujian yang dapat kita prediksi kedatangannya. Sama halnya dengan virus corona. Jauh–jauh hari sebelum kedatangan virus corona, hidup kita berjalan seperti biasanya. Tidak ada peraturan ketat yang mengusik hidup kita. Dalam waktu sekejap Allah mengirimkan ujian berupa satu virus yang keberadaannya berhasil meluluhlantakan kehidupan sosial maupun perekenomial dari berbagai belahan dunia. Bahkan negara yang terkenal dengan kehebatannya dalam urusan kecanggihan tekhnologi tidak dapat membendung laju penyebaran virus ini. Sehingga berbagai solusi, langkah maupun pencegahan dilakukan secara besar-besaran. Termasuk melakukan lockdown di sejumlah negara.

 

Semenjak corona menghampiri, kini kehidupan seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebagaimana biasanya. Pembelajaran di sekolah yang tadinya dilakukan secara tatap muka kini berdalih menjadi Pembelajaran sistem daring. Akibat aktivitas sosial yang dibatasi mulai dari kebijakan jaga jarak hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mengakibatkan banyak masyarakat yang terkena imbasnya. Baik masyarakat golongan bawah, buruh, karyawan dan sejumlah lapisan masyarakat lainnya tercekik menelan dampak yang sangat merugikan di hidup mereka. Bahkan anak sekolahan juga harus menelan kenyataan pahit selama mereka bersekolah. Dunia pendidikan berubah drastis. Anak-anak sekolah tidak lagi dapat menyaksikan gurunya secara langsung menerangkan pembelajaran. Dan para mahasiswa pejuang toga pun tidak sempat merasakan manisnya menghadiri wisuda secara langsung. Bisa dipastikan semenjak keberadaan virus corona banyak orang-orang yang mengeluh. Kehadiran corona seperti musuh yang sedang mengintai aktivitas orang. Banyak saudara-saudara kita yang kehilangan nyawanya akibat keganasan virus ini. Sejumlah negara berlomba-lomba membuat vaksin. Berbagai strategi pencegahan dilakukan demi menekan laju penyebaran virus ini.

 

Seketika hidup berubah drastis semenjak keberadaanya. Kita dikepung dengan sejumlah aturan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Salah satunya wajibnya menggunakan masker, jaga jarak dengan orang-orang, kerja dari rumah dan sejumlah aturan lainnya. Kesal, marah, kecewa, takut dan sedih bertumpuk menjadi satu. Nano-nano rasanya. Ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan ekspetasi. Yah itulah masalah. Banyak harapan-harapan yang diimpikan semua orang sebelum kedatangan virus corona. Termasuk salah satunya impian menggelar pesta pernikahan bagi pasangan yang sudah menemukan tambatan hatinya. Namun semenjak kedatangan corona, impian itu sulit diraih. Banyak pasangan yang rela menunda hari bahagianya menjadi sang ratu dan raja.

 

Sudah berbulan-bulan virus corona ini masih enggan untuk pergi meninggalkan kita. Namun yang perlu kita ingat semua ini adalah ujian. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dibalik kejadian yang menimpa kita. Orang hebat ketika datang masalah bukan menyalahkan keadaan. Namun orang hebat ketika datang masalah memilih untuk maju memberanikan diri. Allah itu sebaik-baik perencana. Ketika kita yakin Allah sang pemilik rencana yang terbaik maka kita yakin bahwa apa pun yang terjadi pada hidupnya selalu ada hikmah yang bisa diambil. Jadilah pribadi yang bijak. Yang bijak menyikapi permasalahan dan memetik hikmah dibalik peristiwa yang terjadi. Tidak semua orang sanggup menghadapi persoalan yang sulit, hanya orang yang bermental baja dan berhati ikhlas untuk menerima segala ketetapan-Nya. Jadi untuk membentuk jiwa yang sekuat baja, tidak ada salahnya mencoba mengetahui hikmah yang bisa diambil dari kehadiran si corona. Adapun tujuh hikmah di balik corona diantaranya sebagai berikut :

 

  1. Menjadikan Diri Tidak Mudah Sombong

Virus adalah sebuah organisme mikroskopik (super kecil). Bentuknya memang kecil tetapi berhasil menyadarkan kepada kita pentingnya berlaku tidak sombong pada orang. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan kalau orang sudah terkena virus corona apakah ada yang berani mendekat selain dokter? Tentu tidak. Lalu apa gunanya harta,jabatan dan gelar yang selama ini dibangga-banggakan? Sewaktu sehat mungkin bisa menyombongkan diri tetapi kalau sudah diserang sama virus corona satu ini mana ada orang yang berani mendekat. So janganlah bersifat sombong terhadap apa yang kita punya. Mudah saja Allah mengambilnya.

 

  1. Pentingnya Menghargai Waktu

Waktu ibarat memainkan pedang. Jika kita mahir memainkannya maka kita akan selamat ketika kita menggunakannya pun sebaliknya jika kita tidak mahir maka pedang itu sendiri yang akan melukai kita. Sama halnya waktu, jika diri kita sendiri yang menyia-nyiakan waktu maka waktu itu sendiri yang menggilas hidup kita. Kalau dianalogikan dengan virus corona tentu ada. Coba diingat kembali dulu sewaktu virus corona belum muncul, kita masih sibuk-sibuknya bekerja demi menggejar duit sampai tidak ada waktu untuk berjamaah bahkan singgah sholat di masjid. Nah giliran masjid ditutup banyak yang kecewa dan sedih. Kalau sudah begini jadinya,coba kita tanyakan diri kita kembali. Selama ini kita gunakan waktu untuk melakukan apa saja ?

 

  1. Pentingnya Berbagi Kepada Sesama

Corona mengajarkan pada kita pentingnya menolong terhadap sama. Coba kita perhatikan banyak diluaran sana yang sangat terkena dampak dari si corona ini. Orang miskin semakin miskin karena sulitnya mencari duit semenjak PSBB. Tingkat pengangguran semakin tinggi. Sulitnya bertahan hidup di masa pandemi ini, menyadarkan kepada kita agar pentingnya membagi rezeki kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Jadi dengan begitu setidaknya kita sudah membantunya untuk makan dan bertahan hidup.

 

  1. Corona Menyatukan Kita Dengan Orang-Orang Yang Tersayang

Tanpa disadari selama ini kita sibuk dengan urusan kita masing-masing. Sehingga waktu berkumpul dengan keluarga pun lebih sedikit dibandingkan waktu kita saat beraktivitas di luar. Jarak pun memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayang. Tapi siapa yang menyangka virus corona satu ini berhasil menyatukan kita dengan orang-orang yang selama ini sedikit berkomunikasi dengan kita. Contoh work from home secara tidak langsung telah membuat kita berkumpul dengan keluarga dan anak-anak yang sekolah di perantauan dapat berkumpul kembali dengan orang tuanya.

 

  1. Mendapat Jatah Istirahat Yang Berlebih

Kalau dulu sebelum kedatangan si corona yang kerjanya pagi pulangnya dan malam pun terkadang melembur. Namun sekarang dengan mudahnya kita bekerja sambil bersantai-santai di rumah. Bisa golek-golek, mendengarkan musik hingga bersepada santai. Kalau sudah begini tubuhpun secara tidak langsung ikut istirahat dari segudang pekerjaan yang dulunya banyak menyita waktu dan tenaga.

 

  1. Pentingnya Menjaga Kesehatan

Kebanyakan kuman banyak ditemukan tidak jauh dari diri kita sendiri. Contohnya saja tangan. Tidak bisa kita hindari tangan kita untuk menyentuh benda-benda asing di sekeliling kita. Namun lewat corona membiasakan diri untuk selalu bercuci tangan. Nah kalau sudah terbiasa mencuci tangan kuman pun enggan menempel. Begitu pun halnya pemakaian masker. Selain bentuk pencegahan virus corona, kebiasaan menggunakan masker dapat menghindari terpaparnya polusi udara serta mencegah penularan dari berbagai macam penyakit.

 

  1. Berkurangnya Polusi Udara

Dengan diberlakukannya sejumlah aturan yang berlaku mulai dari work from home maupun PSBB sehingga membuat pergerakan orang dibatasi dan orang pun banyak yang memilih menghabiskan waktu di rumah maka secara tidak langsung akan mempengaruhi penggunaan transportasi yang ada. Dengan begitu udara yang kita hirup sedikit lebih bersih dibanding sebelum kedatangan corona. Sehingga kadar polusi udara pun tidak lagi meningkat.

 

  1. Menjauhkan Kita Dari Perbuatan-Perbuatan Maksiat

Ditutupnya mall-mall kota, tempat karaoke,bioskop, tempat-tempat wisata dan sejumlah tempat lainnya secara tidak langsung Allah ingin menjauhkan kita dari tempat-tempat yang rentan mengundang melakukan perbuatan maksiat. Bayangkan saja sebelum kedatangan si corona banyak cafe penuh, bioskop penuh dan sejumlah tempat nongkrong lainnya. Penuhnya tempat-tempat itu diisi dengan sejumlah pasangan yang tengah memadu kasih bahkan bemesraan sudah menjadi hal yang biasa.

 

Semoga kejadian yang telah menimpa negeri kita menjadikan kita pribadi yang tangguh. Jadilah orang yang bijak. Yang selalu mengambil hikmah dari sesulit apapun ujian yang dihadapi. Jika kita berhasil menyikapi cobaan yang datang dengan kesabaran, tawakal serta selalu mengambil hikmah dari setiap apapun kejadian. Insyallah setelah pergi si corona, kita menjadi orang-orang yang bermental baja, tangguh dan terlatih kuat menghadapi cobaan apapun.

 

Muhammad Fajar Hidayat Damanik, Siti Fatimah, dan Riswandi adalah mahasiswa KKN Kelompok 42 UIN-Sumatera Utara.

 

Photo by Anna Shvets from Pexels

 

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*