Topbar widget area empty.
The Secret Oasis – eps. 2 secroaspng Tampilan penuh

The Secret Oasis – eps. 2

Eps. 2: Hewan mistis

Suasana di Oasis yang teduh dan sejuk tampak sepi, tak ada binatang yang terlihat. Air telaga yang bening terlihat tenang, tak ada ikan di sana. Benarkah oasis itu tak berpenghuni? Sesungguhnya ada tiga hewan mistis yang berjaga di oasis yang indah itu.

Penghuni pertama adalah seekor ular yang panjangnya tak lebih dari dua jengkal. Ia bersisik keras berwarna perak mengkilat, tubuhnya yang pipih membuatnya tampak seperti bilah belati yang indah dan tajam. Bergerak meliuk cepat di bawah permukaan pasir, tak terlihat, sangat gesit dan mampu melompat dan menyambar secepat kilat. Penampakannya pernah membuat kuda tunggangan seorang musafir terkejut. Kuda itu panik dan melompat lalu lari terbirit-birit, tak perduli masih ada orang di punggungnya yang juga tak kalah terkejut karena belum pernah melihat ular seperti itu sebelumnya. Sambaran cepat si ular perak menghantam perut kuda, ringkikan histeris terdengar, bukan cuma menyambar, ular pipih yang tajam itu merangsek masuk ke dalam tubuh kuda, sungguh mengerikan!. Kuda berotot yang tengah berlari itupun mengerahkan tenaga terakhirnya, meningkatkan laju larinya hingga akhirnya terjerembab dengan pekikan pilu saat organ dalam tubuhnya tersayat-sayat. Penunggangnya pun terlempar jatuh ke depan lalu terhempas-hempas di atas pasir dan terguling-guling. Tanpa menghiraukan rasa sakit ia memaksakan diri berlari sejauh mungkin. Akan tetapi rasa lelah, haus dan panik luar biasa membuatnya tersungkur meregang nyawa.

Penghuni kedua adalah seekor kucing gurun bertubuh besar. Bulu bersihnya berwarna coklat keemasan, membuat tubuhnya sulit terlihat di gurun pasir. Sangat lihai dan gesit, mampu melompat dan memanjat pohon dragon yang menjulang. Hewan yang coba mendekat akan merasakan aura ganasnya. Cakar dan taring yang tajam serta geraman sangarnya membuat lawan ciut. Bahkan singa gurun yang bertubuh jauh lebih besar pun kalah akan kecerdikan dan keberaniannya. Kucing gurun tersebut melayani dengan sabar perlawanan singa. Dengan gerakan gesit dan lompatan yang tinggi membuat terkaman singa hanya bisa menerpa angin. Dengan penuh perhitungan kucing gurun itu menggeser arena pertarungan menjauh dari oasis, memaksa pertarungan di bawah terik mentari yang menyengat, daya tahan yang luar biasa!. Tentu saja singa yang datang dari jauh dan kehausan tak mampu bertahan dan akhirnya lelah lalu kehilangan kegesitannya. Ia hanya bisa mengaum mencoba menakut-nakuti tapi dibalas pula dengan geraman tanpa rasa takut sang kucing. Singa yang sudah tanpa daya harus rela menerima cakaran demi cakaran dan akhirnya tewas mengenaskan.

“Tak ada dua raja dalam satu gunung”, aturan yang tak berlaku di oasis ini. Meskipun memiliki naluri untuk menguasai oasis, ular perak dan kucing gurun tak pernah saling tarung, malah hanya bisa melihat dari kejauhan, itu pun jika salah satu dari mereka menampakkan diri. Itu terjadi karena peran si penghuni ketiga yaitu seekor burung yang memiliki intelegensi tinggi. Tubuhnya kecil seukuran burung camar, berwarna putih bersayap biru. Mampu terbang tinggi mencapai awan, berakrobatik dan terbang zig zag dengan cepat melalui dahan-dahan pohon dragon yang rapat. Suara cuitannya luar biasa nyaring, jika ada yang mendekati oasis, ia pun bercuit-cuit memberi sinyal kepada si kucing gurun. Disaat yang lain cuitannya hanya terdengar oleh si ular perak. Burung itu memberi peringatan apa yang akan mendekat dan siapa pula yang harus menghadapinya. Sang burung juga selalu memberi sinyal kepada kucing gurun dan ular perak agar saling menjauh saat matanya yang tajam melihat mereka terlalu dekat. “Oasis ini membutuhkan penjaga-penjaga yang tangguh seperti mereka” cerdik sang burung.

Pohon tin di tengah hutan dragon merupakan harta paling berharga bagi ketiga hewan mistis. Buahnya sangat lebat dan manis. Beberapa buah yang tergantung di dahan terlihat gopong tinggal kulit, daging buahnya pasti lah dimakan si ular perak. Remah-remah buah tin di bawah pohon menunjukkan bekas makan si kucing gurun. Ya, makanan mereka adalah buah tin yang lezat, sungguh aneh, ada predator pemakan buah!. Sang burung dengan riang hinggap di satu dahan tin lalu menyantap buahnya. Biasanya hanya dimakan separuh lalu setelah itu terbang sambil bercuit-cuit memberi sinyal giliran siapa yang boleh mendekati pohon tin untuk bersantap.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya Eps. 3: Pendekar sabuk pedang

Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: