Topbar widget area empty.
The Secret Oasis – eps. 3 secroaspng Tampilan penuh

The Secret Oasis – eps. 3

Eps. 3: Pendekar sabuk pedang

Sang burung yang sedang berpatroli di celah awan menangkap sosok manusia yang sedang berjalan menuju oasis. Ia lalu turun menukik kemudian berputar-putar di atas hutan sambil bercuit memberi sinyal pada si ular perak untuk bersiap. Cuitan tersebut tak terdengar oleh seseorang yang sedang melangkahkan kaki menuju oasis. Ia sudah berjalan cukup jauh setelah melepaskan kudanya untuk kembali ke pangkalan. Kuda itu membawa kerangka manusia yang masih tersisa yang ia temukan serta sebuah sobekan kulit pelana dan sepucuk surat. Surat tersebut ia tulis dan ditujukan kepada sahabatnya yang bernama Ahmar.

“Aku menelusuri rute para musafir antara kota Sohul dan kota Dagha di gurun pasir Gobal. Menemukan beberapa petunjuk sampai akhirnya menemukan semua ini, sebuah sobekan pelana yang berinisial JR dan kerangka yang masih tersisa. Aku menemukannya di tengah gurun menuju oasis misteri, seperti kisah yang pernah engkau ceritakan. Semoga usahamu mencari ayahmu yang hilang terjawab sudah. Dan aku memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan ini.”
Turut Berduka,
Bidar Alam
PS.: Jangan cari jika aku tak kembali.

Tiupan angin perlahan mereda, suara siulan gemuruh perlahan menghilang. Oasis mulai tampak semakin nyata, setelah mendaki gundukan pasir di depan, mungkin oasis tersebut akan terlihat lebih jelas. Di atas gundukan pasir, Bidar Alam yang bertubuh atletis tersebut berhenti, “indah sekali..” gumamnya. Ia mematikan voice recorder rekaman perjalanannya, lalu diselipkan di balik bajunya yang polos putih. Setelah puas memandang iapun berjalan kembali dengan penuh kewaspadaan.

Si ular perak yang merayap cepat dan senyap di bawah permukaan pasir kini hanya berjarak sepuluh meter dari Bidar. Gerakannya menyebabkan butiran pasir meluncur bak tertiup angin. Perubahan kecil itu tertangkap oleh mata jeli Bidar. “Ular” pikirnya sambil menarik dengan tangkas sebuah sabuk mirip pedang yang melilit pinggangnya. Sabuk pedang itu tipis, tersusun dari kepingan-kepingan logam yang menyatu satu sama lain, bagian pangkal dan ujung sabuk pedang sedikit lebih tebal. Sabuk pedang itu tak memiliki sisi tajam tapi sangat elastis dan dapat meliuk-liuk seperti ular.
Bidar kaget dan terpana saat ular yang sebelumnya tak terlihat itu tiba-tiba sudah melesat dan melompat cepat sekali, matanya hanya bisa menangkap kilatan perak yang menyambar. Bidar tak sempat bergerak lalu “Tink!!” suara nyaring hantaman logam terdengar. Ular perak itu ternyata mengincar sabuk pedang sebagai sasarannya. Ular perak menghilang kembali ke bawah permukaan pasir, berputar edar lalu melesat dan melompat kembali “Tink!!”. Bidar Alam mulai melihat sosok jelas ular perak saat kecepatannya tertahan akibat menghantam sabuk pedang. “Ular ini besisik keras seperti logam! Beruntung ia hanya mengincar sabukku, kenapa begitu? Apa ia kira…” Sambil berpikir mencari jalan untuk mengatasi ular perak, ia memanfaatkan situasi dengan semakin meliuk-liukkan sabuknya sejauh mungkin dari tubuhnya, “Tink!!” dan benar saja ular itu kembali menyerang entah dari mana arah datangnya, berbahaya sekali!.

Ular perak terus melancarkan serangannya, baru kali ini ia merasa bertemu lawan yang sepadan. Walaupun sabuk pedang yang ia kira ular itu lebih panjang dan juga keras mengkilap seperti dirinya, itu tidak menyurutkan nyalinya. Bahkan ular perak semakin bersemangat untuk membuktikan bahwa dirinya lah yang terhebat. “Tink!..tink!…tink!..” Bidar berputar-putar dan bergerak mundur penuh perhitungan mendekati oasis. Ia bersiasat menuju telaga yang diliriknya. “Aku harus bisa melihat ular itu sebelum ia menyerang”. Bidar bergerak lincah, sesekali ia bersalto ke belakang. “Byurr..” dan akhirnya ia telah sampai ke telaga yang dangkal, matanya berkilat tajam mengamati sekitar sambil merangsek mundur ke tengah telaga. Serangan ular perak mereda sesaat, Bidar memasang kuda-kuda, suasana hening, mencekam!

Ular perak di bawah permukaan pasir berputar menjauh mengambil ancang-ancang. Mata Bidar menangkap selarik kilat perak mendarat di pinggir telaga lalu melompat kembali dengan cepat menyambar ke arahnya. “Trink!!!” Bidar yang sudah bersiap-siap menghentakkan ujung sabuk pedangnya ke arah atas membuat ular perak terlempar tinggi ke langit. Bidar bersiap-siap akan menangkap saat ular perak itu jatuh ke bawah. Tapi apa dikata, ular perak yang bertubuh pipih itu justru meliuk-liukkan tubuhnya di udara dan bak terbang turun perlahan kembali ke tepi telaga. Saat akan kembali masuk ke dalam pasir, ular perak mendengar cuitan sang burung yang memintanya mundur. Dengan kesal ular perak bergerak masuk ke dalam pasir, menjauh dan bersembunyi.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya Eps. 4: Kesaktian hewan mistis

Tag:
Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: