Topbar widget area empty.
The Secret Oasis – eps. 4 secroaspng Tampilan penuh

The Secret Oasis – eps. 4

Eps. 4: Kesaktian hewan mistis

Mata Bidar menyapu ke tepian telaga, tak tampak adanya gerakan ular perak. Suara cuitan burung terdengar, dengan hati-hati ia menoleh ke atas mencari pemilik cuitan yang nyaring tersebut. Bidar tak melihat keberadaan burung tersebut sambil berusaha terus melihat gerakan yang mungkin tertangkap mata di antara celah pepohonan. Akhirnya Bidar memutuskan untuk kembali ke tepi telaga, sabuk pedangnya meliuk ringan, ia kemudian berhenti di atas batu datar yang cukup besar sambil tetap mengawasi sekitarnya.

Kucing gurun yang sejak tadi mengawasi jalannya pertarungan dari balik pohon dragon dengan tenang dan sabar menunggu Bidar melangkah ke luar telaga. Sesekali matanya melirik pedang yang meliuk-liuk. Dengan gerakan gesit ia pun melompat dan berlari ke arah Bidar, berhenti dan menggeram seolah mengancam usir Bidar dari telaga yang kini berada di belakangnya.

Kemunculan kucing gurun yang tiba-tiba membuat Bidar sedikit terpaku. Ia mengernyitkan matanya ke arah kucing yang berukuran besar tersebut, cakar tajamnya mencengkram pasir, tatapan mata dan geramannya terasa membius. Dengan perlahan Bidar membuka telapak tangannya ke depan, kakinya memasang kuda-kuda rendah, sabuk pedangnya digeser perlahan ke arah belakang, menyembunyikannya dari pandangan kucing, kemudian tangan kanannya menghentak, “cling” sabuk pedang itu kini melilit lengan kanan Bidar.

Kucing gurun terintimidasi oleh bukaan tangan Bidar, tanpa ragu ia meloncat cepat sambil mengarahkan cakarnya ke arah tangan kiri Bidar. Gerakan itu sangat cepat, Bidar segera menarik tangan kirinya sambil melangkah mundur dan menempatkan lengan kanannya sebagai perisai untuk menahan cabikan cakar “cring!”. Sambil melakukan gerakan memutar tangan kiri Bidar mendorong tubuh kucing, akan tetapi cakar kaki belakang kucing menyambar menghadang dan membuat Bidar harus menarik kembali tangannya.
Kucing gurun yang gagal pada serangan pertamanya memutar cepat dan melompat tinggi, kali ini lompatannya melewati kepala Bidar sambil menghunjamkan cakar-cakarnya. Bidar merespon cepat dengan mengayunkan lengan tangannya ke atas sebagai perisai “cring cring!”.

Sambil menggeram kucing gurun memutarkan tubuhnya, posisinya sudah kembali ke tempat semula, melindungi telaga di belakangnya dan terus menggeram keras untuk memaksa Bidar menjauh. Bidar yang memahami situasi ini menyeringai sambil melirikkan matanya ke arah telaga, dengan sedikit menundukkan tubuhnya ia kembali menyembunyikan lengan kanan di belakang tubuhnya. Kakinya berjingkat untuk memasang kuda-kuda lincah. Saat kucing menerkam ia segera mendorong lengan berperisai sabuk pedangnya “cring!” lalu memutar tubuhnya dan melompat salto ke arah belakang menuju tepi telaga. Kucing gurun tentu tak menginginkan itu terjadi, ia pun meloncat salto sambil memutar tubuhnya di udara mendarat lalu menghambur menerjang bertubi-tubi dan memaksa Bidar hanya bisa bertahan dan melangkah mundur ke tepi telaga.

Kucing gurun menghentikan serangannya, menyadari situasi yang tidak menguntungkan jika ia terus mendorong Bidar ke telaga. Bidar tersenyum, mengambil inisiatif lebih awal ia mengayunkan lengan tangannya, menghentaknya, lilitan pedang sabuk terlepas, lalu mengayunkan sabuk pedang yang sudah terhunus kembali ke arah permukaan pasir. Bukan main ayunan pedang itu “Trash!”, pasir-pasir itu berhamburan ke atas membentuk tembok pemisah dan memaksa kucing gurun melompat mundur. Saat pasir dan debu itu turun perlahan kucing gurun melihat samar-samar sosok Bidar berdiri gagah dengan kedua tangan terbuka. Sabuk pedangnya sudah disimpan kembali di pinggangnya!.

Kucing gurun terdiam terpaku, bingung dengan sosok yang tak lagi bersenjata di hadapannya. Apakah ini perangkap? Haruskah ia menyerang? Haruskah pertarungan ini di lakukan di telaga?. Kucing gurun yang tak kenal takut itu menggeram keras dan memutuskan untuk menyerang kembali. Akan tetapi si burung cerdik yang melihat situasi tak menguntungkan itu bercuit keras meminta kucing gurun untuk mundur.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya Eps. 5: Pertarungan sejati

Tag:
Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*