Topbar widget area empty.
Arah Kiblat Masjid Kami Arah Kiblat Tampilan penuh

Arah Kiblat Masjid Kami

Cerpen Amaq Alifa

 

 

Sudah hampir jam dua belas tepat. Hatiku bertambah gelisah. Tim yang kami tunggu belum muncul juga. Padahal sebentar lagi azan Jumat dikumandangkan. Bahkan, rencananya, salah satu dari mereka akan menjadi khatib pada Jumat kali ini. Dan mereka sudah menyanggupi.

 

Sebenarnya mereka sudah datang tiga hari yang lalu. Mereka berenam ketika itu. Dua di antaranya adalah wanita. Mereka mengukur sekaligus memberikan penjelasan tentang arah kiblat di masjid kami. Waktu itu, hanya beberapa orang pengurus masjid saja yang hadir. Termasuk saya, selaku ketua pengurus remaja masjid.

 

“Perkenalkan, nama saya Asaduddin; ketua tim kalibrasi. Panggil saja, Pak Anto,” kata salah seorang di antara mereka, memperkenalkan diri. Ia kemudian memperkenalkan anggota tim lainnya, sembari tak lupa menyalami kami, satu demi satu.

 

Haji Hasan, selaku ketua pengurus masjid, mempersilakan mereka masuk ke dalam masjid. Mereka kemudian meminta izin untuk mengukur arah kiblat masjid kami. Dan kami, dengan perasaan yang diliputi rasa penasaran, tentu saja menyetujui. Terlebih mereka adalah tamu kami, juga tim kalibrasi resmi dari kementerian yang menaungi. Surat pemberitahuan juga sudah disampaikan dua hari yang lalu, dengan tembusan disampaikan pula ke kantor desa.

 

Dan alangkah terperangahnya kami, setelah diadakan pengukuran sedemikian rupa, ternyata arah kiblat masjid kami jauh melenceng dari yang semestinya. Masjid kami mengarah tepat ke barat. Padahal, seperti yang mereka sampaikan, arah kiblat di wilayah sekitar daerah kami adalah dua puluh dua derajat dari arah barat ke utara, setelah dikurangi variasi magnetik bumi. Jadi, kurang dua puluh dua derajat dari yang seharusnya. Sekira seukuran setengah hadap kanan kalau dianalogikan ke dalam peraturan baris-berbaris.

 

Tak cukup sampai disitu, seorang anggota tim yang sudah ditunjuk kemudian menjelaskan gambaran riil menggunakan aplikasi yang disebut dengan google earth. Aplikasi itu memperlihatkan bola bumi dengan begitu nyata pada layar laptop yang mereka bawa. Terlihat jelas di mana posisi desa kami, atap-atap rumah dan pepohonan yang berderet-deret, juga masjid kami. Persis sekali sebagaimana adanya. Lalu diperlihatkan pula letak Kabah di Masjidil haram, hanya dengan mengetik nama tempat yang diinginkan pada kolom pencarian yang terletak pada pojok kiri atas. Begitu nyata dan tak perlu waktu lama. Hanya beberapa detik saja. Ia kemudian meletakkan kursor tepat di tengah-tengah Kabah, lalu menarik garis memanjang jauh, jauh, hingga ke masjid kami. Ujung garis itu kemudian diletakkan pada sisi ujung timur sebelah utara masjid kami. Maka, tampak jelas di mata kami garis itu melenceng jauh. Luar biasa. Itulah kecanggihan ilmu pengetahuan.

 

“Seperti inilah gambaran arah kiblat yang semestinya, bapak-bapak sekalian,” kata Pak Anto memungkasi penjelasannya.

 

Kami manggut-manggut sembari menarik dan melepas napas dalam-dalam.

 

“Lalu bagaimana dengan salat kami selama ini, Pak?” tanya Pak Haji Hasan tanpa dipersilakan, pasrah pada kebenaran yang tak mampu ia tolak. Dan itulah pertanyaan yang juga muncul dalam benakku.

 

Sebelum menanggapi pertanyaan itu, Pak Anto meminta kami untuk duduk melingkar. Kami mengikuti arahannya, lalu kami duduk bersila di depan mihrab dengan rapi.

 

“Atas pertanyaan tadi, saya persilakan kepada Pak Syafruddin untuk menjawabnya,” kata Pak Anto kemudian, sembari mempersilakan Pak Syafruddin yang duduk tepat di sebelah kirinya.

“Baiklah!” kata Pak Syafruddin kemudian.“Bapak-bapak sekalian,  salah satu pondasi kita dalam melaksanakan syariat agama adalah, bahwa ijtihad yang datang kemudian, tidaklah membatalkan amalan yang dilaksanakan berdasarkan ijtihad sebelumnya.”

“Termasuk dalam menentukan arah kiblat?” tanyaku meminta kepastian.

“Ya! Karena penentuan arah kiblat di luar tanah haram adalah berdasarkan ijtihad kita, dengan mengerahkan kemampuan maksimal kita dalam mendeteksi ke arah mana kita menghadap ketika salat.”

“Dan apakah itu berarti bahwa kami tidak perlu mengulangi ibadah salat kami selama sekian tahun yang ditunaikan di masjid ini?” potong Haji Hasan tak sabar bertanya.

“Tidak perlu. Tidak perlu diganti dan tidak perlu diulangi,”  tegas Pak Syafruddin meyakinkan kami.

“Alhamdulillah!” seru pengurus masjid yang lain hampir serempak, sebagai  ungkapan rasa lega mereka. Saya pun demikian.

 

Dan saya paham pada akhirnya. Kami semua paham. Paham sepaham-pahamnya.

***

 

Apa yang mereka sampaikan sudah cukup bagi kami untuk menarik pengertian, bahwa arah kiblat masjid kami mestilah d isesuaikan. Maka, sebelum mereka pulang, kami meminta agar mereka membantu kami menyesuaikan arah kiblat masjid kami. Dan begitulah, karpet-karpet terkelar miring ke kanan, hampir menghadap pilar di pojok tembok.

 

Tapi ternyata, hal itu menimbulkan pro-kontra pada masyarakat di desa kami. Terang saja, mereka yang tidak hadir pada saat pengukuran tersebut bertanya-tanya, kenapa arah persalatan tiba-tiba dirubah begitu saja? Beberapa bahkan sambil menahan amarah.Kami mencoba menjelaskan. Tapi jawaban kami sepertinya tidak memuaskan sebagian mereka.

 

Untuk tidak membiarkan hal yang tidak diinginkan terjadi, kami bersepakat untuk mengundang tim itu kembali, agar memberi penjelasan lagi, sebagaimana mereka menjelaskan kepada kami. Hal itu kami sepakati dengan Bapak Kepala Desa. Dia bahkan siap menyurati. Dan hari Jumat-lah yang kami anggap paling tepat untuk hal tersebut.

***

 

Sebuah sepeda motor berheti di depan gerbang samping kiri masjid yang berbatasan langsung dengan jalan desa. Setelah helm dibuka, tampak olehku seorang yang kukenali. Pak Anto. Dan aku pun lega. Segera aku menyambutnya, lalu mempersilakannya memasuki masjid, setelah terlebih dahulu menjawab salamnya.

 

“Silakan, Pak. Silakan.“

“Terima kasih,” katanya sambil menyalamiku.

“Maaf, yang lain mana, Pak?”

“O, ya!Mohon maaf, kali ini saya datang sendirian,” jawabnya.

“Ya, ya. Tak apa. Sekalian nanti Bapak jadi khatib sekaligus imam, ya!”

“Insyaallah,” katanya menanggapi, sembari bergegas mencuci kedua kakinya. Ia menyodorkan tas punggung yang dibawanya kepadaku, dan memintaku untuk menaruhnya. Aku menaruhnya di belakang mimbar. Dan tak lama, ia kemudian memasuki masjid yang sudah diisi oleh beberapa anggota jemaah.

 

Setelah tiba waktu Jumatan, kami pun mempersilakannya naik ke atas mimbar. Dia menyampaikan khutbahnya dengan penuh semangat. Kami khusuk mendengarkan. Tak lupa dia menyampaikan arahan untuk menjaga persatuan di mana saja berada. Karena dengan persatuanlah, maka hajat bersama dapat kita raih dengan lebih sempurna. Tanpa kebencian. Tanpa kesombongan.

 

Dan sebagaimana hajat kami pada awalnya, setelah pelaksanaan ibadah salat Jumat, kami mempersilakannya menyampaikan arahan dan penjelasan tentang arah kiblat kepada Jemaah yang hadir.

 

Ia memintaku mengambil tas yang tadi kutaruh di belakang mimbar. Aku mengambilnya, lalu menyerahkannya kepadanya. Ia mengambil sebuah laptop dari dalam tas itu, dan beberapa peralatan lain yang dibutuhkan.

 

“Bapak Kepala Desa dan segenap hadirin yang saya hormati,” katanya memulai,”sudah kita maklumi bersama, bahwa menghadap kiblat merupakan salah satu dari syarat sah salat.”

“Dan bagi kita yang berada pada ribuan kilometer dari Kabah atau Masjidilharam, tentu saja berupaya dengan segala kemampuan menentukan arah setepat mungkin ke tanah haram. Dahulu orang tua kita  mungkin hanya tahu arah barat atau arah tenggelamnya matahari sebagai arah yang menunjuk ke kiblat, karena memang kita berada di sebelah timur  Kakbah dan Masjidilharam. Dan dengan pengetahuan itulah mereka mengajarkan kita untuk menghadapkan wajah kita kearah barat dalam pelaksanaan ibadah salat.”

“Tapi, seiring perjalanan waktu, ilmu pengetahuan semakin berkembang. Sesuatu yang dahulu kita anggap tidak mungkin, sekarang menjadi mungkin.”

“Maka, izinkan saya memaparkan kepada kita semua tentang gambaran riil arah kiblat, pada kesempatan yang baik dan singkat ini. Silakan mendekat jika ingin melihat lebih jelas.”

 

Beberapa anggota jemaah mendekat. Ia kemudian memaparkan kepada segenap Jemaah menggunakan laptop sebagaimana bila hari yang lalu dijelaskan kepada kami. Mereka pun manggut-manggut sebagai tanda sudah mulai memahami.

 

“Ada yang ingin bertanya?” tanyanya kemudian.

“Saya, Pak.” Pak Rahman mengacungkan jari.

“Silakan, Pak.”

“Bagaimana cara kita menentukan arah kiblat di rumah kita masing-masing, Pak?” Pak Anto tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu.

“Tidak sulit, pak,” katanya kemudian, ”kita hanya membutuhkan kompas, water pass, dan tali. Mari saya coba contohkan.”

 

Ia lalu mengambil sebuah kompas yang sudah disiapkan, water pass serta lilitan tali warna putih sebagaimana yang sering dipakai oleh tukang batu. Kami tetap memperhatikan. Pertama-tama, ia meletakkan water pass di lantai masjid. Setelah dia yakin betul bahwa lantai tersebut benar-benar datar sesuai petunjuk water pass tadi, ia kemudian meletakkan kompas. Pelan-pelan jarum kompas tersebut disesuaikan dengan arah mata angin. Utara dan selatan. Timur dan barat.

 

Setelah arah mata angin sudah tepat ditunjuk oleh jarum kompas, ia meminta dua orang diantara jemaah untuk menarik benang sepanjang kira-kira satu meter ke arah utara dan selatan. Lalu dia meminta lagi dua orang lainnya menarik benang ke arah timur dan barat sepanjang kira-kira dua meter, tepat melewati jarum penunjuk pada kompas tadi.Ujung benang pada keempat sisi kemudian diberi pemberat, agar tidak bergeser ke sana kemari, dari posisi yang sudah ditentukan.

 

Ia lalu mengambil rolmeter yang sudah disiapkan.

 

“Nah, bapak-bapak, setelah itu kita ukur pada garis benang, ke arah utara sepanjang 80 cm dari titik pusat kompas, dan ke arah timur sepanjang 200 cm. Lalu tandai dengan spidol, misalnya. Ini saya tandai. Setelah itu, baru kita tarik garis antara keduanya,” katanya, sembari menghubungkan titik 80 cm dan 200 cm, yang sudah ditandai tadi, dengan menggunakan rolmeter. Setelah itu, ia membuat garis yang menghubungkan kedua titik tersebut.

“Nah, garis inilah yang menunjuk ke arah kiblat. Hasilnya insya allah tepat 22 derajat sebagaimana ditunjuk oleh kompas,” serunya kemudian.“Bagaimana? Paham, semua?”

“Paham,” sahut beberapa jemaah. Beberapa lainnya hanya diam tanpa komentar.

 

Kami paham kini. Haji Bakri manggut-manggut. Tokoh masyarakat yang sebelumnya agak keras menanggapi itu, kini terlihat seperti tidak ragu lagi. Salah seorang bahkan mencoba membandingkan hasil pengukuran itu menggunakan aplikasi yang ada di handpone-nya. Hasilnya pun sama.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

 

Amaq Alifa, lahir di Lombok Timur tahun1983. Kini tinggal di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat – NTB.Turut berpartisipasi dalam Antologi Puisi untuk Lombok (The Phinisi Press Yogyakarta, 2018), yang digagas oleh Apajake & Malam Puisi Rantauprapat.

 

Photo by Ali Arapoğlu from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: