Topbar widget area empty.
Dimana Motor Bu Suster? Motor Tua Bu Suster Tampilan penuh

Dimana Motor Bu Suster?

Cerpen Darwis Kadir

 

 

Langit mulai memerah di ufuk barat, perlahan namun pasti sang mentari mulai bersembunyi dari terkaman  dewi malam. Dalam peralihan waktu terdengar suara motor nyaring membelah hutan bambu. Bunyi serangga yang khas setiap menjelang malam meramaikan jalanan berbatu itu. Dia segera menyalakan lampu motornya. Lampu depan tak kuasa memberikan efek terang pada jalan yang dilaluinya. Hanya warna temaram membias terpantul menghasilkan bayangan menyerupai bentuk mahkluk aneh. Lampu motor yang tak pernah digantinya walaupun nyalanya  sudah tak terang. Entah mengapa dia tak mau mengutak-atik rangkaian motor itu. Rasa sayang pada motor seakan menjelmakan cintanya pada mendiang suaminya.

 

Peninggalan satu-satunya yang tak pernah membuatnya goyah untuk melegonya. Dia tak pernah mengubris ketika orang menyindirnya. Motor ketinggalan jaman dan penyebab polusi. Motor mirip mesin fogging penyemprot wabah DBD sebab asap kelewat banyak ketika mesin dihidupkan. Olok-olok teman sekantornya tak dihiraukannya. Biarlah toh mereka tidak tahu nilai sejarahnya motor butut ini. Pernah ada yang berminat membelinya tapi belum mengajukan penawaran telah ditolaknya dengan halus. Motor itu telah menyatu dan merasuk sukmanya yang kesepian akan belaian hangat kaum adam. Pun dia tegar dan bayangan lelaki yang membuatnya jatuh cinta itu kembali menari-nari di pelupuk matanya. Memori yang tersimpan kini bermunculan.

 

Kapal kargo tempatnya bekerja di hantam badai dan tenggelam di laut gelap di malam naas itu. Dikabarkan semua awak kapalnya tak ada ditemukan yang selamat. Namun mayat mereka tak ada pula ditemukan  di lokasi kejadian. Kemana jasad mereka sampai sekarang masih tanda tanya besar. Apakah karna tempat itu angker dan sering terjadi hal serupa ? Kawasan segitiga bermuda yang penuh misteri. Kawasan yang ditakuti pelaut karna banyaknya kejadian janggal sering terjadi. Otak logisnya tak mampu menjangkau sirat misteri itu. Dia cuma berharap ada keajaiban menghampirinya. Ada berita menggembirakan tentang pangerannya itu,namun kabar itu pun tak kunjung sua.

 

Kesetiaanya dipertahankan dan asanya masih ada. Berharap kabar angin yang cukup mengobati kerinduan sosok suaminya. Bagaimana dengan telaten dia menjahit luka di betisnya. Ketika mereka terjatuh sama-sama dari motor.  Jalan yang licin sehabis diguyur hujan membuat mereka tiarap di aspal. Untungnya saat itu tak ada kendaraan melintas. Kaki suaminya terjepit diantara stand kaki dan pedal rem membuatnya mengerang-ngerang kesakitan  sewaktu cairan pembersih menyapa lukanya.

 

“Makanya kalo naik motor ya hati-hati !” diajaknya suaminya bicara agar tidak merasakan  sakitnya. Suaminya menatap wajahnya dengan mengeluh.

“Jalanan memang licin itu tadi sudah hati-hati yang” menyebutnya dengan kata yang kependekan dari kata sayang.

“Pokoknya nanti jangan jatuh lagi. Kasihan sama nyawa dan motor itu !”.

“Iya janji”.

 

Lamunannya terputus ketika seekor anjing memintas jalannya. Mengerem dengan tiba-tiba. Sorot mata anjing tampak aneh tersorot cahaya lampu. Dirinya terkesiap sejenak sembari meminggirkan motor. Teringat waktu ba’da magrib menurut ustaz di masjid bahwa saat seperti inilah berkeliaran makhluk tak kasat mata. Dalam hatinya sibuk berdoa diberi perlindungan sampai tujuannya. Beberapa cerita mitos sempat di dengar dari penduduk tentang makhluk yang bisa merubah dirinya menjadi binatang. Entah karena pengaruh ilmu turunan dari orang tuanya yang enggan meninggalkan dunia tanpa ada anak yang  bisa mewarisi ilmu tersebut. Lain cerita lagi dengan pencari kekayaan dengan memakai bantuan-bantuan makhluk halus dengan tumbal tertentu. Yang semuanya memilih waktu malam hari untuk menjalankan perintah tuannya. Entah  apa semuanya itu benar, pengharapannya semoga seumur-umur dirinya tak menjumpai yang demikian.

 

Perasaannya tenang setelah menyerahkan penjagaan dirinya pada pemilik semua jiwa. Motor pun menderu perlahan bergetar di atas batu-batu. Peredam kejut motor yang keras membuatnya terguncang-guncang tak nyaman. Dia tak mau menggantinya dengan yang baru. Cahaya lampu teras dari rumah pertama penduduk membuatnya tenang. Di depan ada pos ronda dan para warga kampung biasanya kumpul main domino. Bercerita ala gado-gado tak kenal ujung pangkal. Diskusi lepas yang tak menghasilkan kesimpulan. Obrolan khas masyarakat kampung yang masih familiar. Di pertigaan jalan dia membelokkan motornya ke kanan, dua rumah terlewati ketika ada jalan kecil yang hanya bisa dilalui motor. Jalan tanah yang belum tersentuh pengerasan apalagi aspal. Disanalah rumah seorang perempuan yang tengah hamil tua.

 

Dengan ramah pemilik rumah mempersilahkan masuk. Tanpa banyak basa-basi segera menuju kamar tengah tempat ibu yang merintih menjelang kelahiran anaknya. Titik-titik keringat menghiasi dahinya. Dia pun mulai menjalakan tugasnya sebagai tenaga medis. Ketiadaan tenaga bidan desa dan pengalamannya selama ini membantu persalinan masyarakat  membuatnya dipercaya membantu setiap persalinan. Dia tak mematok harga atas jasa yang diberikannya. Biasanya ucapan terima kasih dan sebungkus gula merah atau beras serta kacang tanah dibawa pulang.

 

Erangan dan rintihan sang ibu semakin keras, pertanda sakit yang menjelang partusnya. Dengan telaten dia memberikan petunjuknya. Diiringi dengan lenguhan panjang sang ibu dengan susah payah melahirkan juga. Lengkingan tangis terdengar sampai ke rumah-rumah tetangga. Rona bahagia terpancar dari sang ibu dapat melahirkan selamat. Sang suster ikut bahagia karna ibu ini selamat tanpa mengalami pendarahan yang hebat. Segera dia menindaklanjuti pertolongan laiknya orang bersalin.

 

Senyum sumringah menghias bibirnya ketika dia menjambangi motornya. Bukan karena  beberapa lembar uang rupiah yang nyantol di kantong bajunya ucapan terima kasih. Melainkan rasa senang dan bahagia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu ketika ada pasien hamil yang mengalami pendarahan hebat dan segera di rujuk ke  rumah sakit kabupaten.

 

Si motor tua dengan setia menunggu jokinya yang telah bertahun-tahun berbagai perasaan abstrak. Perasaan yang tak dapat diterjemahkan konteks kata-kata lisan. Mesin tuanya berkelotak ketika starter kakinya di genjot. Asap berbau oli terbakar merambah malam dan mencampur oksigen yang saat itu tak terkontaminasi dengan zat-zat lain. Rangkaian kinerja komponen mesin dan rangkaian listrik membuatnya berlalu dari halaman rumah pasiennya. Titik –titik embun lengket pada sadel terasa dingin menusuk tulang ekornya.

 

Keadaan kampung masih seperti ketika lewat. Tak ada perubahan walaupun kampung mereka telah bertambah warganya. Pos ronda masih dengan diskusi dan cerita euforia masa lalu. Cerita tentang pengalaman tempo gerilya, pendudukan Dai Nippon dan Belanda. Orang yang mengalami fase-fase seperti inilah yang tak habis bahan ceritanya. Menjadikan yang muda semakin penasaran. Tema kedigdayaan seorang pemimpin perang tak pernah lepas, dan obrolan semakin menarik ketika telah menyentuh ranah ilmu-ilmu keselamatan yang biasa dimiliki seorang pemimpin perang. Bagaimana dengan mudah lolos dari terkaman musuh dan tak pernah terkena peluru. Tema tak kalah menariknya pula ketika bumbu percintaan terselip dari setiap obrolan lepas itu. Cerita asmara muda-mudi zaman dulu yang unik. Hubungan cinta yang sering terbentur pada adat dan tak bisa gampang untuk berjalan berdua-duan dengan lawan jenis di siang bolong. Cerita seorang pemuda yang nekat memanjat rumah pujaan hatinya di tengah malam buta untuk bertutur sapa dan melihat kemolekan wajahnya, walau harus melanggar kebiasaan masyarakat. Sekarang semuanya berbalik arah. Modernisasi telah membawa dampaknya bagi kehidupan remaja sekarang.

 

Rumah pertama yang dijumpai tadi kini menjadi rumah terakhir sebelum melewati hutan bambu untuk dapat sampai di rumahnya. Sekarang cahaya lampu rumah penduduk tak bisa membantunya lagi. Kini lampu motorlah yang jadi pencerah di malam itu menerobos kesunyian hutan. Batang-batang bambu yang menjulang tinggi ketika terkena cahaya bulan bayangannya beraneka ragam. Samar- samar dari kejauhan suara anjing melolong seakan melihat sesuatu yang yang mengusik ketenangannya.

 

Di tikungan terakhir untuk sampai di rumahnya, matanya melihat kelebat bayangan hitam berlari. Menerobos hutan bambu dan lenyap seketika. Dia tak yakin dan tak percaya oleh apa yang tertangkap lensa matanya dalam hitungan detik itu. Akh barangkali ini adalah ilusi, namun dengan cepat dibantahnya pula. Kenapa bayangan tadi itu nampak nyata? Matanya belum terlalu rabun untuk mengenali sesuatu. Dirinya membatin andai yang dilihatnya tadi adalah manusia kenapa  takut untuk menampakkan dirinya dari sorotan lampu motor. Mengapa mesti takut dengan perempuan lemah yang hanya sendiri? Apakah orang itu mempunyai maksud jahat? Setumpuk pertanyaan mengusik ketenangannya. Hutan bambu telah berlalu namun penampakan sosok tak jelas tadi tak sirna dari benaknya.

 

Cahaya lampu yang redup dari teras menyambut kedatangannya. Mematikan kontak motor dan telinganya pun dengan jernih dapat merasai suara-suara yang akrab di sekitar rumahnya. Bunyi tokek penunggu rumah memperdendangkan suaranya yang sumbang. Seakan mengenali sang pemilik rumah telah kembali. Cecak yang berlarian berkejaran memburu mangsa laron dan serangga kecil yang singgah terperdaya cahaya lampu. Menghempaskan pantatnya di kursi tua, kursi yang sering di duduki suaminya. Menenangkan perasannya yang sempat galau. Berharap aura suaminya tersisa pada kursi itu dan menyatu dengan auranya. Pikirannya yang kalut dapat berhenti berganti dengan inspirasi hidup yang menambah semangat hidupnya.

 

Namun harapannya itu tak membantunya. Segera beranjak menuju kamar mandi dan membasuh mukanya. Mematut  dirinya depan cermin dan mendapati seraut wajah yang telah lama dikenalnya. Tahi lalat itu masih hitam menempel di dagunya. Tak ada perubahan berarti selain kulitnya yang mulai tak kencang. Dia masih kelihatan cantik dan senyumannya masih menawan. Dia yakin banyak lelaki yang berminat mempersuntingnya jikalau membuka diri. Tapi sudahlah, dia membuyarkan sendiri lamunannya. Pikiran-pikiran itu  muncul lagi desahnya. Pikiran yang dia sendiri tak mau berkompromi dengan nilai kesetiaan yang dia teguhkan. Konsep kesetiaan yang sudah harga mati. “Tak ada yang bisa mengganti dirimu yang” desahnya lirih. Biarkanlah segala peninggalan dirimu kupelihara, karna asaku berharap suatu saat engkau akan datang. Ditinggalkanya cermin yang telah sekian lama memunculkan kembaran dirinya.

 

Tidur setidaknya melupakan peristiwa yang telah dia lewatkan. Memicingkan mata dan mendekap bantal guling. Berganti gaya dari telentang, tengkurap, balik kanan, balik kiri sampai kemudian dengkur halusnya terdengar. Bunga tidur menghiasi istirahatnya dan pikiran kalutnya menghilang kala kesadarannya telah meninggalkan badaniahnya.

 

Terbangun ketika cahaya mentari pagi mulai menerobos celah-celah dinding. Melongok dari  jendela melihat kerumunan di ujung kampung. Ada kejadian apa? Kenapa pagi-pagi seperti ini para warga berkerumun di depan rumahnya H. Mide pedagang kelontong? Penasaran dia bergegas mencari kunci motornya. Beranjak ke teras dan jantungya serasa berhenti berdetak. Pandangan matanya nanap menyapu penjuru halaman rumahnya. Menyisir semua ruang-ruang kosong dan tak mempercayai penglihatannya. Berteriak keras diiringi tangisan yang pecah bagai orang yang kesurupan mengagetkan warga kampung. Mereka pun berlarian dengan penasaran pula.

 

“Apa yang terjadi bu?”

“ Motor …motorku hilang bu !” jawabnya disela tangisannya.

 

Warga pun kaget karena malam tadi bukan cuma H. Mide yang kecurian tapi para pencuri juga telah menggondol motor kenangannya sang suster. Dia lupa memasukkan motor ke dalam rumah seperti kebiasannya.

 

Tubuhnya lemas merasa menjadi korban pencurian. Perlahan pandangannya kabur dan sebelum sempat jatuh tetangganya segera membopongnya dan membaringkannya. Alam bawah sadarnya beraksi menggumankan motor dan nama suaminya.

 

Suaminya menghampirinya dengan senyum mengembang melambaikan tangannya segera mendekat. Dia tersenyum kala suaminya menunjuk ke suatu tempat. Pandangan matanya pun beralih dan mendapati motornya disana. Tampak lebih mengkilat dan baru. Rasa gembiranya tak berlangsung lama ketika rasa sakit di tangan membuatnya mengaduh. Terperanjat mendapati dirinya di ruangan berbau karbol dengan jarum infus di pergelangan tangan kanannya. Sadarlah kini dia sedang menjalani perawatan. Motorku dimana sekarang? desahnya lirih.

 



Appingen,

 

 

Darwis Kadir. Lahir di Ralla, Barru 1979. Lulusan Universitas Negeri Makassar dan kini bergabung dengan AGUPENA ( Asosiasi guru Penulis ) Cabang Barru. Pernah  menulis opini/cerpen di harian Fajar dan majalah Media Pendidikan. Buku kumpulan cerpen Marbot Tua dengan lubang di kepala terbit tahun 2020 dan kumpulan puisi cakap penikmat senja tahun 2019. Sekarang bermukim di Ralla. Barru. Facebook: Darwis Kadir

 

Photo by Min An from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*