Topbar widget area empty.
Setelah Bom Itu Meledak Bom Meledak Tampilan penuh

Setelah Bom Itu Meledak

Cerpen Amaq Alifa

 

 

Duaaaar!

 

Dentuman keras tiba-tiba terdengar memekakkan pendengaran. Aku terkejut seketika. Reflek tanganku menutup kedua telinga. Jantung berdegup kencang, tubuhku sedikit terhuyung. Mataku pun menoleh ke sumber suara. Hotel Faana di seberang jalan. Tak jauh dari tempatku berdiri, masih sempat pandanganku menangkap pecahan kaca jendela berjatuhan, beriringan dengan raungan kepanikan dari dalam hotel. Asap hitam mengepul ke udara. Sebuah mobil terbakar di parkiran depan hotel. Nyala api menjilat-jilat di terik panas siang ini.

 

Tidak menunggu waktu lama, para penghuni hotel berhamburan keluar dengan raut wajah ketakutan. Mereka berlari ke jalan raya dengan pakaian seadanya. Beberapa di antaranya langsung terduduk lemas  di trotoar, kemudian menangis sejadinya. Sedang yang lainnya tetap berlari pontang-panting seperti dikejar setan.

 

“Ada bom!” teriak beberapa orang.

“Bom bunuh diri!” teriak yang lainnya, sembari menunjuk-nunjuk ke arah hotel Faana.

 

Jalan satu arah di depan hotel itu terhenti dari lalu-lalang kendaraan. Seperti juga aku, para pengendara melongo menyaksikan kejadian yang tiba-tiba terpampang di hadapan mereka. Namun tak sedikit yang memutar arah, tak mau mengambil resiko atas keselamatan jiwa mereka. Walau begitu, masih saja orang-orang berkerumun di sekitar jalan, bercampur baur, menatap penuh tanya ke arah hotel. Beberapa di antara mereka mencoba menenangkan penghuni hotel yang baru saja keluar, menolong semampunya. Seorang lelaki tua dipapah dua orang warga, menepi lebih jauh lagi dari tempat kejadian.

 

Aku masih berdiri mematung di depan sebuah kantor jasa ekspedisi yang terletak persis di seberang hotel Faana. Baru saja aku mengantar sekantong nasi bungkus bikinan ibu, yang dipesan oleh lima orang yang bekerja di sana. Dan kini, para pekerja itu sudah  berhamburan keluar meninggalkan aktivitas mereka, menatap ke satu arah yang sama: hotel Faana.

 

Tak sampai lima belas menit, dua mobil ambulan meraung-raung mengurai kerumunan. Tak berselang lama, satu-dua-tiga unit mobil polisi menyusul kemudian. Tim medis segera menolong mereka yang terluka, sementara aparat kepolisian mencoba mengamankan keadaan. Beberapa di antara mereka meminta masyarakat untuk menjauh. Dan aku, bagaimana pun banyak pertanyaan yang menggantung di benakku tentang kejadian itu. Aku pun berlalu. Mengayuh pedal sepeda, meninggalkan kantor ekspedisi, khawatir jika ada bom susulan yang meledak lagi.

 

Sesampai di rumah, ibu segera memelukku. Rupanya beliau sudah dari tadi menunggu. Dengan jarak kurang lebih dua kilometer antara rumah kami dengan hotel Faana itu, sangat mungkin beliau mendengar ledakan tadi. Lagi pula, dengan jarak waktu yang sudah lebih tiga puluh menit, info tentang ledakan bom mungkin sudah tersiar luas melalui televisi. Dan sebagaimana perasaan setiap ibu, ibuku tentu saja sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya.

 

“Maaf, Bu. Aku pulang terlambat,” kataku kepada ibu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Kau mendengar suara ledakan tadi, Nak?”

“Iya, Bu. Ledakan itu terjadi di hotel Faana.”

 

Ibu semakin mendekapku. Mensyukuri keselamatan anaknya.

 

“Pesanan mereka sudah saya antarkan, Bu. Dan ini uangnya,” kataku sembari menyodorkan uang hasil penjualan nasi bungkus tadi kepada ibu. Ia melepas dekapannya, mengambil selembar lima puluh ribuan yang kusodorkan kepadanya.

“Kau tak kenapa-kenapa, kan?” tanyanya memastikan, seolah masih kurang percaya.

“Tidak, Bu!” jawabku meyakinkannya.

“Syukurlah, Nak.”

“Aku masuk dulu, Bu, ya.”

“Ya, Nak,” kata ibu sembari melepas pegangan tangannya di pundakku, “Jangan lupa istirahat setelah makan dan salat.”

“Baik, Bu.”

 

Aku bergegas ke kamar mandi. Mencuci tangan dan kaki. Sebentar kemudian, aku sudah berada di dapur, mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk tumis kangkung yang masih hangat dalam wajan yang masih berada di atas kompor.

 

Sekitar jam tujuh malam, sebagaimana biasa kami berkumpul di ruang keluarga. Aku, ibu, ayah dan kedua adikku yang baru berusia tiga dan tujuh tahun. Selepas makan malam, biasanya kami bersenda gurau bersama. Kali ini kami semua seperti sepakat untuk menatap televisi, menyaksikan perkembangan berita tentang kejadian siang tadi. Sesekali ibu mengomentari berita itu; mengutuk pelaku, dan tak lupa mengungkapkan empati yang dalam menyikapi kejadian itu. Sementara ayah hanya diam tanpa berkomentar apa-apa. Ayah memang selalu lebih banyak diam daripada berbicara, bahkan terhadap kami anak-anaknya ini.

 

Syukurnya tidak ada korban jiwa atas peristiwa itu. Dan sebagaimana diberitakan di televisi, pihak kepolisian sepertinya sudah mulai menemukan titik terang atas peristiwa itu, karena ada rekaman CCTV yang berhasil memantau aktivitas terduga pelaku beberapa menit sebelum bom meledak di area parkir kendaraaan.

 

Ayah bangkit dari duduknya.

 

Dar! Belum sempat ayah melangkahkan kaki lebih jauh, pintu ruang tamu didobrak dari luar. Kami terkesiap. Belum sempat kami menyadari situasi, beberapa orang berpakaian serba hitam dan tertutup serupa ninja menerobos masuk. Mereka langsung mengokang senjata ke arah kami. Ibu langsung memeluk kedua adikku.

 

“Angkat tangan!” kata salah seorang dari mereka, membentak.

 

Ayah tak bisa berbuat banyak. Ia pasrah mendapati perintah yang dibarengi kokangan senjata laras panjang ke arahnya. Begitu juga dengan kami. Perlahan aku mengangkat kedua tangan. Ibu terus memeluk adik-adikku.

 

Mereka melipat tangan ayah ke belakang, lalu diikat seperti tawanan.  Kemudian menggiring ayah ke luar rumah. Hanya dia seorang yang di bawa pergi. Sementara kami, tetap di sini bersama raungan dan tetesan air mata ibu yang membasahi kepala adik-adikku.

***

 

Televisi masih menyala di depan kami. Teduga teroris telah ditangkap! Begitulah berita yang ditayangkan secara live di televisi. Terlihat jelas sorot kamera mengarah ke lokasi penangkapan, pun wajah pelaku yang diduga sebagai pelaku peledakan bom. Aku hanya diam melihat lokasi penangkapan itu yang tak lain adalah rumah kami dan wajah pelaku itu adalah wajah ayah kami.

 

Taliwang, 10 Juli 2020

 

Amaq Alifa, adalah peserta Kelas Cerpen Apajake Academy Angkatan I 2020. Lahir di Lombok Timur tahun 1983. Kini tinggal di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat – NTB. Turut berpartisipasi dalam Antologi Puisi untuk Lombok (The Phinisi Press, 2018), yang digagas oleh Apajake dan Malam Puisi Rantauprapat.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: