Topbar widget area empty.
217KM Keapaadaan 125KM Keapaadaan Tampilan penuh

217KM Keapaadaan

Puisi Diego Alpadani

 

 

217KM KEAPAADAAN

 

Padamu kutelusuri keapaadaan

setiap kali, setiap hari. Jauh sebelum

setiap hati dapat memaknai kerinduan

dan melipat kursi mobil untuk memangkas

jarak. 217Km jauh, itu dariku setelah

Menelusuri keapaadaan padamu. Lipatlah

kursi mobil itu, sayang. Di kilometer 99

 

dengan kesederhanaan yang tak melebihi

atribut keapaadaanmu pada pencarianku.

 

Kusajikan tak lebih mewah

tak menyaingi senyum di balik tirai jendalamu.

Sayang, aku datang padamu membawa perlengkapan

di kelokan 98 agar angin rusuh tetap dalam keapaadaan.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

ANGKA 1 SAMPAI 0

 

Ada banyak angka setelah penggabungan

1 sampai 0 yang ingin kutuliskan di tapak

tanganmu, Sayang. Anehnya tak pernah

penuh itu tapak dengan angka yang kupunya,

dihitung-hitung luas tapak tanganmu tak lebih

dari tadah yang hangat daripada gelas. Kau

 

tahu itu bermakna apa?

Jika angka adalah rindu, aku telah membunuhmu

dan tapak tangan adalah pandam pekuburan

yang siap menanammu. Tadah yang hangat daripada

gelas tak perlu kau maknai lebih dalam. Cukup aksioma

yang menjadi pedoman tentang itu. Kau

 

tahu kenapa seperti itu?

Karena dengan angka ada banyak pertemuan

yang tak pernah kau tahu, Sayang.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

1/2 JAM DI BELAKANG PINTU

 

Baru pukul 07.21 kau sudah mengetuk pintu

Aku yang sudah memulai duduk bersandar

ke pintu sejak 0,5 jam lalu masih sanggup

menghalangi dua ekor semut salimado agar

tak keluar dan masuk celana. Seperti lagu anak

dulu sedikit jorok:

“salimado salimado masuak sarawa

dipantaknyo-dipantaknyo kapalo ****”

 

Sengaja aku sensor supaya tidak menyinggung

SARA, pornografi, dan lain sebagainya. Tapi,

sewaktu itu mana kita tahu, SARA dan koleganya.

Makan nasi dengan gilingan lada emak dalam asoi

saja sudah membuat kita bahagia. Jadi 1/2 atau 0,5

 

jam yang aku lakukan di belakang pintu hanya belajar

mengingat ini itu. Mantra-mantra lama juga datang

membawa riang, seperti ini:

 

“apak ang apak den, apak ang sagadang aden”

atau

“sairiang balam nan jo barah, tabang malayok

ka tangah koto, hinggok di dahan batuang tuo,”

seperti apa lanjutannya selalu kita lupa. Entah

karena kurang berbau olok-olok, kita hilang niat

untuk mengingat-ngigat. Padahal kau dan aku

wajib hukumnya mengucap itu sebelum kemanakan

dianugerahi gelar terhormat.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

PEMERKOSAAN VISUAL

 

Selamat hari selasa angka, di kursi

bertuah meja berpenghulu. Aku menggelar

anak-anak kenyang bercelana 105, berbaju

serupa.

 

Sebab visual telah diperkosa

anak-anak kenyang dengan cara memperagakan

angka-angka atribut tubuhnya. Tak ingin aku kalah,

kursi bertuahpun dapat kulelang untuk bapak-

bapak kenyang berperut 0 besar. Selagi menghasilkan

angka pada hari selasa, aku rela. Supaya hari rabu

aku dapat memperkosa visual-visual secara suka rela.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

KUKIRIM ANGKA 21

 

Jangankan mengirimkanmu satu angka

dua angka akan kubungkus dan kukirim untukmu,

angka 21 khusus kurangkai untukmu. 2 adalah

kita, 1 adalah Tuhan yang menyaksikan. Dengan

sadar kau akan berkata, “itu pemaknaan cocoklogi saja.”

 

Tentu tidak, Sayang.

sebelum 2 ada 1, sesudah 1 disambut 2

jika 2 atau 1 tak pernah ada, kau dan aku

akan menjadi apa? Saling merelakan tanpa

harus tahu bahwa angka telah mempertemukan.

 

Tuhan telah memberikan tanda Sayang

 

hanya saja kita yang amat terlambat mengamati.

Hari ini tanggal 21 umurmu 21, jadi apa kalau tidak?

2 adalah kita dan 1 adalah Tuhan yang menyaksikan.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

Diego Alpadani lahir di Bandung. Saat ini tengah menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Indonesia Unand. Ia aktif berkegiatan di UKM Labor Penulisan Kreatif (LPK), Teater Langkah dan Lab. Pauh 9. No Hp/Wa: 08992671958, foto diri.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*