Topbar widget area empty.
Bilik Bilik Rindu Bilik Bilik Rindu Tampilan penuh

Bilik Bilik Rindu

Cerpen Pauli Anggraini

 

 

Gambar penuh memori.  Wajah teduh penuh perjuangan, sang petarung sejati kehidupan, dialah mamak. Jika menceritakan mamak, maka akan kuceritakan hal yang paling menarik dari mamak. Aku ingat sekali, ketika usiaku delapan tahun saat itu, aku dan mamak makan pada salah satu warung pinggir jalan. Satu porsi untuk dua orang. Saat itu aku tak terlalu paham dengan apa yag terjadi. Apakah mamak punya cukup uang hari ini? Punya uang untuk besok? Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran tentang hal itu. Saat itu mamak hanya makan beberapa suap, sedangkan sisanya aku yang menghabiskan.

 

“Makanlah. Tubuhmu masih cukup kecil saat ini, jadi harus makan banyak agar cepat besar.” Aku hapal betul kalimat yang sering keluar dari mulut mamak, kalimat yang terlalu sering mamak ucapkan.

 

Kilas balik masa kecil tergambar jelas saat menatap raut wajah mamak. Wajah yang kini keriput, gigi yang mulai tanggal, dan rambut yang telah berubah warna menjadi putih. Sosok mamak menggambarkan wanita kampong Sepuh yang lebih senang bertelanjang kaki, memakai kaos tua, bahkan kaos bekas partai serta jarik panjang yang telah beratus kali dicuci kemudian dipakai kembali.

 

Aku hanya ingin pulang saat ini, memeluk mamak dan menyorakkan kemenangannya atas babak kehidupan yang telah mamak lalui dalam hidupnya sendiri. Mencium kakinya yang retak karena lelah berjalan untukku. Perlahan angin udara kota bertiup, mataku terpejam.

 

Wanita kampong tanpa ijazah sama sekali dalam hidupnya. Mamak buta huruf, hanya mengenal angka dalam pecahan uang. Mamak biasa meniup corong agar api membara di tungku, menimba air dan memikulnya berkilo-kilo meter jauhnya tanpa alas kaki, namun tak terbiasa dengan keramaian. Mungkin, kehidupan desa dan hutan  telah menjadikan mamak lebih banyak memahami tanpa harus berkoar riuh.

 

Jalanan setapak jauh ke ujung desa biasa mamak tapaki. Sunyi. Hanya ada suara alam, dan gemercik air dari parit kecil yang biasa dipakai warga untuk mencuci. Tapi pagi kemarin, mamak jatuh tepat di pinggir parit saat selesai mencuci. Tidak ada warga yang tahu. Mamak seorang diri terseok-seok mengangkat tubuh tuanya. Meringsut naik ke rerumputan sembari mengurut kakinya. Sampai matahari hampir tergelincir barulah ada wak Kasiyem, tetangga mamak yang baru pulang menderes hendak mencuci kaki di parit, tanpa sengaja melihat mamak terkulai sendirian. Barulah kemudian wak Kasiyem beranjak dari parit membopong mamak.

 

Dua belas digit angka masuk pada layar telepon genggamku. Nomor tanpa nama. Telepon diterima. Durasi tiga menit percakapan lebih banyak aku sahut dengan kalimat iya. Telepon ditutup. Air mata tumpah. Photo mamak telah jatuh. Dan aku pun segera pulang ke rumah mamak.

***

 

Gubuk tua. Dinding tepas, berlantaikan tanah, beratapkan rumbia. Rumah yang kini sedikit lebih ada perubahan dengan penerangan listrik. Mamak tergolek lemah pada dipan tua.

 

“Mamakmu jatuh, Ra. Wawak nengoknya semalam sore, rupanya dia udah jatuh sejak pagi.” Wak Kasiyem keluar dari dapur mamak, membawakan teh hangat untukku.

 

Mamak hanya diam. Tidak menjelaskan apa-apa. Mengutarakan rindu juga tidak. Dua hari waktu mengunjungi mamak. Mengulik bilik-bilik rindu akan sosok mamak.

 

“Kau pulanglah. Mamak akan baik-baik saja. Mamak ini orang kampong. Sakit kek gini, biasa untuk mamak. Kesempatanmu untuk belajar walaupun kau harus membagi waktu dengan bekerja adalah hal langka untuk orang kampong macam kita.”

 

Ini kali kesekian mamak selalu berujar demikian. Bilik-bilik rindu harus segera ditutup. Nyaris bertahan dalam masa perjuangan dalam lakon kehidupan. Sepi terasa memburu walau mamak menemani, dalam hidupku. Melihat mamak dalam kesedirian penuh kesunyian adalah kesedihan tersendiri.  Meninggalkan mamak berkilo-kilo jauhnya umpama merajut hiasan kerinduan sepanjang hari, merindukan hadirnya dalam gelapnya malam penuh tanda tanya.

 

“Mamak sudah biasa, Ra. Jatuh ini bagi orang kampong macam mamak, cuma luka kecil. Kau pulanglah. Mamak akan sembuh dalam dua atau tiga hari lagi.” Mamak mengurut kakinya, tidak memandang wajahku.

“Sungguh, mak. Aku tidak akan tenang meninggalkan mamak sendirian, kesepian dalam keadaan sakit seperti ini.”

“Mamak tak pernah sendiri. Mamak biasa ke hutan mencari pakis, menderes pokok karet, mencuci di sungai. Kau tahu, di sana banyak makhluk hidup lainnya. Apa mamak masih kau anggap sendiri?”

“Tapi pekerjaan kampong macam mamak itu tak cocok untukmu. Biarlah mamak memegang cangkul, pisau deres, dan kawan-kawannya. Tapi kau, kau harus memegang pulpen, memegang komputer. Jangan! Jangan sampai kau bertakdir sama macam mamak.”

“Tidak ada yang sendiri di dunia ini, mamak selalu beriringan dengan cahaya. Yakinlah, mamak akan tetap baik-baik saja.”

 

Menjawab ucapan mamak tidak akan pernah membuatku menang. Jika mamak berkata demikian, itu artinya esok aku harus benar-benar pulang.

***

 

Telepon genggam berdering. Telepon di angkat. Hanya beberapa menit, air mata telah tumpah, lutut yang bergetar, dunia menggelap.

 

“Mamak mu meninggal Ra… selepas subuh tadi.”  Telepon ditutup.

 

Hampa, hilang jalan, bahkan cahaya yang selalu mamak katakan kini hilang.

 

Aku pun tenggelam dalam duka.

 

 

Pauli Anggraini. Lahir di Kuala, 17 Nopember 1998. Mahasiswi semester 8  STAI JM Tanjung Pura, Sumatera Utara. Peserta Kelas Cerpen Apajake Academy Angkatan I.

 

Photo by Andrew Neel from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: