Topbar widget area empty.
Di Negeri Dongeng Di Negeri Dongeng Tampilan penuh

Di Negeri Dongeng

Puisi Firman Wally

 

 

Firman Wally

PESTA KELUARGA

 

Senja itu ada sekumpul anak-anak berlari di bibir pantai

Mereka tertawa suka-suka paling damai, paling ramai

Sedangkan ibu sedang menangkap siput yang melata

untuk perayaan pesta makan malam di meja makan bersama keluarga

 

Hari mulai hitam

Ayah pulang dari lautan menuju teluk

Setelah seharian berpeluk dengan percikan ombak

Di perahu ayah, ikan-ikan melopat ke segala arah

Darah-darahnya melimpah berkah

 

Sepulang ke rumah

Siput dan ikan-ikan sudah siap dengan segala aroma

wangi kemangi di atas meja paling sedap

 

Pesta perayaan makan malam pun akan segera dirayakan

dengan riuhnya doa dari sapasang keluarga

 

Tahoku, 21 juni 2020

 

 

 

 

Firman Wally

NELAYAN TUA

 

Setelah seharian sang nelayan tua berjibaku

dengan terjangnya gelombang

Perahunya didayung pelan-pelan

menuju tanjung tempat ia tinggal sedari remaja

 

Sedari remaja sang nelayan tua itu melabukan nasibnya di atas permukaan

menggantungkan takdirnya pada tali senar yang menghasilkan surga, kehidupan

 

Sang nelayan tua itu

Tidak pernah merasakan hangat dan dinginnya bangku sekolah

Akan tetapi dia bisa menjadi guru untuk ikan-ikan

cara menghasilkan kehidupan

 

Sedari dulu

Nelayan tua itu

Tinggal di tanjung tak berpenghuni

Dia ditinggal mati istrinya yang terkasih

Dan kini dia hanya sebatang kara

ditemani hari-hari yang sepi

 

Tahoku, 21 juni 2020

 

 

 

 

Firman Wally

DI NEGERI DONGENG

 

Kupandang terjang gelombang

Dari ujung pohon ketapang

Dari biru dadanya ada seorang nelayan

Hilang arah, di daratan mana perahunya akan menuju?

 

Angin begitu kuat mematahkan layarnya

Perahu melenggang patah semang

Lautan penuh darah

Lautan penuh air mata

Aku pun terengah-engah satu arah

Di mana nelayan itu berada?

 

Kini nelayan itu tenggelam

di negeri dongeng

yang selalu diceritakan ibu

menjelang tidur dalam pelukan ibu paling teduh

 

Tahoku, 21 juni 2020

 

Firman Wally. Nama pena firmanwally02. Pria kelahiran Tahoku 03 April 1995. Alumnus UNPATTI  jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. Ia merupakan alumnus SD Inpres Hila, SMP N 1 Leihitu dan SMA N 1 Leihitu.  Puisi-puisinya sudah termuat di berbagai antologi  bersama,  seperti Kutulis Namamu di Batu, Puisi Negeri Sawit, Gus Punk, Sajak-Sajak Pahlawan, Bulan-Bulan Dalam Sajak, Kita Adalah Indonesia Seri 2, Dongeng Nusantara Dalam Puisi, Menenun Rinai Hujan Bersama Eyang Sapardi, Tanah Bari, Pasaman, Pendemi Puisi yang di selenggarakan oleh DAPUR SASTRA JAKARTA,  Corona mencatat peristiwa negeri bersama LUBUNG PUISI SASTRAWAN INDONESIA VIII, sebagai pemenang kedua dalam lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh PAPARISA SASTRA NUSA INA, puisi-puisinya pernah di muat redaksi APAJAKE, Salmapublishing, dan majalah online Poros Timur. Kini aktifitasnya sehari-sehari hanyalah menulis. ig: firmanwally02

 

Photo by Sirikul R from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: