Topbar widget area empty.
Eyang Sapardi penyair-sapardi-djoko-damono Tampilan penuh

Eyang Sapardi

Puisi Firman Wally

 

 

DI PANTAIKU

 

Di pantaiku

Laut begitu luas membiru

Menyimpan seribu rindu

Dalam pelukan ibu

 

Di pantaiku

Ayah selalu berdansa dengan gelombang

disertai angin kencang

Sebalum petang memanggil pulang

 

Di pantaiku

Sepotong kayu mengembara

Perihal ayah selalu berlayar dengan sabar

Selambar daun menepi di bibir pantai

Perihal ibu menanti ayah pulang dari laut tinggalkan sepi membawa sedikit rezeki

 

Di pantaiku

Orang-orang selalu ramai

Saling bersahutan di penghujung meti

 

Tahoku, 20 Juli 2020

 

*meti: air laut pasang surut

 

 

 

 

DI BAWAH POHON PALA

 

Di bawah pohon pala

Daunnya yang kering berjatuhan

Meninggalkan ranting menjadikannya kenangan

 

Di bawah pohon pala

Ranting-ranting sendirian

Tanpa sedikitpun bunga mekar nan jelita

Pohon pala itu kini berbau kesepian

 

Di bawah pohon pala

Yang tersisah hanyalah kenangan

Dan jejak-jejak tanah berlubang bekas kaki ayah

 

Tahoku, 20 Juli 2020

 

 

 

 

EYANG SAPARDI

 

Setelah kepergianmu

Air mata bercucuran deras

hinggap di pipi, bermuara duka

 

Kepergianmu kali ini menyisahkan luka mendalam

Sajak-sajakmu yang baru

kini tinggal rindu, tak lagi kutunggu

 

Sejak kepergianmu eyang Sapardi

Sajak dan namamu abadi

 

Tahoku, 20 Juli 2020

 

 

 

 

AKU INGIN

 

Aku ingin menjadi rindumu yang puisi

selalu di kenang abadi

 

Menjadi kopi

Walaupun ada pahitnya tetap saja dinikmati

Lalu katamu; hadirku mengalir inspirasi

 

Aku ingin

Menjadi cita-citamu

yang selalu diperjuangkan sampai kapanpun itu

 

Tahoku, 20 Juli 2020

 

 

 

 

LAUTAN IBU PENUH RINDU

 

Kutatap dalam lautan ibu

Di sana ayah membasuh tubuh dengan peluh

Menyanyikan lagu-lagu rindu di dalam perahu

 

Di lautan ibu penuh rindu

Ayah senantiasa memecahkan buih

Lalu menjilat lautan sebelum menepi

katanya; sebelum menikmati sedapnya daging ikan dari lautan biru

harus mau meneguk laut

yang tak kalah asin seperti rindu tak kunjung temu

 

Tahoku, 20 Juli 2020

 

Firman Wally. Nama pena firmanwally02. Pria kelahiran Tahoku 03 April 1995. Ia alumnus UNPATTI  jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. Ia pernah bersekolah di SD Inpres Hila, SMP N 1 Leihitu dan SMA N 1 Leihitu.  Puisi-puisinya sudah termuat di berbagai antologi  bersama,  seperti Kutulis Namamu di Batu, Puisi Negeri Sawit, Gus Punk, Sajak-Sajak Pahlawan, Bulan-Bulan Dalam Sajak, Kita Adalah Indonesia Seri 2, Dongeng Nusantara Dalam Puisi, Menenun Rinai Hujan Bersama Eyang Sapardi, Tanah Bari, Pasaman, Pendemi Puisi yang di selenggarakan oleh Dapur Sastra Jakarta,  Corona mencatat peristiwa negeri bersama Lubung Puisi Sastrawan Indonesia VIII, dan Negeri Poci 10 “Rantau”, dan Puisi Dua Larik Kata Kita.  Sebagai pemenang kedua dalam lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh Paparisa Sastra Nusa Ina, puisi-puisinya pernah di muat apajake.id, Salmapublishing, Poros Timur dan Sastra Banaran Media. Kini aktifitasnya sehari-sehari hanyalah menulis. ig: firmanwally02.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: