Topbar widget area empty.
Kematian Seorang Perantau Kematian Seorang Perntau Tampilan penuh

Kematian Seorang Perantau

Puisi Raihan Robby

 

 

 

PADA SEBUAH DERMAGA

-Naf

 

Demikianlah kita tiba di ujung sebuah dermaga

di mana hujan bertabrakan dengan air laut

dan lambaian tangan berbalas kecupan

tapi siapa yang bisa menahan kepergian kapal menuju ke lenggang luas

mengabarkan gema ombak dari suara pengumuman

Kapal akan berangkat sebentar lagi

dan kita masih belum tahu diri

Demikianlah kita tiba di sini di sebuah dermaga

membatasi pertemuan dengan perpisahan yang jauh

barangkali takdir adalah laut itu sendiri

mempertemukan kita sepasang ikan asing terjerat di jala seorang nelayan

berharap bisa tinggal dalam aquarium yang cantik

bebatuan koral putih dan filter air bersih

Demikianlah kita memaknai kehidupan

lahir dalam dunia yang tidak kita mengerti

jatuh cinta dalam cara yang tidak kita mengerti

dan berakhir dengan kehilangan yang tidak kita mengerti

Kapal akan berangkat sebentar lagi

dan kita masih belum tahu diri

 

 

 

 

MUSIM RAJUT

 

Biar kurajut baju hangat untukmu, di suatu sore kau berkata, kau ingin sekali pergi dari kota

ini, pergi dari diriku ini. Kau ingin menuju tempat

di mana apel tumbuh dengan merah menyala di malam hari, memancing ikan di danau yang

beku hingga kau tak perlu lagi membersihkan sisiknya yang berkilauan.

Kau bisa langsung memakan apa saja yang ada di hadapanmu bahkan kau bisa mencicipi

kerinduanku yang tumbuh subur bersama

harapan para buruh menanti disahkannya undang-undang ketetapan kerja.

Sebuah negeri yang jauh yang hanya bisa dilewati oleh kapal terbang

atau gerbang dimensi yang membawa ragamu dalam perjalanan astral

dan membelah dirimu di sini dan di sana dengan bantuan mesin-mesin.

Sebuah negeri asing yang tak mengenal apa itu air mata

atau kebahagiaan orang lain.

Sebuah negeri terselubung yang terus meraung memintamu pergi dari diriku

Biar kurajut baju hangat untukmu

di negeri jauh itu kau belum mengerti matahari memihak ke kulit siapa

atau apakah hujan dengan tega membasahi memori-memori dingin di pundakmu

semua orang di sana bernapas asap panas dan kau lebih banyak menghirup dingin

musim bisa menggugurkan dedaunan menumbuhkannya kembali

membekukan besi-besi mencairkannya kembali

Biar kurajut baju hangat untuk kepergianmu yang gigil

meski dalam kedinginan yang asing kau akan tetap akrab dengan hangat pelukanku

 

 

 

 

KEMATIAN SEORANG PERANTAU

 

Ketika ia memasuki suatu kota

ia melihat gedung-gedung sebagai nisan

yang tinggi dan megah

hanya tersisa bau anyir darah

untuk keluar berlari menjauhi para peziarah

yang menuangkan anggur merah

seserahan kepada penghamba ketakutan

dan keinginan untuk cepat kaya atau dipandang bahagia

kematian seorang perantau

melarung ingatan tentang kampung halaman

yang ia kubur ketika memasuki kota ini

sebagai makam tanpa nama yang ia gali sendiri

dan kota tetaplah barisan nisan-nisan yang tinggi

tempat mayat-mayat menyerah pada kehidupan

 

 

 

 

PADA SEBUAH KEHILANGAN

-naf

 

Bayangkanlah suatu hari yang dipenuhi hujan

genangan, kobangan, aliran sungai dan kali

darah di tubuhmu hingga air mata menggambar semua kesedihan ini

dan partikel-partikel air menyusun komponen tubuhmu

hanya satu yang terlewat, alismu. Tak pernah ada yang bisa menggambar alismu

dengan sempurna, jika tuhan diminta untuk menggambar alismu kembali

tangannya akan keram dan luluh lalu jatuh menjadi hari yang dipenuhi hujan

Kau terbangun di suatu hari itu

dan mendapati diriku berada di sampingmu di atas ranjangmu

yang basah oleh keringat dan mimpi buruk

apa yang akan kau lakukan? Memelukku dan mencoba tertidur kembali

meski matamu terang benderang, atau mengambil pisau yang kau simpan

di balik bantal empukmu dan menghunjamkan pisau itu tepat di dadaku saat aku tertidur

dan memimpikanmu

Dan di akhir dari suatu hari itu

di malam dari suatu hari itu kau membiarkan para gelandangan tidur di tubuhmu

menanam lampu-lampu kota yang remang memberikan banyak tempat untuk kekecewaan

dan di ujung gang, di ujung dari malammu itu

kau menitipkan kecupan perpisahan

pada hujan yang tak mampu menampung alismu, dan pisau yang menjaga tidurmu dari

pelukanku

kau menitipkan kepedihan pada sebuah kehilangan yang harus kuterima

dengan dada terbongkah dan alis yang terbakar

 

 

 

 

MUSA

 

Tongkat takdirmu membelah laut di bibir ibuku

mengutuk kamarku menjadi kapal pecah

yang menghempaskan ular dan raja-raja masa lalu

tenggelam ke dalam imanku

 

Raihan Robby lahir di Jakarta, saat ini sedang menetap di Yogyakarta, menjadi mahasiswa Sastra Indonesia di UNY, dan sedang sibuk menjadi Kepala Suku Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia, cukup sering memenangkan lomba cipta puisi dari tingkat Regional hingga Asia Tenggara, selain menulis puisi ia juga menulis cerpen, naskah drama dan bermain teater. Puisi-puisinya dapat ditemukan di Majalah Mata Puisi edisi bulan Mei, haripuisi.com, dan kibul.in. Sesekali membuat project puisi sederhana di Instagramnya @raihanrby

 

Photo by João Cabral from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: