Topbar widget area empty.
Tangis Laut cover puisi mauludin Tampilan penuh

Tangis Laut

Puisi Maulidan Rahman Siregar

 

 

FLU BERAT PAGI INI

 

seseorang diam di dalam jantungku

menyebutkan doa baik, merapalkan kembali

masa lalu, seperti kunci motor hilang dan

ternyata di dalam saku, ia kemudian

mengucap i love you dan menghidangkan

secangkir teh. sehangat matahari

maukah kau menjadi istriku

wahai diriku sendiri?

 

2020

 

 

 

 

Maulidan Rahman Siregar

TEAMARAM /4/

buat; calico

 

aku datangi kamar lusuhmu dengan diri yang

temaram, mengajakmu ke tepi peradaban

menghayati betul bunyi titik air pendingin

ruangan, hujan di luar, dan bebunyian musisi

kenamaan, agar purna kilau tubuhmu, agar

hilang keluh kesahmu

kilaumu meleburkan aku, dan mendatangi

kamar lusuhmu untuk kesekian kali:

adalah mati berkali-kali

aku menikmati kenikmatan demi kenikmatan itu

sambil mencari playlist lagu terbaru

kutangkap kau dalam bunyi, kuhirup kau

dalam sunyi, lebur berkali-kali lagi

tubuh yang temaram telah redup,

kilaumu membunuhku berkali-kali

dan setiap kematian, tetap saja aku mendengar,

“hai temaram, selamat datang

terima kasih telah datang.”

 

Maret, 2019

 

 

 

 

Maulidan Rahman Siregar

TANGIS LAUT

; auliajais

 

kepadamu yang berdiam di balik laut

seekor burung di timur jauh

mengirim kata-kata yang terbuat dari

telepon genggam

bergetar jantung, bergetar

“kau sedang berulangtahun

kau ingin ombak laut” katamu

tapi yang ada padaku hanya bulir cahaya

dan setiap kata semoga dalam setiap doa

yang kuberi hanya kata-kata,

kau tahun depan ulang tahun juga

dan sudah bisa membelah laut

kita akan bikin pallubasa raksasa

untuk seluruh manusia

yang menangisi laut

yang surut

yang lari ke darat

bagaimana? kau sudah meniup lilin?

 

2019

 

 

 

 

Maulidan Rahman Siregar

MEREKA BERTANYA

 

mereka bertanya

entah untuk apa

rasanya seperti

erang di kamar istri

ketika menanak pagi

aduhai, mati!

bertekuk kepada maut

elang di dalam kabut

rasanya seperti

tanya dalam kepala

aduhai, mati!

nama-nama di mana-mana

yang merasuk, diri

apa? ha? apa?

 

2019

 

 

 

 

Maulidan Rahman Siregar

OKE

untuk: Ayu Harahap

 

Mawang dan Via Vallen bercinta di kepala,

merawat orangtua

Jason Ranti ditabrak abri juga akhirnya

lalu ingin sembunyi dengan album baru?

Sind3ntosca dan Pidi Baiq telah pulang haji

Mama Dedeh masuk dapur rekaman, ya Rabbi

Joko Pinurbo menjahit celana Hasta

di bait-bait

paskah puisi ini, kekasih?

Jeli Manalu telah jadi jeli betulan

sejak bergenit bersama Eka, Saut

dan kerabatnya

di sana, di pusat peradaban

orang-orang sudah menulis puisi

di batu-batu

sama dengan

Fadlizon juga bikin puisi setiap hari

dipuja dan ditangisi setiap hari

Iksan skuter bingung sejak bait pertama

ya Rabbi, dia musisi!

hari ini kau puisi

maksudku, hari ini kau dilahirkan kembali

menjadi bidadari telanjang tanpa doa dan dosa

tapi sialnya, kau masih di bumi,

tanggal berapa sekarang?

kabarnya mahasiswa masih mau bakar ban, ya?

ibu dan ibukota tertinggal dalam doa

sujud kali ke berapa kita temui mereka?

kau di belakangku, ya?

menyebut aamiin paling serius

dengan tajwid yang baik dan benar

i nya dua

ehem

 

2019

 

Maulidan Rahman Siregar, suka bikin arsip. Belum gemar membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*