Topbar widget area empty.
Tiga Catatan Dari Hujan Yang Resah Tiga Catatan Tentang Hujan Tampilan penuh

Tiga Catatan Dari Hujan Yang Resah

Puisi Dhery Ane

 

 

Di Halaman Lima Belas

 

Di halaman 15 puisi ini

Ku lukis petrichor di ujung ingatan

Yang tercium setelah hujan reda. Setelah malam demam jadi pagi yang genit

Saat parasku  menggigil di sepertiga horizon

 

Kadang masa lalu tentangmu terlintas

Wangi petrichor kadang terlupakan

Kadang aku mengerti memar luka dihatiku. Kadang menungu itu sakit

Sakit itu rumit. Tapi rindu tak ingin tahu

 

Petrichor adalah percikan warna-warni

Dijatuhi hujan lalu menusuk dalam sukma

Mengobati jiwa yang gemas dipenuhi luka. Mengitari ruang dan waktu

Menambah gema tentang arti kehidupan

 

Di halaman 15 puisi ini

Ku lukis  petrichor serupa muara matamu

Dengan  doa  yang selalu mengaksara. Dengan cinta yang senantiasa berkecambah

Semoga imanmu teguh oleh aminku di seberang sini

 

Kupang, 2019.

 

 

 

 

Tiga Catatan Dari Hujan Yang Resah 

 

/1/

Di awal hujan yang resah

Aku dengan sisa-sisa luka  bertandang ke tungku api;

Menikmati kopi dengan aroma lapang

Dan merasakan kau yang berdebar

Melupakanku pelan-pelan.

 

/2/

Di awal hujan yang resah

Asap dapur yang alpa dalam ingatan

Hingga menyiksakan aroma sepi dalam bilik hati

Dari mulut seorang lelaki yang kehilangan diri

Kurapalkan doa-doaku yang tulus

Agar bening matamu dan hangat aliran darahmu

Senantiasa memendam cerita kita.

 

/3/

Adalah sukacita duduk di tungku api untuk mematangkan segala harapan

Karena mengasihimu jauh lebih nikmat

Dari seteguk kopi hangat,

Demikian kulesapkan segala rindu ini

Demi tubuhnya kau sebagai benih jagung paling unggul

Di awal hujan yang resah.

 

Kupang, 2019

 

 

  

 

Menunggumu Di Padang

 

/1/

Menunggumu di padang tempat dimana kau lesapkan senyummu yang gamang. Angin senja berhembus menenggelamkan liang luka di dadaku. Dan kesetiaan adalah mawar terahkir yang  tumbuh dalam dirimu meski kutahu di  taman hatimu tumbuh pohon-pohon lontar dan lumut yang di ujung rongganya selalu lupa kaubersihkan

Tapi. Aku tak akan diremas kesedihan karena jiwaku yang sudah tuntas menggembara telah singgah di terminal hatimu. Selamanya. Selamanya

 

/2/

Maka dari arah barat. Matahari belum mengusap matanya dan merenggangkan tubuhnya. Dari balik padang kau muncul bermahkotahkan senyum dan tawa. Di ujung saku bajumu kau sisipkan Alkitab sebagai peluru paling jitu yang kau pakai untuk menaklukan Ular dan tipu daya beelszebul dan kau pun berlari lalu memeluk tubuhku yang pasrah berulang kali. Maka, di dada ini kupaham: pertemuan membuat kita begitu terperangkap di luar badai, hujan, cuaca, dan amarah

 

Kupang, 2019

  

 

 

 

Eden, Suatu Malam

 

Di lembah Eden yang hijau

Tuhan meniduriku dengan aroma udara malam yang dingin

Diambilnya seluruh sepi dari tulangku

Dan ditiupkannya rindu ke dalam dadamu

 

Dibalik pohon pengetahuan

Tuhan mengampuni deru separuh dosaku

Dan ke dalam bening sungai Tigris

Tuhan menghanyutkan segala sesal dari binar matamu

Di antara kabut malam yang gamang

Tuhan berkata

“semua baik adanya”

 

Kupang, 2019.

 

Dhery Ane bernama lengkap Aloysius Hesronius Dhery. Lahir di Seon, Malaka, Ntt pada 15 Apri 1998. Ia merupakan alumni Sma Seminari Lalian Atambua. Sekarang, ia mengenyam pendidikan  sebagai mahasiswa semester IV di Fakultas Filsafat Universitas Katolik  Widya Mandira Kupang. Ia menyukai sastra, musik, dan sering tampil dalam berbagai acara sebagai master of ceremony. Ia bergabung dalam komunitas sastra filokalia, dan aktif menulis cerpen, opini, dan puisi di sejumlah media darling. Karya puisinya diterbitkan dalam buku antologi Ide Ide Cerdas (2018) Jawara Hati (2018), oleh penerbit Antero Literasi Indonesia, Tirai Warna (2019) oleh penerbit Mandala, dan Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Eyang Sapardi Djoko Damono. Ia dapat dihubungi melalui @dhery.98

 

Photo by Lum3n from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*